6195

Album Ketiga Plastik Membungkus Kesepian, Melepaskan Kesalahan

band Plastik di tahun 1999. Foto: dok. Istimewa

Dari CD “the best” itulah saya mulai mencari Plastik di YouTube, album demi album. Saya mulai menjadikan mereka sebagai favorit. Lalu album mana yang paling berbahaya? Bagi saya, pilihannya ada di antara Insting, Psiko & Harmoni (1997) dan Dengarkan Pada Saat Tenang (1999).

Judul yang belakangan lebih saya pilih untuk menuliskannya. Bukan apa-apa, mood album itu begitu pas sama titelnya. Ini album yang “skut”, “selon”, mengajak berjalan-jalan pelan sambil menikmati alur suaranya yang sarat luka-luka hidup.

Saya menulis naskah ini di sebuah restoran di dekat rumah, mendengarkan Dengarkan Pada Saat Tenang, lalu meletakkan earphone saat asap terakhir benar-benar berlalu. Di saat masih dalam kondisi demikian, ibu-ibu berdatangan ke restoran tersebut, dan saya dikagetkan oleh suara perjumpaan mereka. Satu album Plastik rupanya telah menyekap dalam-dalam.

Baca juga:  Ahmad Band, 20 Tahun yang Lalu

Album itu diawali oleh “Bintang Kecil” di langit yang pucat. Menghias otak serasa angkasa. R&B, funk, psychedelic, dan aliran darah yang melambat akibat racun knalpot langsung mendera. Lirik-lirik yang langsung menggambarkan sentral cerita dengan begitu indahnya. Refrainnya datang bersama irama berbeda dan koor yang menghangatkan, seolah-olah percik cahaya di dalam gelapnya jalan: “Kau bermain kesukaran dengan tersenyum”, lalu pesta conga dan solo gitar membopong jiwa di ujungnya.

Ini baru lagu pertama… fiuh!