Wawancara Eksklusif: Laleilmanino Produser Terlaris 2020

• Jan 21, 2021

Menyebut trio Laleilmanino sama dengan membicarakan musik pop Indonesia hari ini. Tidak ada istilah sebuah kebetulan dari latar belakang mereka yang memang personel dari band yang sudah cukup dikenal. 

Lale dan Ilman masih memperkuat MALIQ & D’Essentials, serta Nino belum lama ini juga mengeluarkan single baru bersama RAN. Band mereka masing-masing sudah melewati usia karier lebih dari satu dekade. 

Penghargaan demi penghargaan yang mereka dapatkan sebagai Laleilmanino bukti dari kesolidan. Catatan baru lagi, mereka sudah mencapai 100 lagu sebagai produser sekaligus pencipta lagu. 

Angkanya terus bertambah karena belum termasuk proyek-proyek di depan yang masih dalam proses penggarapan. Bocoran yang tersiar baru-baru ini, Laleilmanino juga menggarap lagu buat Ruth Sahanaya (Mama Uthe).

Rasanya, jika dibayangkan tak akan pernah mudah untuk menyatukan tiga kepala dalam mengubur ego bermusik. Satu yang kita semua tau bahwa mereka melewatinya dan mendapatkan pengakuan dari para pendengar.

Pop Hari Ini mewawancarai Lale, Ilman, dan Nino hari Selasa (12/1) di tempat biasa mereka berkumpul menggodok musik. Simak jawaban-jawabannya langsung berikut ini:


Setelah proyek bermusik ini (terhitung sejak 2013) memasuki usia 8 tahun apa yang menurut kalian sangat berhasil, untuk kalian bertiga dalam meramu musik?

Ilman: Yang pertama, kalau kita bikin lagu bareng-bareng bertiga Insyaallah berhasil. Yang kedua, kita kolaborasi itu salah satu caranya kolaborasi ketemu sama orang yang tepat.

Nino: Setuju. Mungkin chemistry dalam pembuatan lagu. Nggak semua bisa bikin lagu bersama-sama. Kita juga tau ada beberapa talenta musik di Indonesia yang memang lebih senang ngerjain lagunya sendiri. Tapi, kita nggak butuh waktu lama untuk mencocokkan satu sama lain. Ketika berbagi referensi, berbagi visi, berbagi ide dalam pembuatan lagu. Malah, sepertinya orang-orang banyak yang bilang kayak kalau misalnya dengerin sebuah lagu, tahu kalau itu lagunya Laleilmanino. Berarti kan, kayak tanpa rencana juga kita mungkin berhasil membuat sebuah pattern dalam lagu-lagu kita. Ada benang merahnya, apakah itu mungkin musiknya yang kompleks, Lale sama Ilman, atau mungkin secara lagu mudah banget buat diterima sama kuping. 

Lale: Gue setuju sama dua-duanya.

Nino: Kayaknya kita penggabungan antara dua itu deh. Berusaha untuk membuat musik yang ‘tidak biasa-biasa saja’ tapi tanpa mengesampingkan bahwa sebuah lagu tuh harus juga mudah untuk dicerna sama pendengar. Jadi, kombinasi dua hal itulah mungkin yang bikin Laleilmanino bisa cepat diterima sama publik. 

kita nggak bisa ngegampangin demand yang datang. misalnya orang datang trus bilang, “Aduh sorry kita lagi capek nggak bisa bikin lagu” . itu nggak mungkin.

Jadi kalian nggak merasa terbebani harus menjadi apa?

Nino: Kalau harus menjadi apanya enggak. Tapi, mungkin terbebaninya tuh secara pressure waktu saja sih kadang-kadang. Karena kita kan harus colong-colongan jadwal juga sama RAN sama MALIQ. Terus, ketika waktu yang sudah tersedia itu ternyata nggak bisa kita kerjakan dengan cepat. Nah itu tuh yang kadang-kadang suka menjadi musuh besar kita tuh. “Waduh nih sayang banget kalau hari ini nggak jadi apa-apaan”, bebannya lebih ke itu sih, lebih ke waktu. 

Pernah nggak merasa kehabisan ide? Dan bagaimana kalian bisa terus memperbaruinya?

Ilman: Pernahlah. Belum lama, baru seminggu lalu. Mau bikin lagu tiba-tiba stuck. Writers block trus ngerasa kita ngeluarin nada, chord itu kayak kok boring yah, membosankan dan kayak ngerasa sudah pernah terus kayak nggak enak. Cara ngatasinnya nggak usah bikin lagu. Tinggalin aja.

Nino: Walaupun mungkin kalau misalnya kita bikin perbandingan antara yang kehabisan dan dapat ide. Pasti kehabisan ide lebih sedikit sih. Tapi mungkin itu juga bisa dipengaruhi sama produktivitas kita di tahun 2020 banyak banget bikin lagu. Jadi, kemarin itu kebetulan hari itu terjadi di ujung tahun sih. Setelah kita sudah terlalu bikin banyak lagu. Mungkin entah kita yang kayak enggak tau harus bikin apa lagi atau mungkin kita bosan dengan yang sudah dibikin kok gitu-gitu lagi, atau juga bisa jadi mungkin secara hati kita lagi capek aja gitu karena kan bikin lagu kan mengandalkan rasa banget yah. Kalau misalnya rasa loe udah diperas abis selama satu tahun itu mungkin waktunya buat istirahat sebenarnya. Tapi balik lagi, kita ada di industri dan kita nggak bisa ngegampangin demand yang datang. Kalau misalnya orang datang trus kita bilang, “Aduh sorry kita lagi capek nggak bisa bikin lagu” nggak mungkin kan. Itu dia sih, uniknya bikin lagu dulu sama sekarang. 

1
2
3
4
5
6
Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

16 Pertanyaan: Enzy Storia

Kemunculan Enzy Storia membawa single perdana “Bila Aku Jatuh Cinta” menjadi awal dari keseriusan perjalanan bermusiknya. Ia mengaku, bukan tak ingin langsung menghadirkan lagu yang berbeda. Melainkan saat itu ada proyek musik untuk cover …

Asteriska Membawa Single “Ibu Pertiwi” untuk Bumi

Apa yang bisa dilakukan untuk membuktikan kecintaan terhadap bumi telah diungkapkan oleh Asteriska baru-baru ini lewat single terbarunya berjudul “Ibu Pertiwi”. Single ini kabarnya pembuka bagi mini album berisi empat lagu yang ia beri …