Album Mengubah Hidup : Rayi Putra (RAN)

Sep 14, 2019

RAN tengah berada di proses kreatifnya. Proyek musik baru mereka yang diberi tajuk OMNE TRIUM PERFECTUM; The Series menuntut ketiga personilnya, Rayi, Asta, dan Nino masing-masing menahkodai satu lagu dengan taste masing-masing. Ini adalah pendekatan terbaru RAN yang keluar dari zona nyamannya mereka yang kerap menggarap lagu mereka bersama. 23 Agustus lalu, proyek ini telah dibuka dengan dirilisnya lagu “Ain’t Gonna Give Up” dari Project R yang dikepalai oleh Rayi Putra.

Selain ditulis dan diproduseri oleh Rayi, pria yang bernama lengkap Rayi Putra Rahardjo ini juga mengajak Ramengvrl untuk berkolaborasi.

Setelah Project R, Project A akan keluar dua bulan setelahnya dan begitu pula dengan Project N. Inilah project yang menuntut pendengarnya untuk mengenal lebih dalam pribadi mereka.

Lewat edisi Album Mengubah Hidup kali ini, kami akan mengajak pembaca lebih mengenal Rayi lebih dalam. Kepada PHI, Rayi menceritakan sebuah album yang benar-benar meninggalkan kesan mendalam, sebuah album yang keren secara musikal, album yang mengubah hidup semua orang, termasuk Rayi.

Centralismo yang memberi keberanian

Album debut dari Sore, Centralismo / dok. istimewa.

Rayi Putra sejujurnya jarang mendengarkan album musisi  Indonesia. Namun jika disuruh memilih satu album, vokalis sekaligus rapper dari grup musik RAN ini memilih album dari grup musik Sore yang berjudul Centralismo.

Centralisimo merupakan album studio pertama dari Sore yang dirilis pada tahun 2005. Berisikan 12 lagu, album yang dikeluarkan dibawah label Aksara Records ini berhasil mendapat predikat Five Asian Albums Worth Buying oleh Time Magazine Asia pada tahun 2005. Selain itu, album ini juga menduduki peringkat 40 dalam 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia edisi #32 bulan Desember 2017.

“Gue kalo denger musik sore tuh keinget karya Guruh Soekarno Putra, era-era Indonesia di tahun 70-an, membawa kita ke tahun-tahun segitu sih. Membuat kita bernostalgia dan entah kenapa kalo dengerin musiknya Sore tuh seakan-akan kayak dunia indah aja gitu kayak (seakan-akan) belom ada hiruk pikuk kemacetan, jadi membuat gua kabur dari realita sejenak,” kesan Rayi.

Ketika ditanya alasan memilih album ini, Rayi menjawab bahwa album ini merupakan album yang berani mendobrak industri musik Indonesia.

“Disaat mereka keluar dulu mereka cukup mendobrak industri musik Indonesia. Mereka keluar dengan konsep yang keseluruhannya dapat dikatakan “jadul banget”,  sampe bahkan kualitas rekamannya emang sengaja dibikin kayak recording jaman dulu. Jadi itu merupakan sesuatu yang out of the box banget,” ungkapnya.

“Mungkin mempengaruhi musik secara langsung nggak juga, tapi mungkin lebih ke semangatnya. Lagu ini bener-bener membuka mata gue karena sebelum mereka keluar dengan album ini, musik di Indonesia ya relatif ‘aman-aman aja’. Musik yang bisa tembus ke industri ya pasti ngepop atau ngerock pada jaman itu. Tapi karena mereka keluar gue jadi yakin “oh ternyata kita mengeluarkan musik dengan genre apapun, dengan konsep apapun sebenernya bisa-bisa aja sukses dan ada yang mendengarkan juga,” tambahnya.

Rayi juga mengatakan, karena album ini ia dan anggota RAN lainnya memberanikan diri untuk mengeluarkan lagu pada kala itu. “Makanya kita pada saat itu memberanikan diri keluar dengan RAN yang mungkin di era itu (tahun 2006-2007) belum banyak grup atau artist yang mengeluarkan musik seperti kita”

“Album ini yang memberanikan gue bersama RAN untuk semakin menjadi diri sendiri aja sih.” tutup Rayi.

______

Penulis
Elma Nabiila
Mahasiswa hukum yang suka musik dan hobi jalan-jalan.

Eksplor konten lain Pophariini

Makassar Bukan Lagi Hanya Sekadar Daerah

Tulisan kempat Bising Kota kali ini ditulis langsung oleh Brandon Hilton dari Makassar

Portree Saling Menguatkan di Single “Jingga”

Portree mendedikasikan lagu “Jingga” untuk teman dan sahabat yang berada di lingkaran mereka, yang selalu hadir dan terlibat di setiap langkah Portree.