Saksikan Awal Dunia Musik Baru bersama Goodnight Electric

4620

Entah kenapa, saat mendengar album ini sama sekali tidak membayangkan Goodnight Electric yang lama. Malah yang terbayang adalah andai Rumahsakit era Andri Lemes membuat album ketiga, jadinya akan seperti ini.

[Tertawa] Nah, balik lagi ke awal. Gara-gara yang Tipe-X yang dulu itu, gue takut bikin lagu pakai bahasa Indonesia. Sebenarnya pingin, tapi enggak berani. Mungkin karena vokal gue rendah. Pas memutuskan bikin “VCR” itu pertama kali pakai bahasa Indonesia, gue lumayan mencari bagaimana cara nyanyinya supaya orang enggak terjebak dibilang kayak Tipe-X. Pas bikin demo “VCR”, anak-anak kayak, “Hampir mirip tarikannya Upstairs, kayak Jimi!” [Tertawa] Soalnya kalau new wave jaman dulu kan rata-rata berat, dan kalau diterapkan memang sekilas terdengar kayak Jimi. Karena gue lagi pingin gabung indie pop dan Britpop, gue coba tarikannya indie pop dan Britpop. Gepeng bilang, “Anjing, kayak Rumahsakit!” [Tertawa] Gue ketawa-tawa, tapi memang enggak gue pungkiri kalau Rumahsakit dan Pure Saturday adalah band-band yang memengaruhi gue juga. Gue enggak masalah.

Sekarang “Saturn Girl”.

Dari anak gue juga. [Tertawa] Ada baju yang dia suka pakai. Gambarnya Saturnus. Itu trigger awalnya. Kayak “Misteria”, gue masih belum bisa menulis lagu tentang anak-anak gue [tertawa], jadi akhirnya gue larikan ke yang ada di “Saturn Girl”. Pas lihat baju anak gue yang cewek yang ada gambar Saturnus, gue perhatikan planet Saturnus memang paling unik di solar system. Ada cincin-cincin, tapi terpisah. Itu jadi inspirasi gue, jadinya lebih kayak cerita pertemanan. Yang gue tulis itu lebih kayak yang lingkar luar itu teman lo: “Gue melingkari lo, gue enggak akan ke mana-mana, selalu ada buat lo. Lo bisa lempar semua keluh-kesah lo.”

Konser Goodnight Electric di auditorium Ruang Rupa

Kocak sih, kenapa bisa menulis tentang yang kayak itu sekarang. Kalau di album-album awal banyak yang nonsense. [Tertawa] Tadinya mau “Gadis Saturnus” tapi kayaknya enggak masuk. [Tertawa] Bisa saja, tapi kata Gepeng, “Jangan!”

Apa evaluasi dari pertunjukan terakhir yang juga pertunjukan perdana dengan formasi yang lebih lengkap ini?

Secara keseluruhan seru. Bisa memecahkan solusi gue yang selama ini sebenarnya sudah bosan banget sama Goodnight [tertawa] pas ada format dengan Vincent dan Hans. Terus, kebetulan orang-orangnya menarik, dua-duanya. Sebenarnya gue pingin seluruh set dengan mereka, cuma karena keterbatasan waktu cuma bisa lima lagu. Nanti mungkin semua lagu bakal kami aransemen lagi, tapi yang sekiranya masuk akal. Jadi mungkin lagu-lagu di album pertama dan kedua enggak akan sebanyak itu.

Bagi Anda pribadi, album pertama dan kedua masih relevan secara musik dan tema? Atau sekarang cuma membawakannya untuk menyenangkan penonton?

[Tertawa] Itu sudah enggak relevan, kalau buat gue. Kadang-kadang gue sama anak-anak yang “Kok bisa gue bikin album begini?” [Tertawa] Mereka suka ketawa-tawa. Ya, gue enggak masalah. Itu kan kayak jejak rekam karya lo saja. Misalnya lo pelukis yang surealis, tiba-tiba sekarang abstrak. Gue enggak masalah kalau dulu musiknya synth pop banget dan sekarang bergeser ke pop. Gue melihat masih ada benang merahnya. Aman, lah. Realistis.

Pokoknya, memang sudah enggak terlalu relevan buat gue. Dari lirik, enggak semua lagu, tapi ada beberapa yang sudah bukan gue. Tapi kalau kayak “Rocket Ship Goes By”, makes sense dimainkan. Itu masih mewakili banget. Apalagi “Rocket Ship” kayaknya memang harus dimainkan. “Am I Robot?” sudah enggak relevan [tertawa], cuma karena sudah klasik, di live-nya Goodnight harus dimainkan.

1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Setelah dikenal sebagai personel Monday Math Class, Priscilla Jamail tahun ini mengagetkan jagat ‘perskenaan’ dengan muncul kembali bersama Goodnight Electric. […]