6195

Album Ketiga Plastik Membungkus Kesepian, Melepaskan Kesalahan

Ke mana saja saya selama ini? Pada 1999, mungkin dengan suasana yang tenang-tenang saja, atau ketika band itu di ujung kondisi kepayahan untuk terus utuh bertahan, Plastik merilis album dengan ketegaran rapuh, penuh suara hati, dan padat candu.

Saya bukan salah satu anak muda yang terkesan dengan single “Seperti” yang mengudara pada 1995. Jadi, kiprah Plastik lewat begitu saja dari radar musik yang melotot. Betapapun digelari “Pearl Jam-nya Indonesia”, atau alternative rock, atau “Grunge”, tak menjadikan saya menoleh pada album-album mereka. Hampir tak pernah, hingga nama band itu terus menghampiri di banyak obrolan bersama teman-teman.

Sedangkan Ipang, vokalis Plastik yang vokalnya menyeruak dari kerongkongan berlian keterasingan, dahulu memang pernah merebut sesi perbincangan melalui album Debut#1 di tahun 2002, dengan gaya  trip hop pada albumnya. Tetapi itu tak juga membuat saya tergesa-gesa mengecek ke belakang pada album-album band yang pertamakali memperkenalkan namanya. Terlebih kiprah-kiprah solo Ipang berikutnya dan kala bersama BIP.

Baca juga:  Banyak Jalur Menuju Tur

Namun akhirnya, pada suatu hari, tidak lagi ingat apa dorongannya, saya membeli CD The Best of Plastik, dengan sampul yang juga tidak terlalu menarik minat: telinga dari jarak dekat yang terpasang earphone. Waktu itu, saya sedang di toko buku, bisa jadi CD kumpulan lagu Ebiet G Ade dengan desain grafis yang terasa lebih mendingan, empat Camelia pun ada di sana, telah saya timang-timang, gagal selangkah merayu saya. Bon bertuliskan CD Plastik pun saya bawa ke kasir, hingga kemudian masuk ke alat pemutar di kendaraan.

Dari album “the best” itulah saya paham bahwa saya pernah terlalu lama keliru. Plastik jelas bukan band sembarangan. Mendengarkan CD itu, saya jadi teringat kembali pada “Statis”, lagu yang sangat keren, yang telah tenggelam dan samar-samar saja kehadirannya bagi saya di masa peredarannya dahulu, hampir pasti akibat kesan pertama pada lagu “Seperti” yang tak memberi kesan banyak bagi saya. Kisah seperti “Seperti” memang kerap terjadi. Beberapa kali saya salah menafsir sebuah band, atau sebuah album, hanya karena single pertamanya.