30 Tahun Raksasa God Bless

1241

Dengan usia band 46 tahun, aksi panggung dan rekaman-rekaman yang hebat, serta fakta bahwa hari ini masih terus berjalan, tak berlebihan bila God Bless dinobatkan sebagai band untuk semua penggemar rock di Indonesia.

Ridho Hafiedz dari Slank pernah memberi pengakuan pada panggung konser God Bless bertajuk “Badut Badut Jakarta” di Gedung Kesenian Jakarta, 12 November 2018, bahwa ia pernah membeli sebuah gitar hanya karena Ian Antono berpose dengan gitar tersebut di sampul album Semut Hitam (Logiss Records, 1988).

Seorang paman saya pernah bercerita tentang masa mudanya menjadi mahasiswa ITB, Bandung, ketika pertama kalinya menonton God Bless pada 1970an. “Aksi panggungnya seperti band luar negeri. Fuad Hassan mainnya benar-benar keras. Waktu itu, tidak ada band yang musiknya sekeras dan sehebat God Bless!” kurang lebih begitu ujarnya.

God Bless circa 80an. Kiri-Kanan: Jockie Surdjoprajoyo, Ahmad Albar, Ian Antono, Teddy Syah, Donny Fattah. Foto: dok. God Bless

Bahkan hanya dengan melihat foto-foto God Bless saja, saya tidak bisa meragukan kedahsyatan band itu. Melihat fashion glam rock mereka yang total, dengan maskara dan boot super jangkung. Atau ketika suatu hari di kamar Andre “Kubil” Idris dari The Upstairs saya menemukan foto-foto asli God Bless sedang pawai menangkringi Jeep tanpa atap di sebuah kota. Sungguh berimaji rock star!

Sedangkan saya justru punya pengalaman culun bersama God Bless. Suatu malam saya melihat bassist Donny Fattah di HERO Pondok Indah Mall, langsung saja meminta izin untuk foto bersama. Tapi ternyata batere HP saya mati. Donny Fattah cuma berkata dengan senyum ramahnya, “Oh, nggak apa-apa”.

“Aksi panggungnya seperti band luar negeri. Fuad Hassan mainnya benar-benar keras. Waktu itu, tidak ada band sekeras dan sehebat God Bless!”

Ya, begitulah God Bless. Band ini dirayakan oleh berbagai generasi. Dahulu, sebelum  internet tersedia dan informasi jadi sangat mudah didapat, salah satu cara menandakan generasi pendengar God Bless adalah dari pengalaman menonton panggung dan menyimak album-albumnya. Generasi pertama terpapar kehebohan pentas sejak 1973 dan debut album God Bless (PramAqua, 1976), atau bagi yang lebih muda memulainya dari album Cermin (JC Records, 1980), baru kemudian mengikuti album-album berikutnya. Sementara generasi setelahnya mendapatkan God Bless pertamakali pada Semut Hitam dan diikuti Raksasa (Logiss Records, 1989), baru kemudian mengintip karya-karya God Bless sebelumnya via album kompilasi Story of God Bless (Logiss Records, 1990) dan 18 Greatest Hits of God Bless (Logiss records, 1992), sambil juga berkenalan dengan “Anak Adam” (dari album Cermin) dan nomor balada “Dunia Panggung Sandiwara” dari Duo Kribo—proyek album duet Achmad Albar-Ucok AKA–  melalui rekaman reportoar Gong 2000, sebuah kolektif musik yang sangat beririsan dengan God Bless di mana Ian, Achmad, dan Donny berada di sana.

Album Semut Hitam yang diracik bukan berupa progressive rock seperti Cermin, melainkan hard rock 1980an, sukses besar di pasaran! Tapi sebenarnya jurus God Bless tidak sesederhana itu. Meskipun tak terlalu kompleks, bukan berarti komposisi-komposisi di Semut Hitam tidak luar biasa, baik musik maupun lirik. Solid. Saya bersepakat dengan pendapat gitaris Eet Syahranie di saluran YouTube Denny Mr Official bahwa God Bless adalah band rock 1970an yang berhasil membuat musik rock 1980an di Semut Hitam dan Raksasa. Sangat berhasil, bahkan. Karena God Bless berselancar bersama gelombang trend kala itu dengan sidik jarinya dan bobot yang tidak dikorting. Faktor utama yang membuat God Bless melibas dan meninggalkan jejak gigantik.

Dari Semut Hitam ke Raksasa

Sangat logis bila Logiss Records meminta God Bless untuk segera merilis album berikutnya pasca Semut Hitam, mengingat album itu meraih penjualan yang bukan main-main, konon terbesar sepanjang rekaman rock Indonesia. Namun entah kenapa gitaris Ian Antono kemudian tak ada di tubuh band itu. Posisi kosong pun diisi oleh Eet Sjahranie.

God Bless Circa 80an dengan gitaris Eet Sjahrani (kiri bawah). Foto: istimewa

Menurut pengakuan Eet, hampir semua riff lagu di album Raksasa sudah dibuat saat ia direkrut, suara gitar diisi dengan instrumen keyboard oleh Jockie S. Jadi, relatif Eet “hanya” mengisi ulang saja dengan gitarnya. Dan saya harus setuju bersama bukti penjualan album yang meledak bahwa riff-riff itu memang dahsyat, dan cara Eet “mengisi ulang” melibatkan teknik dan sound peledak yang rasanya belum pernah terdengar pada rekaman musik Indonesia di zamannya. Belum lagi gitar solo yang cepat dan menggelegar di lagu-lagu itu, yang menjadikan banyak orang mengasosiasikan gaya permainan Eet dengan Eddie Van Halen dan Angus Young dari AC/DC (nama terakhir juga karena aksi panggungnya). Bersama seorang Eet, kelas God Bless lagi-lagi teratas.

Album Raksasa dimulai dari “Maret 1989”, lagu dengan riff simpel, melodius, dan perkasa! Dalam sekejap kita mudah dan senang menyanyikannya. Tema dan penulisan lirik pun tak payah. Seolah memberi janji akan seperti apa keseluruhan album ini berbunyi.

Lagu kedua “Menjilat Matahari” tak kalah kuatnya. Sekujur melodi vokal di lagu ini, refrain ataupun verse, semuanya enak dilantunkan. Gitar Eet kembali menyalak di sana-sini. Dua “singa” mengaum di awal, tak berlebihan bila memprediksikan setidaknya total ada lima lagu kuat di album ini.

bahwa God Bless adalah band rock 1970an yang berhasil membuat musik rock 1980an di (AlBUM) Semut Hitam dan Raksasa

Di lagu ketika, “Misteri”, keandalan God Bless memulis nomor balada kembali dihadirkan. Mereka seperti hafal metode membuatnya, sambil tetap juga berbeda jika dibandingkan gerimis slow rock merata di Indonesia dan belahan bumi lainnya. Menarik juga bahwa kali ini sound terasa lebih heavy, karena gitarisnya bukan Ian Antono, menjadi varian warna yang tak mengapa.

Lagu berikutnya adalah satu-satunya yang ditulis oleh Eet Sjahranie, bersama Achmad Albar. Sama sekali tak menjadi kalah saing dibanding lagu-lagu lainnya yang memang sudah ditulis sebelum Eet diminta bergabung. Malah semakin memperkaya Raksasa. Badai sound yang melengking, melesat, dan menggema di penghujung lagu seakan karunia baru bagi God Bless dan pendengarnya.

Side A ditutup oleh “Cendawan Kuning” karya keyboardist Jockie Suryoprayogo. Koor “Asap kuning bunga cendawan… membelah angkasa” betul-betul membelai telinga. Di bagian interlude, drum yang dimainkan oleh Teddy Sujaya, keyboard, dan bass bak membuat formasi terbang indah melaju, dipungkas solo gitar. Praktis seluruh side A berisi lagu-lagu berbahaya.

Raksasa diakhiri dengan “Raksasa”. Di lagu penutup, vokalis Achmad Albar masih terdengar mencurahkan segenap ekspresinya. ia memang salah seorang vokalis terbaik di Indonesia

Side B dibuka dengan lagu “2002”, tema lirik jadi cukup menggelitik bila dibaca hari ini; tentang menebak masa depan saat album ini dirilis pada 1989. Lagi, Eet diberi jatah solo untuk ditutup singkup. Begitu juga di lagu “Pemburu Ilusi”, Eet mendapat jatah atraksi. Sementara lagu “Sang Jagoan” serasa “Trauma” (dari album Semut Hitam) versi Raksasa; dia berderu cepat. Tapi untuk urusan lirik, “Trauma” menang banyak.

God Bless Formasi Kini (2018). Foto: Godbless.com

God Bless sekali lagi menghadirkan balada di lagu “Anak Kehidupan”. Seperti kita ketahui, God Bless mampu mengatasinya dengan baik. Sound keyboard Jockie yang ke arah luar angkasa sangat berarti di sana. Raksasa pun diakhiri dengan “Raksasa”. Sampai pada lagu penutup, vokalis Achmad Albar masih terdengar mencurahkan segenap ekspresinya. Bila musik selesai, kita terus meyakini bahwa ia memang salah seorang vokalis terbaik di Indonesia, saat mencapai lansia sekalipun -apalagi ketika muda, menyanyikan rock atau pun bukan. Di panggung, selain gaya lari-lari kecilnya yang tersendiri, saya selalu suka dengannya menyebut penonton dengan kata “Anda”.

Tiga puluh tahun usia album ini, Raksasa memberi arti tersendiri bagi warna warni God Bless berkat kekuatan lagu-lagunya beserta kehadiran sosok Eet di sana. Sebelum terlibat pada album Raksasa, Eet sudah diakui sebagai gitaris yang maju di zamannya, apalagi dia juga personil Superdigi yang berpersonil geek teknologi musik, dan sebelumnya bersama reputasi Cynomadeus. Setelah Raksasa, Eet semakin menerabas —namanya tertulis mengisi album-album rock, dan kemudian membentuk kelompok musik yang menjadi identiknya, EdanE.

Disimak pada 30 tahun sejak awal beredar, pemilihan judul album Raksasa bukan hanya gede gretak semata.

 

____