School of Rock: Menengok Kampus-Kampus Pencetak Rock Star

Aug 16, 2018

Ada tiga hal esensial bagi mahasiswa yang membedakan hidupnya dengan pelajar-pelajar di bangku sekolah: buku, pesta, dan cinta. Buku jadi lambang mahasiswa sebagai agen intelektual yang (harapannya) mampu memberi perubahan di kehidupan masyarakat. Pesta adalah simbol aktualisasi agar tidak melulu hidup di menara gading kehidupan akademik. Dan cinta adalah fitrah.

Beberapa kampus menjadi pengejawantahan paling sahih trinitas buku, pesta, dan cinta. Tak heran selain menelurkan intelektual-intelektual terbaik yang dimiliki negara ini, kampus-kampus berikut  juga mencetak penguasa panggung-panggung musik tanah air. Pop Hari Ini menelusuri beberapa perguruan tinggi dengan alumnus-alumnus musisi di titik penting industri musik tanah air

Institut Kesenian Jakarta (IKJ)

Foto: https://edmondcw.blogspot.com/2014/06/di-mana-anda-pada-21-mei-1998.html

Saat era pensi mencapai titik puncak di pertengahan dekade 2000-an, jebolan-jebolan dari kampus yang berada di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat ini adalah mesin penarik massa paling sukses. Mulai dari Naif, The Upstairs, White Shoes and The Couples Company, Goodnight Electric, The Adams, sampai Clubeighties. Kampus yang pendiriannya diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta paling sukses, Ali Sadikin, ini juga menjadi saksi kelahiran nama-nama yang kelak akan dikenang sebagai salah satu pionir pertumbuhan kancah musik independen dan peletak cetak biru musik indie-pop Tanah Air, Rumahsakit.

Wendi Putranto dalam artikel berjudul IKJ: School of Rock menyebut IKJ sebagai kampus yang paling banyak mencetak gembel naik kelas. Istilah ini ia ambil dari lagu lagu “Gembel Naik Kelas Dipotret Gubernur” milik kelompok Benclang-Benclung yang salah satu anggotanya adalah aktor Subarkah Hadisarjana alias Barkah. Benclang-Benclung adalah grup humor yang dibentuk tahun 1979 untuk mengikuti Festival Musik Humor Tingkat Nasional yang digelar oleh Lembaga Musik Humor Indonesia di Taman Ismail Marzuki. Anak-anak IKJ itu mendapat juara kedua. Juara pertamanya Djaduk Ferianto, kemudian dikenal lewat kiprahnya di kelompok musik Kua Etnika, Teater Gandrik, dan orkes humor Sinten Remen. Juara harapannya jatuh pada Virgiawan Listianto. Di kemudian hari dia dikenal dengan nama Iwan Fals yang sempat kuliah dua semester sebelum memutuskan mundur untuk akhirnya menjadi solois pria paling berpengaruh di Indonesia sampai hari ini.

Acara Bakar-Bakaran di IKJ. Foto: https://udadias.blogspot.com/2009/12/bakar-bakaran-2006.html

 

Universitas Gadjah Mada (UGM)

UGM. Foto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1219041917382&set=a.1219031157113.2033884.1268934465&type=3&theater

Tidak banyak unit kegiatan mahasiswa di bidang musik yang menaruh perhatian lebih pada aspek “belakang panggung”. Di antara yang sedikit itu adalah Forum Musik Fisipol (FMF) yang awalnya berdiri pada tahun 1997 sebagai salah satu badan otonom mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. “Fakultas kami hampir nggak punya produk band seperti Sastra, jadinya lebih ke memfasilitasi anak-anak yang punya band. Akhirnya kami malah lebih kuat di aspek produksi,” jelas Priambodo Adi Nugroho alias Tuki, salah satu eksponen FMF angkatan 2005-2010 yang kini bermukim di Denmark. Menurut Gading Paksi, FMF memberi pemikiran luas kalau berkarir di musik tidak harus jadi musisi. Gading mengaku belajar banyak dari FMF tentang skema produksi pertunjukan. “Konser tidak melulu di lapangan besar dengan sound dan lampu yang masif. Aku banyak belajar mengakali teknis ruang, menyulap ruang kecil jadi tempat pertunjukan yang layak dan intim,” ujar Gading  yang kini bekerja sebagai manajer teknis untuk pementasan Pappermoon Puppet Theatre dan Teater Garasi.

Beberapa event besar yang lahir dari tongkrongan di bawah pohon bodhi Fisipol UGM ini antara lain adalah Parkinsound (1998-2004) yang merupakan salah satu pembuka ajang musik elektronik skala besar di Indonesia dengan Marzuki Mohammad a.k.a Kill The DJ, Ugoran Prasad, Ari Wulu, Jompet, dan Yosef Herman Susilo  sebagai pelopornya. Pertama kali digelar di concert hall Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta, Parkinsound termasuk yang mengawali era rave party dengan mengambil venue di area proyek pembangunan Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta sampai puncaknya di pelataran candi Prambanan pada gelaran terakhirnya tahun 2004. Juga Lockstock yang terakhir kali dihelat tahun 2013. Pertama kali digelar pada tahun 2009, Lockstock yang diprakarsai mendiang Yustinus Yoga “Kebo” Cahyadi ini dimaksudkan menjadi wadah berbagi panggung bagi musisi-musisi Yogyakarta lintas genre yang selama ini kurang mendapat sorotan. Tentu saja FMF tidak melupakan khittah sebagai badan otonom musik dengan mencatatkan nama-nama seperti Melancholic Bitch juga Jogja Hiphop Foundation sebagai beberapa alumnus yang namanya terpacak besar di buku angkatan.

Lockstock Fest 2009. Foto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=184615615924&set=a.174531760924.132037.666500924&type=3&theater

1
2
3
4
Penulis
Fakhri Zakaria
Penulis lepas. Baru saja menulis dan merilis buku berjudul LOKANANTA, tentang kiprah label dan studio rekaman legendaris milik pemerintah Republik Indonesia dalam lima tahun terakhir. Sehari-hari mengisi waktu luang dengan menjadi pegawai negeri sipil dan mengumpulkan serta menulis album-album musik pop Indonesia di blognya http://masjaki.com/

Eksplor konten lain Pophariini

Spontanitas dan Eksplorasi Jadi Kunci Album Baru Sal Priadi

Mundur dari target akan beredar 2 tahun lalu, Sal Priadi akhirnya memantapkan diri untuk segera melepas album penuh kedua MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISK akhir Maret 2024. Sebelum bisa didengarkan secara penuh, Sal memberikan …

Teddy Adhitya Ciptakan Kapsul Waktu dalam Videoklip Kembalikanku

Teddy Adhitya kembali merilis videoklip baru dari album semua, semua. berjudul “Kembalikanku” via kanal YouTube teddyadhitya hari Jumat (23/02) menyusul perilisan videoklip “Seperti Setiap Hari” dan “Caraku, Caramu”.   Lagu “Kembalikanku” merupakan trek ke-6 …