28 Tahun Album PAS Band, In (No) Sensation

Aug 17, 2023
PAS Band In (No) Sensation

Pada 2023, album penuh perdana PAS Band, In (No) Sensation tepat berusia 28 tahun. Dirilis pada tahun 1995, album ini bisa dibilang album penting karena menjadi semacam nubuat bahwa PAS Band, kelompok musik yang telah berdiri sejak 1992 akan menjadi band yang moncer dan termasyhur di hari esok.

Dua tahun sebelumnya pada 1993 PAS Band merilis EP 4 Through the Sap. Album mini berisi empat lagu ini memang penting karena bisa dibilang rilisan ini adalah pionir rilisan musik mandiri lokal pada dekade 90an.

Dua dekade sebelumnya memang ada Ghede Chokra’s, album milik band besutan Benny Soebardja, Shark Move yang bisa dibilang pionir rilisan musik mandiri karena benar-benar dirilis mandiri melalui label Shark Move Records pada 1971. Namun, 4 Through the Sap milik PAS Band menjadi penting karena mewakili zaman yang berbeda. 4 Through the Sap terjual dalam jumlah yang cukup besar pada masanya, 10,000 copy, dan EP ini menjadi api yang menyulut rilisan-rilisan mandiri lainnya muncul di dekade 90an.

Kembali ke In (No) Sensation, album ini tak kalah penting karena beberapa hal. Pertama, dipandang dari segi ekonomi, setelah sebelumnya merilis 4 Through the Sap secara mandiri, di album perdana ini PAS Band teken kontrak dengan label mayor Aquarius Musikindo. Artinya In (No) Sensation mendapat kesempatan exposure dan distribusi yang lebih besar. Buntutnya, seperti telah dijelaskan di atas, PAS Band kemudian moncer menjadi band yang makin dikenal di seluruh penjuru Nusantara.

Kedua, dari segi bangunan dan aransemen musik, serta kualitas rekaman, In (No) Sensation tentu saja melampaui 4 Through the Sap. Berdurasi 61 menit 14 detik, album yang berisi 13 lagu ini memiliki materi yang lebih matang. Alternative rock yang dimainkan PAS Band pada album ini adalah padu padan dari beberapa sempalan rock seperti hard rock, funk, hingga hip-rock.

PAS Band memang fenomenal, terbentuk sejak 1992, band yang digawangi Yukie (vokal), Trisno (bass), Bengbeng (gitar), dan Richard (drum) ini memulai karier bermusiknya di skena underground Bandung, ini karena kebetulan mereka berasal dari kampus yang sama yaitu Universitas Padjadjaran (Unpad). Awalnya mereka main dari pensi ke pensi, atau di acara-acara musik underground yang menggeliat kala itu. Meski sempat bongkar pasang personel—lebih tepatnya drummer ketika Richard Mutter keluar pasca-dirilisnya album Psycho I.D. pada 1998 dan digantikan Sandy Andarusman—PAS Band toh bisa tetap eksis hingga sekarang.

Saat menerbitkan daftar 150 Album Terbaik Indonesia pada 2007, majalah Rolling Stone Indonesia menempatkan In (No) Sensation di peringkat nomor 101. Secara subjektif, menurut hemat saya album ini harusnya bisa berada di peringkat yang lebih tinggi karena kualitas albumnya yang mumpuni. Sebagai seorang drummer, saya pribadi sangat suka album ini karena satu alasan yang spesifik: Richard Mutter. Gaya permainan drum penabuh drum yang juga pemain skateboard ini adalah alasan kenapa akhirnya saya memutuskan belajar dan bermain drum. Sejak pertama kali mendengarkan album ini di masa remaja dulu, saya terkagum-kagum pada permainan drum Richard. Kelebihan utama permainan drum Richard adalah penggunaan double bass drum atau double pedal yang bertaburan di sana-sini. Bagi seorang drummer, bermain satu pedal saja sudah susah, apalagi harus bermain double pedal untuk memperoleh ritme yang lebih rapat dan notes yang lebih padat.

Namun, In (No) Sensation bukan sekadar perkara permainan drum. Seluruh bangunan musik album ini memang menarik. Vokal Yukie yang kharismatik, kadang bernyanyi santai, kadang berteriak lantang, betotan bass Trisno yang mantap dan sering ditingkahi teknik slapping di sana-sini, serta yang tak kalah penting adalah permainan gitar Bengbeng yang terdengar sangat menonjol. Bengbeng banyak bermain efek gitar, mulai dari distorsi keras, suara clean dengan kocokan funk, hingga penggunaan efek whammy yang kerap muncul saat bagian melodi solo guitar harus dimainkan. Bengbeng juga terkenal dengan teknik memetik gitar harmonic serta tapping. Dari track pertama hingga terakhir, In (No) Sensation sarat dengan padu padan semua teknik musikal tersebut.

Sebagai contoh kita bisa menilik singel paling terkenal dari album ini, “Impresi”. Lagu ini dibuka dengan hentakan double bass drum Richard, kemudian ditingkahi masuknya gitar dan bass. Yukie bernyanyi lantang mengejek kemunafikan manusia dengan bait “hanya pemenang yang kita yakini.” Pada bagian melodi solo guitar Bengbeng kemudian menggila dengan efek whammy-nya.

“Impresi”, “Si “Berat”, “Konsepsi”, dan “Dogma”[i] merupakan empat lagu yang menggunakan lirik berbahasa Indonesia di album ini. Selebihnya PAS Band menggunakan lirik berbahasa Inggris dalam lagu-lagu seperti “For The Truth”, “War”, “Poisoned Garden” atau “Bang Your Head”.

Penggunaan bahasa Inggris di sebagian besar lagu di album ini adalah pengejawantahan dari kondisi sosial politik di zaman album ini dirilis. Saat Orde Baru masih berkuasa dan bisa mengatur segala aspek kehidupan manusia Indonesia. Termasuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan di kehidupan sehari-hari. Budaya sensor masih kental dengan adanya Departemen Penerangan dan bacot Harmoko yang bisa suka-suka memberedel, melarang, atau menghancurkan pesan-pesan yang dianggap subversif dan mengancam stabilitas Orde Baru. Seringnya yang kena beredel adalah media massa. Namun, musik dan lirik yang kritis tentu juga kena tulah. Di masa Orde Baru, musisi kerap melakukan swasensor agar tidak kena masalah dengan rezim. Namun, kemudian banyak musisi yang melakukan cara yang cerdas, mereka kucing-kucingan dengan rezim. Caranya adalah alih-alih menggunakan bahasa Indonesia di lirik lagunya, mereka malah menggunakan lirik berbahasa Inggris dengan keyakinan bahwa bahasa Inggris akan lebih sulit diendus oleh Orde Baru.

Menurut hemat saya, PAS Band melakukan hal yang sama di In (No) Sensation. Sebagian besar lirik lagu di album ini berbahasa Inggris untuk mengakali budaya sensor dan beredel Orde Baru. Dengan menggunakan bahasa Inggris, PAS Band bisa dengan bebas bicara kebenaran yang hakiki di tengah banyak kebohongan Orde Baru, bicara tentang perang yang meluluhlantakkan kemanusiaan, hingga Orde Baru itu sendiri sebagai sebuah mesin politik digdaya yang membikin manusia Indonesia hidup dalam kedamaian yang semu.

Direkam dalam waktu sekitar 6 bulan, In (No) Sensation dirilis pada pertengahan 1995. Dalam waktu seminggu pertama album ini terjual sebanyak 100,000  copy. Beberapa bulan kemudian album ini bahkan menembus angka 400,000 copy. Sebuah pencapaian luar biasa untuk sebuah album musik rock alternatif berbahasa Inggris. PAS Band juga membuat video klip untuk singel “Impresi” yang digarap oleh drummer mereka sendiri Richard Mutter dan agensi Cerahati. Namun, sayangnya video klip ini sempat dicekal salah satu stasiun televisi karena menampilkan adegan moshing yang kala itu dianggap kasar dan memang tidak umum bagi masyarakat luas.

Setahun pasca-dirilisnya In (No) Sensation, pada 1996 di Jakarta digelar sebuah festival musik alternatif bertajuk Jakarta Pop Alternative Festival. Di kala ini PAS Band sudah memiliki tempat tersendiri di industri musik Indonesia dan disejajarkan bersama Netral (sekarang NTRL) dan Nugie untuk bermain sepanggung bersama band luar negeri Foo Fighters, Sonic Youth, dan Beastie Boys. Majalah HAI mencatat bahwa di festival ini mantan penabuh drum Nirvana yang kemudian menjadi frontman, gitaris, dan vokalis Foo Fighters, Dave Grohl sangat terpukau tatkala PAS Band bermain di panggung. Ini bukannya berarti inferior dan PAS Band perlu mendapatkan validasi dari Dave Grohl untuk menjadi sebuah band yang bagus. Tetapi, PAS Band memang sebuah band yang bagus. Maka, wajar jika sosok seperti Dave Grohl saja sampai terkagum-kagum pada penampilan mereka.

28 tahun kemudian, kita bisa belajar banyak dari album debut PAS Band ini. Pertama, kegigihan dan sikap pantang menyerah harus kita anut apabila kita ingin musik yang kita gubah dikenal secara luas. Ini karena PAS Band tidak tiba-tiba terkenal begitu saja, dulu mereka harus berjibaku menjajakan demo dulu ke label sana-sini hingga akhirnya In (No) Sensation dirilis oleh label mayor. Kedua, selalu ada cara untuk mengkritik kuasa yang lalim, serta membicarakan, mewartakan, dan membela mereka yang tertindas di akar rumput. Salah satunya adalah seperti apa yang PAS Band lakukan yakni menggunakan lirik berbahasa Inggris untuk membicarakan berbagai problematika sosial politik Indonesia di lagu-lagu mereka.

Secara pribadi bagi saya In (No) Sensation adalah album penting yang menjadi inspirasi bagi saya untuk bermusik. Jika tidak mendengarkan gebukan drum Richard Mutter di album ini yang saya tebus kala saya masih duduk di bangku SMP dulu, saya mungkin tidak akan pernah belajar bermain drum kemudian menjadi musisi. Kekaguman saya pada Richard Mutter sudah sampai di level pemujaan. Ujungnya, saya hanya bisa mendengarkan album PAS Band dari 4 Through the Sap, In (No) Sensation, IndieVduality, hingga Psycho I.D. Setelahnya ketika Richard Mutter memutuskan hengkang dari PAS Band, saya sudah tidak bisa mendengarkan album-album mereka lagi.

Bahkan, permainan drum Richard di album In (No) Sensation menurut saya terlampau bagus dan tak tertandingi sehingga ketika Richard Mutter kembali masuk ke formasi PAS Band dan menjadi tandem drum bersama Sandy Andarusman, kemudian merilis EP Unscripted Xperience pada 2021 saya sudah tidak bisa mendengarkannya lagi karena itu tadi, saya tidak bisa move on dari In (No) Sensation.

Dengarkan In (No) Sensation dengan saksama! Niscaya kita akan serasa ditarik kembali ke dekade 90an. Masa ketika musik rock alternatif sedang jaya-jayanya di seluruh penjuru dunia, masa ketika Orde Baru masih berkuasa dengan represif dan otoriter, masa ketika banyak band-band dari skena underground kemudian teken kontrak dengan label mayor dan masuk ke arus utama industri musik Indonesia.


[i]     Lagu “Dogma” sebelumnya pernah masuk dalam EP 4 Through the Sap. Dulu saya memiliki album PAS band, In (No) Sensation dalam format kaset seluloid dan “Dogma” tidak ada di dalamnya. Belakangan saya baru tahu bahwa pada versi CD, lagu “Dogma” dimasukkan sebagai bonus track yang berada di urutan terakhir. Di DSP, di zaman sekarang “Dogma” juga masuk sebagai lagu terakhir di album In (No) Sensation.

Penulis
Aris Setyawan
Etnomusikolog dan musikus. Co-founder dan editor Serunai.co. Bercerita di arissetyawan.com.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Mas Rosihan
Mas Rosihan
7 months ago

Best album ever by them…

Eksplor konten lain Pophariini

5 Lagu Naif Pilihan Franki Indrasmoro

Akhir Februari lalu, Franki Indrasmoro atau Pepeng resmi merilis single perdana untuk proyek musik solonya. Karya bertajuk “Ceriakan Dunia” tersebut merupakan pembuka untuk beberapa single yang bakal berujung album penuh di akhir tahun ini. …

Langit Sore, GFRN, dan Cacha Sholastica Bahas Pengkhianatan Cinta dalam Firasat Berbisik

Kolaborasi bukan suatu hal baru bagi grup musik asal Yogyakarta, Langit Sore. Kali ini mereka menggaet Cacha Sholastica, dan GFRN untuk single berjudul “Firasat Berbisik” yang resmi beredar hari Jumat (29/03) lalu. Terbentuk sejak …