313

Selamat Jalan The Godfather of Broken Heart

Didi Kempot
Selamat jalan Didi Kempot / Ilustrasi: Rio Adiwaluyo

Belum juga air mata mengering karena kepergian Glenn Fredly, Andy Ayunir, dan Erwin Prasetya, kabar duka kembali datang. Selasa (05/5), penyanyi musik campursari legendaris Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart, meninggal dunia. Lord Didi diduga meninggal dunia karena serangan jantung.

Glenn Fredly, Andy Ayunir, Erwin Prasetya, dan Didi Kempot. Semuanya adalah musisi handal yang dicintai banyak orang. Dan mereka berpulang, kepulangan itu sepertinya terlampau cepat.

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh dewasa di kultur Jawa, nama Didi Kempot tidak asing untuk saya. Sejak kecil saya sudah karib dengan tembang-tembang penyanyi yang memiliki nama asli Didik Prasetyo ini.

Kebetulan bapak dan paklik saya gandrung dengan campursari, selain Manthous, Lord Didi tentu saja masuk dalam senarai putar mereka berdua. Dari koleksi VCD bajakan Didi Kempot milik bapak dan paklik yang dibeli pas hari pasaran wage di lapak VCD bajakan Pasar Karangpandan itulah saya mengenal Lord Didi.

Baca juga:  Kilas Balik Konser dan Festival Musik Indonesia Di 2018

Melacak sejarah lahirnya musik campursari, kita bisa berkaca pada R.C. Hardjosubroto, seniman kelahiran Yogyakarta ini bisa dibilang meletakkan embrio campursari. Ia membuat seni tradisional gamelan lebih fleksibel menghadapi zaman.

Almarhum Manthous kemudian menjadi sosok musisi yang mempelopori aliran musik campursari bersama Campur Sari Gunung Kidul (CSGK) pada medio 70an. Namun, Didi Kempot lah yang bisa dibilang makin mempopulerkan campursari ke level kemahsyuran yang tak terduga sebelumnya pada era 80an, sampai sekarang.

Campursari adalah sebuah genre musik yang unik. Musik ini merupakan padu padan dari unsur karawitan Jawa dan instrumen musik modern. Ada alih wahana terjadi di sini. Di campursari, laras pentatonis pelog dan slendro dari karawitan Jawa dimainkan melalui medium instrumen modern seperti kibor, gitar, dan bass. Umumnya, bangunan musik ini kemudian ditambahi kendang di departemen ritmis, dan dua atau tiga pasang saron untuk kian menebalkan rasa njawani.

Didi Kempot mempopulerkan campursari ke level kemahsyuran yang tak terduga Dari era 80an, sampai sekarang

Dapat dibilang campursari merupakan penyederhanaan ansambel gamelan Jawa yang begitu banyak ragam instrumennya. Campursari meringkas tatanan instrumen itu menjadi lebih simple. Dalam tatanan aransemen, campursari juga menyederhanakan bentuknya, alih-alih bentuk gending karawitan Jawa semisal ketawang atau ladrang yang rumit dan sophisticated, campursari malah menyajikan bentuk musik yang bisa dibilang cukup ‘ngepop’.

Baca juga:  Rumahsakit Album Nol Derajat: Manuver Suhu Tahun 2000

Inilah kelebihan Didi Kempot. Musiknya yang bisa dibilang cukup “ngepop” namun tetap berasa njawani ini yang menjadikannya mudah diterima oleh banyak penikmat musik. Jika menelisik lebih jauh, secara spesifik penikmat musik dari kalangan menengah ke bawah.

Musik Didi khas dengan karakter cengkok dan rasa-nya yang Jawa banget. Dalam satu wawancara dengan Warning Magz, Lord Didi malah mengaku musiknya bisa dibilang campursari, bisa dibilang cong-dut alias keroncong-dangdut. Alasan memilih musik jenis cong-dut adalah agar musiknya lebih bisa diterima anak muda. Dan ternyata memang benar, musik cong-dut a la Lord Didi moncer di kalangan anak muda.

Didi Kempot menjadi semacam Godfather, pahlawan bagi kaum menengah ke bawah. Musiknya vernakular, tumbuh, berkembang, dan didengarkan di wilayah pinggiran. Dan liriknya adalah pengejawantahan dari suara hati kaum pinggiran. Tentang kisah cinta yang tak tergapai, perjumpaan dan perpisahan sepasang kekasih, ketidakberuntungan mereka di ranah ekonomi, kritik sosial, serta refleksi ke-ambyar-an duniawi lainnya.

Baca juga:  Kaleidoskop Musik Indonesia 2019 versi Pop Hari Ini

Refleksi musik Didi sebagai suara akar rumput ini tampak dari bagaimana lagu-lagunya banyak mengambil judul—dan isi lirik—nama tempat umum. Sebut saja “Stasiun Balapan”, “Terminal Tirtonadi”, “Tanjung Mas Ninggal Janji”, “Parang Tritis”, hingga “Sewu Kutho”.