School of Rock: Menengok Kampus-Kampus Pencetak Rock Star

Aug 16, 2018

Universitas Padjadjaran (Unpad)

Unpad Jatinangor. Foto: https://tirto.id/suka-duka-mahasiswa-di-jatinangor-cqnF

Meski Pidi Baiq yang mantan dekan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu  bilang “Sudah Jangan ke Jatinangor”,  nyatanya Jatinangor dengan Universitas Padjadjaran sebagai episentrumnya kini menjadi sirkuit musik yang membuat Bandung tetap mampu melanjutkan tongkat estafet pasca gempuran Mocca dan The S.I.G.IT di medio 2000-an. “Jatinangor yang sekarang scene-nya paling menggeliat di Bandung. Malah ITB yang saat ini cuma keliatan dari event Pasar Seni-nya saja ,” jelas Idhar Resmadi, pegiat kancah musik independen Bandung, dalam nada kelakar. Mulai dari Bottlesmoker, Unpad kini memasok nama-nama seperti Oscar Lolang,  Sky Sucahyo juga The Panturas. Nama terakhir adalah pengusung genre surf rock yang saat ini masih terhitung langka dan sudah mencecap panggung salah satu festival musik paling hype saat ini, We The Fest. Unpad juga meletakkan dasar musik folk lewat sosok Abah Iwan Abdurrahman dan ikut memberi pondasi pergerakan musik independen lewat Yukie Martawidaja di PAS Band serta Arief Hamdani gitaris Pure Saturday.

Satu hal yang membuat kancah musik Unpad berbeda adalah adanya inisiatif untuk mendokumentasikan dalam wujud webzine yang dikemas apik lewat inisiatif anak-anak Komunitas Musik Fikom, Gilanada. “Mereka sudah punya kesadaran untuk merekam dinamika di scene. Sebagai media kampus mereka sudah mampu menembus reportase festival musik dalam dan luar negeri,” papar Idhar.

 

Institut Teknologi Nasional (Itenas)

Itenas. Foto: https://lp2m.itenas.ac.id/

Itenas beruntung punya mahasiswa-mahasiswa seperti Arina Epiphania, Riko Prayitno, Toma Pratama, dan Indra Massad yang membuat kampus swasta yang ada di Cibeunying, Bandung ini bias memulihkan nama baik di pemberitaan media pasca kasus video esek-esek yang menggegerkan Indonesia di awal dekade 2000-an. Mocca pertama kali menarik perhatian lewat single “Me and My Boyfriend” di album  kompilasi Delicatessen (2002). Anak-anak desain produk ini kemudian menjadi representasi baru Bandung lewat debut album My Diary rilisan Fast Forward tahun 2002. Album ini seperti magnum opus bagi band dengan diskografi lima album studio ini. Video klip “Me and My Boyfriend” yang digarap Gustaff dari rumah produksi Cerahati meraih penghargaan Best Video di ajang MTV Indonesia Video Music Awards 2003 sementara albumnya masuk dalam 150 Album Indonesia Terbaik dari majalah Rolling Stone Indonesia.

Mocca. Foto: Wikipedia

Selain Mocca, kampus ini juga punya La Luna yang dibentuk tiga orang mahasiswa Arsitektur: Boyan, Uti, dan Erwin yang kemudian mengajak Manik, adik kelas Boyan semasa sekolah di SMAN 1 Bandung. Manik sempat mengisi vokal latar untuk lagu “Pathetic Waltz” milik Pure Saturday. Tahun 2001 album perdana Penggalan Kisah Lama dirilis oleh label Bulletin records dengan hits single berjudul sama yang lumayan kencang di airplay radio dan televise. Lagu ini lalu mendapat penghargaan Lagu & Penyanyi Jazz Terbaik pada penghargaan AMI Sharp 2001 meski menyisakan pertanyaan kriteria musik jazz.

1
2
3
4
Penulis
Fakhri Zakaria
Penulis lepas. Baru saja menulis dan merilis buku berjudul LOKANANTA, tentang kiprah label dan studio rekaman legendaris milik pemerintah Republik Indonesia dalam lima tahun terakhir. Sehari-hari mengisi waktu luang dengan menjadi pegawai negeri sipil dan mengumpulkan serta menulis album-album musik pop Indonesia di blognya http://masjaki.com/

Eksplor konten lain Pophariini

Lalahuta Rilis Ulang Lagu Sheila On 7 Dan… untuk Proyek Album Mini Baru

Lalahuta tengah seru bernostalgia. Setelah membawakan ulang lagu Rio Febrian “Aku Bertahan”, kini mereka merilis ulang lagu Sheila On 7 “Dan…” hari Jumat (14/06).    Vokalis baru Lalahuta, Kevin Widaya mengiyakan band menghadirkan nuansa …

D’MASIV – 8

Dalam album 8, D’Masiv kembali ke warna yang sudah dikenal sebelumnya dan kali ini dengan pengaruh soft-rock dan pop-balada 80/90an yang jitu