Wawancara Khusus Aldrian Risjad: Tak Bercita-cita Menjadi Rock Star

408

Gimana ceritanya gabung sama Sun Eater?

Jadi sebenarnya, Baskara (.feast, Hindia), dia kan lulusan komunikasi UI juga kan. Gue juniornya. Kita nggak ketemu di kampus karena dia lulus gue baru masuk. Cuma waktu itu gue bikin acara kampus gitu, acara seni, ada cabang musik dan muatan acaranya itu ngajarin anak-anaknya produksi musik. Kebetulan selain megang acara, gue juga ngurus hal lain. Kita ngundang Baskara sebagai alumni, buat jadi coach. Di situ gue kenal dia, bikin lagu, produksi-produksian. Setahun kemudian dia gue kontak, mau produced gue nggak. Ternyata selang beberapa bulan, dia malah ngajak gue gabung di Sun Eater. Saat itu dia baru ada konsepnya doang, tapi saat itu oke gue mau.

Itu tahun berapa?

2018 deh kayaknya, 2018 akhir.

Kenapa Sun Eater?

Karena gue nggak kenal siapa-siapa lagi, sesimpel itu. Oh, gue sempat juga ditawarin sama label bawahan production house buat TV gitu. Ternyata produksinya, timeline-nya nggak jelas dan gue ngerasa kayak di-PHP in. Jadi gue cabut aja. Gue bikin sendiri aja lah. Nggak mau tergantung sama orang. Akhirnya gue contact Baskara yang menurut gue saat itu, satu-satunya orang di industri yang dekat dan bisa gue approach.

Saat itu memang nggak ada pilihan lain?

Nggak ada.

Sebenarnya kalau nggak di Sun Eater, lo bisa independen atau lo malas ngebentuk tim?

Bisa banget. Cuma permasalahannya, gue masih clueless banget. Gue merasa butuh dikelilingi orang-orang yang support gue. Dalam songwriting aja, benar-benar clueless. Jadi dulu sering banget tuh nanya Baskara, WA random. “Bas, ini gimana sih caranya.” Pada masa itu, Baskara bisa dibilang mentor gue juga selain dia sebagai A&R Sun Eater. Cuma dia banyak ngementorin gue, ngeproduserin gue juga. Dari situ gue baru bisa merasa mandiri bikin lagu karena dulu gue benar-benar se- clueless itu bahkan dalam hal produksi sekalipun.

Lo dicampuri sampai hal musik dan penulisan lirik?

Dicampuri enggak, cuma karena yang gue cerita tadi pas awal-awal gue clueless. Gue justru yang banyak nanya. “Bas, baiknya gue ke arah mana ya. Menurut saran lo, gue fokus ke arah mana ya.” Dia kasih masukan, gue terima. Tapi tetap gue cerna juga jadi nggak mentah-mentah dia bilang gue lakuin.

Aldrian Risjad, roster terbaru Sun Eater / foto; Jonathan

Selain Baskara, banyak ngobrol sama siapa lagi?

Setelah Bas itu gue kenal mentor yang menurut gue benar-benar mentorin gue banget ada dua sih, Mas Lafa sama Bang Iga.

Hubungan sama orangtua baik-baik saja?

Kalau dibilang baik-baik aja, sekarang sudah jadi status aman. Kalau dibawa throwback, gue banyak menceritakan soal itu bukan karena kondisi present time– nya kita buruk. Tapi lebih karena ada unek-unek gue yang belum kelar aja di masa lalu. Itu ternyata masih sering keluar gitu. Ketika gue bikin lagu, somehow keluar aja unek-unek gue soal itu. Jadi kayaknya menurut gue itu harus gue angkat juga.

Sesuatu di masa lalu baru bisa diluapkan sekarang karena pada saat itu lo nggak tau mau ngomong atau melampiaskannya gimana?

Benar banget. Gitu persis. Kayak sekarang gue di posisi saat gue nulis lagu-lagu di Interrobang gue merasa stuck gitu, gue jadi nggak bisa nulis hal lain selain masalah keluarga. Jadi kenapa gue merasa harus nulis, gue udah di titik gue nggak bisa nulis yang lain lagi. Itu membebani gue dan mau gue lepas juga.