Feast, Para Pembawa Pesan

20532
Baskara, Awan, Bodat, Adnan dan Dicky/ foto: Mikael Aldo/.Feast

Seperti layaknya rakyat Indonesia atau manusia pada umumnya yang masih berperikemanusiaan, para anggota Feast turut mengecam aksi pengeboman tiga gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018 yang mengakibatkan tewasnya sebanyak 18 orang.  Menanggapi tragedi yang mengenaskan itu, kuintet asal Jakarta tersebut – vokalis Daniel Baskara Putra, duo gitaris Adnan Satyanugraha Putra dan Dicky Renanda Putra, bassis Fadli Fikriawan Wibowo alias Awan dan drummer Adrianus Aristo Haryo atau Bodat – memutuskan untuk segera menciptakan dan melepas sebuah single yang menggambarkan kemuakan mereka terhadap kejadian itu dan para pelakunya.

Lalu dalam proses pengerjaannya, Baskara selaku penulis lirik merasa tergerak untuk mengembangkan proyek ini menjadi sebuah mini-album yang berisi berbagai cerita naas dan tragis, yang kebetulan punya hubungan kuat dengan pengalaman pribadinya. “Peradaban” yang berawal sebagai reaksi terhadap insiden di Surabaya berkembang menjadi ungkapan keresahan atas kelompok yang memaksakan kehendak dan merendahkan kelompok-kelompok yang lain, suatu hal yang kerap dialami Baskara seumur hidupnya sebagai pemegang KTP beragama minoritas.

“Kami Belum Tentu” terinspirasi obrolan Baskara dengan pedagang makanan keliling yang membuka wawasannya terhadap realita partisipasi politik di Indonesia. “Padi Milik Rakyat” merupakan kilas balik ke masa sekolah Baskara di SMA Pangudi Luhur, ketika sempat tinggal bersama penduduk desa di Wonogiri dalam rangka program sekolah dan melihat sendiri bagaimana tingkat kemakmuran mereka sangat tidak sebanding dengan produktivitas dan jerih payahnya.  “Minggir!” merupakan cercaan Baskara terhadap orang-orang yang menganggap pengaruh besar yang mereka miliki di media sosial otomatis menjadikan mereka kompeten untuk berpendapat tentang apa pun.

Terakhir, “Berita Kehilangan” mengangkat cerita tentang sebuah kasus yang sempat ramai diberikan beberapa tahun lalu, yakni tewas tertusuknya Raafi Aga Winasya Benyamin – teman sekolah Baskara – dalam perkelahian di tempat hiburan malam pada 5 November 2011, kurang dari sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-18. Lagu ini juga menampilkan pendatang baru Rayssa Dynta untuk menyanyikan bait yang berasal dari penggalan surat seorang ibu anonim yang juga kehilangan anak dalam kejadian tragis. Namun sebelum memasuki lagu-lagu bermuatan berat ini, ada “Apa Kata Bapak” sebagai pengantar ringan yang menampilkan ocehan Sir Dandy mengenai konsep keteladanan pendidik.

Sampul album Feast -Beberapa Orang Memaafkan / dok. Feast.

Tiga bulan dan satu minggu setelah pengeboman di Surabaya, pada 21 September lalu Feast melepas Beberapa Orang Memaafkan, yang judulnya menggambarkan bagaimana orang-orang yang diceritakan di lagu-lagu ini menyikapi masalah-masalah yang mereka lalui. Musik yang digarap Feast bersama produser Wisnu Ikhsantama Wicaksana ini memang tak segarang Multiverses, album debut mereka dari tahun 2017 yang serba liar dengan mencampuradukkan hard rock, folk, EDM dan bahkan hip-hop. Namun dengan musik yang relatif lebih kalem, kohesif dan bahkan riang sekalipun, Beberapa Orang Memaafkan justru terasa menghantam lebih keras berkat lirik-lirik yang lugas, menyentil dan lebih mudah dipahami seperti “Hidup tak sependek penis laki-laki,” “Alergi kemajuan mendorong kemunduran” dan “Jok kiri mobil pemberian ayahmu mungkin milik rakyat.” Dipadu dengan estetika visual yang kuat untuk kover album arahan Baskara dan fotografer Mikael Aldo yang menampilkan patung Bunda Maria sedang berkabung di balik kain bersimbah darah, serta aksi panggung yang intens, flamboyan dan energik, maka tak heran jika Feast sudah bisa mendapatkan jumlah penonton terbanyak sejak mereka terbentuk di tahun 2012 ketika tampil di Synchronize Festival yang baru saja berlalu.

Beberapa hari sebelum Beberapa Orang Memaafkan beredar secara digital, Baskara menyempatkan diri di sela-sela kesibukan pekerjaannya sebagai brand manager perusahaan rekaman Double Deer Music untuk berbicara panjang lebar mengenai pembuatan album tersebut serta kisah-kisah di balik tiap lagu di dalamnya.

Bisa dibilang mini-album ini terjadi dengan katalis insiden Surabaya, terus mau bikin lagu sebagai respons terhadap itu dan lama-lama malah tercipta lagu-lagu lain.
Berkecambah, sih.

Tapi apakah lagu-lagu lain itu adalah topik yang sebenarnya sudah lama ingin diangkat atau benar-benar dari nol setelah “Peradaban” tercipta?
Dari dulu sudah ada, cuma enggak pernah ada dorongan serius buat kayak, “Ya sudah, gue menulis tentang ini, deh.” Jadi kedorong gara-gara “Peradaban” itu, awalnya. Ketakutan terbesar gue pas nulis mini-album ini, karena sangat sensitif, gue cuma berpikir, “Ini bakal jadi apropriasi tragedi enggak ya, kalau gue omong kayak ini?” Jadinya gue harus mengobrol benaran.

Dengan siapa?
Orang-orang yang terlibat langsung, paroki sana. Dari situ gue jadi berpikir, kayak sebenarnya mungkin hal-hal yang bisa gue omong itu, enggak cuma ini. Jadi ada dorongan buat itu. Kayak, siapa lagi orang-orang yang disakiti, yang mungkin punya cerita, cuma mereka enggak pernah punya medium yang cukup besar atau tenaga yang cukup kuat buat mendorong pesannya mereka.

Akhirnya dari situ keluar, gue jadi ingat semua yang ingin gue tulis selama ini. Tapi kekhawatirannya sama: gue enggak mau banget ini jadi apropriasi. Akhirnya gue bilang ke anak-anak, “Kasih gue waktu satu malam lagi, gue minta izin dulu ke semuanya. Gue atur obrolannya, sembari musiknya juga gue matangkan pre-production. Bagaimana kalau kita bikin proyek khusus buat ini?” Responsnya positif semua. Ya, akhirnya gue jalan, lah. Gue mengobrol dengan mereka.

Gue enggak pernah mengira tahun ini mengeluarkan album. Mungkin kayak single lepasan doang. Tiba-tiba jadi sesuatu yang lumayan gede. Mungkin secara jumlah lagu enggak sebanyak album pertama, cuma gue lihat muatan yang ada di sini…kayak gue bawa muatan orang. Makanya gue sangat takut pas menulis ini, kayak, “Ini apropriasi apa nggak? Gue orang yang pantas buat omong ini apa enggak?” Walaupun akhirnya PR (pekerjaan rumah)-nya banyak, gue kebut semua, kena semua. Jadinya lima lagu ini.

Ada rasa urgensi apa untuk mengeluarkan semua ini secepatnya? Kalau “Peradaban” mungkin mumpung insidennya masih segar di ingatan. Yang lainnya? Apa yang mendorong untuk mengeluarkan kumpulan karya ini?
Gue melihatnya begini sama anak-anak. Dengan konsep seperti ini, dan kebetulan penciptaan dan produksinya tahun 2018, gue berpikir kalau ini gue tahan, gue bikin album penuh dan keluar 2019…gue enggak tahu, ya. Mungkin ini ketakutan yang enggak berdasar saja, cuma gue jadi takut materi-materi gue ditunggangi orang, karena tahun depan tahun politik. Dan kalau gue tunggu sampai itu semua mereda, kelamaan buat gue. Umur segitu, menurut gue, seharusnya gue sudah bikin album penuh kedua.

Jadinya gue bilang, “Now or never.” Anak-anak sempat agak ragu, yang kayak, “Enggak deh, kayaknya kita 1-2 single saja. Multiverses kemarin umurnya masih terlalu muda, lu masih harus kasih waktu buat orang mencerna itu.” Secara internal, gue menyarankan teman-teman gue untuk mengeluarkan ini bukan karena pertimbangan marketing, bukan karena pertimbangan brand. Gue mau membawakan ini setahun ke depan karena menurut gue ini penting buat sekarang. Agak alot awalnya; satu malam itu satu malam yang sangat alot secara internal, sampai akhirnya, “Ya sudah, kalau memang lu yakin sama itu, kerjakanlah. Yakinkan kami.” Dan akhirnya jadi.

Feast di Synchronize Fest 2018 / dok.Pohan

Semua lirik dan tema-temanya benar-benar berbagai keresahan yang dirasakan secara pribadi, tapi bagaimana pun juga ini mewakili band. Apakah ada kekhawatiran bahwa apa yang ingin disampaikan tidak dirasakan juga oleh anggota yang lain? Apakah harus meyakinkan mereka untuk bisa sevisi, baru berani untuk jalan atas nama Feast?
Pas pertama kali baru jadi 1-2 lagu, dan memang karena awalnya berencana 1-2 lagu kan, itu seragam lah, semua yang kami rasakan secara internal. Kami ingin menulis ini dan semuanya mufakat untuk itu. Enggak ada yang benar-benar berseberangan, kayak, “Kayaknya enggak menulis tentang ini, deh. Menurut gue ini enggak ada urgensinya.” Cuma, tetap ada proses di mana gue menceritakan ke mereka.

Misalnya di “Padi Milik Rakyat”, itu pengalaman pribadi gue. Sesuatu yang pas “Peradaban” lahir, gue langsung ingat momen itu lagi dan kayak, “Oh, gue ingin menulis tentang ini. Gue mau kontak dia lagi, gue ingin menulis tentang ini lagi.” Cuma, lagi-lagi karena mereka enggak pernah merasakan itu, mereka enggak kenal si bapak ini siapa, gue harus mengobrol ke mereka kayak, “Ini lo, maksud gue. Gue pernah dapat ide karena dulu gue kayak begini.” Gue menceritakan itu. Akhirnya, setelah semuanya dijelaskan dengan apa yang ingin gue sampaikan, semuanya kayak, “Oh, iya.” Kami setuju kalau itu penting. Cuma, tetap harus ada proses itu, awalnya.

Mungkin ada persamaan dengan Cholil Mahmud di Efek Rumah Kaca. Kalau ingin mengangkat topik, dia juga tidak ingin anggota bandnya ikut terseret konsekuensinya kalau mereka tidak setuju seratus persen.
Kami sih seratus persen setuju semuanya. Cuma, kalau dibilang enggak ada keresahan atau ketakutan sama konsekuensinya, bohong, lah. Suka ada bercanda internal, kayak, “Kalau misalnya kenapa-kenapa, narahubungnya gue, nih!” [Tertawa] Terus Adnan bilang, “Gue sih kalau ditangkap tinggal bilang yang menulis lirik di Bintaro, enggak di sini!” [Tertawa] Terlepas dari bercandaan itu, fakta bahwa anak-anak kasih lampu hijau semua – “Oke, gue yakin sama materi ini, gue mau ini bisa didengar sama ribuan orang” – itu memperlihatkan kalau mereka merasa ini penting dan gue siap dengan apa pun sehabis ini.

Berapa lama bikin lagu-lagu ini dari nol sampai jadi?
Dua malam sih, sebenarnya. Benar-benar dua malam doang. Kami ada proses memoles semua materinya lagi. Satu setengah bulan, cuma itu sudah sama rekaman dan poles semuanya. Cuma, buat gue ketemu kunci pertamanya apa dan ditutup dengan nada seperti apa, outro-nya berapa panjang, jedanya berapa panjang, itu benar-benar cuma dua malam. Ada yang sangat berubah sih, cuma semuanya, lima-limanya, dua malam itu. Gue enggak tahu kesurupan apa saat itu, cuma gue bisa kelarkan ini semua dalam waktu dua malam. Walaupun waktu itu liriknya belum ada, gue sudah tahu ini mengomongkan apa. Itu yang bikin gue yakin kalau, “Oh, ini penting.” Gue menulis sudah kayak air. Berarti memang sudah ada, tinggal dikeluarkan.

Gue percaya misalnya mengada-ada apa pun yang ingin gue omong, pasti enggak bakal secepat itu kelarnya. Maksudnya, dibandingkan dengan Multiverses, itu pun menurut gue penting, cuma mungkin investasi dari hati gue yang gue taruh di situ beda. Di situ gue pikir, “Ini album pertama, harus ada pembuktian banget.” Pikirnya lebih aspek itu, gue enggak bisa bohong. Penulisannya jadi hitungan tahun, agak lama. Beda sama sekarang. Mungkin justru karena waktu itu menggali sendiri apa yang ingin gue omongkan.

“Gue menulis sudah kayak air”

Sekarang ini lima-limanya benar-benar apa yang kejadian, apa yang gue rasakan, apa yang orang pernah omong ke gue terus kena. Kayak pertama kali gue dengar cerita si bapak (di Wonogiri), atau pertama kali gue lagi makan sate dekat rumah gue, terus dia bilang, “Orang kira kita lupa, kali ya.” Gue pikir, “Anjing, pintar ternyata si tukang sate.” Gue enggak menyangka. Memori-memori kayak itu keluar lagi semuanya. Terus gue mau menulis ini. Beberapa yang bisa gue kontak lagi, gue ajak mengobrol lagi dan jadi. Kurang lebih begitu.

Bisa dibilang Multiverses adalah hasil proses sekian tahun, dan karena itu album pertama kalian ingin memasukkan semuanya ke dalam. Mungkin karena di bawah alam sadar merasa takkan ada kesempatan lagi. Sedangkan mini-album ini adalah apa yang ada sekarang langsung dikeluarkan, sehingga menjadi lebih fokus.
Mungkin, karena reaktif banget. Ada yang sadar momen di YouTube, di video vertikalnya “Peradaban”, ada cuplikan Indonesia kalah sama Malaysia. Itu kejadian kemarin, videonya beredar hari ini. Tapi memang prosesnya benar-benar seperti itu.

Kalau ada yang bilang lu sebagai seniman, ya enggak salah reaktif. Cuma, jadi kesannya enggak tulus karena lu merespons aja. Tapi menurut gue, konsep dari mini-album ini, dorong utamanya memang respons motorik, reaktif. Kayak baca berita, terus gue dalam hati cuma omong, “Anjing, lu!”, terus gue ingin menulis itu, dan akhirnya keluar. Makanya cepat, sih.

Kenapa mengajak Sir Dandy di “Apa Kata Bapak”?
Dari zaman dulu gue sudah dengar Acong. Spotify belum ada, di mana pun ketemu, gue dengar di situ. Dari zaman Teenage Death Star gue sudah dengar, gue sudah tahu dia. Terus kemarin di kantor gue, Double Deer, kami lagi bikin acara bincang-bincang dan (ingin) pemandunya Acong. Akhirnya gue ketemu, urusan buat kerjaan. Pas pertama kali mengobrol langsung, gue langsung omong, “Mas, gue ngefans banget ama lu dari dulu.” “Oh, ya?” Dia ketawa-tawa doang.

Habis kelar rapat, langsung gue tembak. Kayak, “Gue kekurangan satu skit nih. Lu mau isi enggak sebagai Sir Dandy?” Itu orang kayak enggak dipikirkan dulu, kali ya? “Ya sudah, enggak apa-apa. Kirim saja liriknya, sama lagu-lagu yang sudah jadi.” Terus pas dia tanya, “Konsepnya apa?”, gue bilang, “Terserah, respons saja liriknya. Apa pun.” Pas dia kasih ke gue, dia bilang, “Ini konsepnya omong kosong, kali ya!” Gue pas pertama kali dengar, mengakak banget. Ini pengulangan banget dengan suaranya dia yang kayak begitu, kan. Kayak RRI.

Cuma, pas gue pikir-pikir – gue mengobrol sama anak-anak juga – mungkin bisa saja ada hubungannya, sih. Cuma, gue enggak tahu. Gue enggak pernah percaya kalau Acong itu orang yang asal-asalannya enggak dipikirkan. Gue yakin pasti ada maksud dan tujuan dia memilih definisi Tut Wuri Handayani setelah membaca semua lirik gue. Makanya kayak gue bilang, sebenarnya semboyan itu kalau lu terapkan bukan ke pendidik, cuma ke pemimpin, bisa juga sih kena. Semboyannya omong begitu: “Pemimpin di depan kasih contoh, yang tengah kasih ide buat pemimpinnya, yang belakang kerja.” Lucu saja, dalam satu semboyan itu ada kayak subtext hierarkis.

Solois juga vokalis Teenage Death Star, Sir Dandy / dok. @sir_dandy (instagram).

Gue melihatnya, dalam konteks album, kalau pemimpin yang kacau, yang tengah ama yang bawah bagaimana mau fungsi? Bagaimana mau kerja? Dan pas saja, tiba-tiba gue taruh skit-nya di depan lagu pertama “Kami Belum Tentu” dengan chorus “Pemimpin di esok hari, adakah yang cukup mampu?” Pas gue dengar kayak itu, gue lihat dua lagu itu bersambung: “Anjing, menyambung juga ya. Apa ini maksudnya?”

Tapi gue enggak ingin tanya sama sekali. Gue akan banyak ketemu Acong, cuma gue enggak akan pernah tanya maksudnya apa. Soalnya kalau ternyata enggak ada artinya, itu akan memilukan buat gue! [Tertawa] Enggak apa-apa juga, sih. Cuma ya sudah, itu buat gue jadi rahasia Ilahi saja. Senang saja. Dulu buat gue, Teenage Death Star itu keren banget. Sir Dandy juga buat gue – sebelum ada Jason Ranti – mungkin musik akustik “folk” kayak begitu yang paling lucu, yang bisa bikin orang mengakak, dia doang. Dan dia yang buka album gue. Gue sudah bilang ke anak-anak, “Gue enggak tahu, hasil jadinya apa pun, gue terima-terima saja sih. Acong, soalnya!” Akhirnya jadi! Dia kaget, ternyata. “Waduh, jadi jazz begini!”

Dari mana idenya untuk membuat musiknya seperti itu?
Tadinya gue ingin bikin bumper ala RRI, cuma gue ingat, “Oh, Arian dan Seringai sudah pernah pakai. Kayaknya enggak, deh.” Terus mungkin gue enggak bakat bikin track yang seperti itu, rasanya. Gue cari saja yang mungkin cocok sama suaranya Acong dan jadi pembuka yang pas banget. Terus jadinya kayak itu. Gue lihat pas bagian dia sudah omong Tut Wuri Handayani ada yang kurang. Akhirnya gue kasih suara pianika di kanan, itu dari “doe a deer, a female deer” (lagu “Do-Re-Mi” dari musikal The Sound of Music), lagu kalau anak-anak belajar pianika di sekolahan. Tapi sumbang dan gue enggak rapikan [tertawa], karena konsepnya memang omong kosong! Ya sudah, jadinya kocak.

Gue enggak yakin semua orang bakal ketawa. Pasti ada kayak, “Ini apaan, sih?” Terutama kayak pendengar Feast sekarang yang muda-muda, mungkin mereka bahkan enggak tahu Sir Dandy itu siapa, Teenage Death Star itu siapa. Cuma gue enggak peduli itu, gue lebih melihat ini kesenangan kami pribadi. Kami berlima ngefans banget ama dia. Dia orang yang bikin gue pertama kali kenal sama Hogi: “Oh, lu DJ Hogi yang ada di lagunya Acong!” [Tertawa] Selegendaris itu buat gue, Lesson #1 albumnya dia! Jadi oke banget. Akhirnya gue taruh depan.

“Kami Belum Tentu” yang terinspirasi obrolan dengan tukang sate.
Iya. Enggak cuma dari dia doang sebenarnya, cuma salah satu kalimat yang kuat banget dan mencantol buat gue pas menulis itu, ya kalimat itu. Gue omong Prabowo sama dia. Menurut dia pribadi, kalau orang segede Prabowo kasusnya mencuat banyak banget dan orang-orang tetap enggak percaya, dia bilang mungkin itu cuma tutup mata. Dia bilang, “Saya yakin sebenarnya orang-orang pada tahu, atau mungkin percaya enggak percaya. Cuma, mungkin dengan keadaan hidup mereka sekarang dan janji yang diberikan, itu kayak opsi terbaik buat gue pilih dia.”

Baca juga:  Buruk Muka, Warganet Dibelah: Tanggapan Untuk Anto Arief Soal PP 56/2021

Menurut gue, itu kuat banget yang dia omong. Kayak, seberapa rapuhnya nurani lu sampai lu rela pilih orang kayak itu? Pilih orang yang kasusnya sudah separah itu, untuk dijadikan pemimpin? Kayak lu harus membohongi diri lu sebesar apa, sampai lu bisa coblos muka dia dan mendukung dia sepenuh hati? Cuma, tukang sate itu bilang, “Saya saja enggak ketipu!”

Feast di Synchronize Fest 2018 / dok. Pohan.

Di momen itu gue pikir, selama ini gue punya prasangka orang-orang yang pilih dia – atau mungkin kalau konteksnya dilepas dari figurnya – orang-orang yang pilih siapa pun ini benar-benar enggak tahu kasusnya. Mungkin enggak, sih. Mungkin tahu-tahu saja, sebenarnya. Cuma, enggak keberatan dengan itu. Dari situ kan muncul, entah pertanyaan atau pernyataan, “Berarti orang-orang ini sebenarnya enggak lupa dong, kasusnya apa.” Itu pertanyaan besar dalam lagunya. Jadi sebenarnya siapa yang dikelabui? Apakah orang yang dipilih itu merasa berhasil, kayak, “Gue cuci tangan dan orang-orang memilih gue”? Atau orang-orang yang pilih dia sebenarnya tahu? Atau sebaliknya?

Dan pada akhirnya, pertanyaannya jadi merembet: Yang angkatan gue, yang generasi lahir ’93 ke bawah, peduli enggak sih ama itu? Dan kenapa kami melakukan hal-hal yang kami lakukan sekarang? Pada akhirnya ada alasannya, sih. Maksud gue, misalnya nomine (beasiswa) LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) menganggap negara lu patut diperjuangkan, pasti balik kok orangnya. Cuma, kenapa sekarang kasusnya…gue belum baca data buat omong ini, cuma, yang gue dengar kenapa banyak banget (penerima beasiswa yang tidak pulang ke Indonesia), sampai panitianya keteteran kayak, “Gue enggak mau kasih orang-orang seperti ini kuliah ke jurusan ini karena pada enggak balik.” Atau kenapa kuotanya dikecilkan, gara-gara banyak banget yang enggak balik. Banyak yang uangnya dipakai buat apa.

Selain kesalahan secara sistematis, pasti ada alasan kenapa beasiswa yang sebenarnya tujuannya adalah biar anak muda balik dan membangun negara, dipakai sama anak-anak buat cabut dari Indonesia, dapat PR (permanent residence) di mana, nikah ama orang mana, kerja di mana. Lucu saja jadinya, buat gue.

Tujuan lagu ini lebih untuk menyoroti hal-hal itu dan membuat orang-orang berpikir. Tapi solusinya?
Kayaknya lagu Feast enggak pernah kasih solusi, sebenarnya. Karena buat gue pribadi yang menulis lirik, seni itu tanda tanya, bukan jawaban. Gue mengangkat kaca saja: “Ini masalahnya ada.” Gue enggak pernah memihak ke siapa pun kok, sebenarnya, di semua lagu dan lirik yang gue tulis. Kalau lu merasa tersinggung, pasti ada alasannya kenapa lu merasa tersinggung. Jadi ya kayak tadi gue bilang, ini kaca doang.

Musik di mini-album ini tidak sebising Multiverses, dan cara bernyanyi juga tidak banyak berteriak seperti dulu. Kalau bernyanyi, apakah memang keluarnya seperti orang yang jauh lebih tua? Atau itu sebuah karakter yang berusaha diciptakan?
Kalau dibilang sebuah karakter yang berusaha gue ciptakan, mungkin awalnya enggak sengaja, sih. Dari pertama kali gue nyanyi buat Feast, gue merasa lirik seperti ini enggak meyakinkan untuk dibawakan dengan suara gue yang asli. Akhirnya gue ambil 1-2 range lebih rendah, kan. Ada beberapa lagu yang memang ambil tinggi, atau pakai layer suara gue yang biasa. Cuma, pada akhirnya, track utamanya enggak kayak itu, dan itu juga yang dibilang Tama, produser kami: “Kayaknya bukan ini yang dijadikan track utama. Seperti biasa, lu ambil yang berat di tengah.” Memang secara naratif, lagu-lagu di Feast itu rasanya kayak, “Stop, lu lagi ngapain? Lu lagi makan? Stop, gue mau omong.” Dan gue duduk depan lu.

“Kayaknya lagu Feast enggak pernah kasih solusi, sebenarnya. Karena buat gue pribadi yang menulis lirik, seni itu tanda tanya, bukan jawaban”

Feast lagi kolaborasi ama aktivis, dia videografer yang sering bikin dokumenter. Dia sempat buka sayembara di Twitter, ada enggak yang mau pakai footage dia? Ternyata banyak yang minta, dan gue baru tahu kalau yang minta ada band-band yang gede banget juga. Dan ternyata Feast yang dapat. Pas gue tanya, “Kenapa, Mas, lu pilih Feast?” Dia bilang, “Karena lagunya Feast rasanya kayak lu lagi duduk, bukan kayak dikasih kritik yang selentingan, cuma ibaratnya ini ada kue, lu dihajar depan muka. Kena lu, gue tampar.” Frontal banget, dan benar kata produser gue sih: “Lu harus ambil suara yang seperti ini kalau lu mau jadi orang yang lagunya menghentikan aktivitas apa pun.” Gue minta perhatian penuh. Lebih angker juga rasanya dengan suara seperti itu.

“Padi Milik Rakyat” itu kilas balik ke masa SMA?
Dulu di SMA gue memang ada program, dan gue datang ke sana. Lupa gue berapa lama, dua minggu atau satu setengah minggu? Cuma, lu ngobrol tiap malam, tiap pagi, tiap sore dengan orang sama, dengan keluarga yang sama, dan enggak ada aktivitas lain di sana. Listrik agak sulit, HP benar-benar enggak nyala. Dibilang mendalam, ya mendalam banget buat gue saat itu. Gue merasakan anaknya si bapak angkat gue benar-benar harus jalan delapan kilometer ke sekolah. Naik turun gunung. Gue cuma pernah coba ikut sekali di hari kesekian, terus gue bilang besoknya, “Enggak, deh! Enggak lagi! Gue enggak kuat!” [Tertawa] Terus besok-besok gue kalau diantar naik motor. Manja banget.

Cuma, orang-orang sangat ramah di pedesaan sana, di Wonogiri. Di hari keberapa mereka mulai cerita serius, buka-bukaan, dan ternyata suram banget latar belakangnya. Kayak, “Gue cuma dapat segini dari segala banyak yang gue bikin dan gue kirim buat perkotaan dari sini.” Dan bahkan hitungannya keluarga angkat gue itu cukup mampu, karena anaknya punya bengkel kecil kayak bengkel-bengkel motor yang kita suka lihat di pinggir jalan kalau di Jakarta. Dan buat mereka, itu cukup mampu. Untuk keluarga (angkat) gue yang bisa dibilang cukup mampu, mereka masih cukup kesusahan.

Pas gue tanya kenapa, kok bisa kayak begitu, ya mereka merasa dibohongi secara sistematis saja, sih. Karena kesannya sistem ini mengimbau keluarga-keluarga di sana untuk terlibat ke dalam sebuah model bisnis tanpa warga-warga ini punya pemahaman yang cukup kuat tentang apa itu model bisnis, dan apa itu balik modal, keuntungan bersih, keuntungan apa.

Jadinya gue miris dengarnya: “Ah, serius Pak? Bapak cuma dapat segini banyak?” Kalau gue lihat, kebunnya gede. Kalau dikelola sama orang kota, itu sudah bisa buat menghidupkan anaknya dan sekolah di tempat lumayan. Maksudnya, lu juga pasti sering dengar cerita kayak orang-orang kota yang punya lahan doang di Bogor atau di mana. Itu bisnis bapaknya dan keluarganya hidup dari situ. Dan lahan-lahan di sana segede itu.

Cuma, kenapa ini orang bentuk rumahnya seperti ini, tinggal seperti ini? Lu harus gabungkan bak mandi sama kolam lelenya. Gue enggak habis pikir. Pas dia omong kayak begitu, jadi masuk akal juga. Semuanya dikelola sama orang lain. Pas gue tanya, “Ini tanahnya punya siapa?”, punya mereka. Makanya gue bingung, apa yang lu punya sendiri tapi yang diuntungkan bukan lu.

Kalimat itu keluar di situ: “Lauk, jok mobil, motor, itu semua mungkin punya saya.” Maksudnya enggak secara literal, cuma maksud dia kayak, “Kontribusi gue buat pembangunan kota seperti itu. Cuma, kenapa sampai sekarang anak gue masih harus bolak-balik delapan kilo kalau mau ke sekolahnya? Kenapa jalannya bentuknya masih kayak ini?” Itu ada lubang yang kalau mobil kena situ ban pecah. Gede banget, dan itu makan tiga perempat jalannya. Buat pegunungan kecil yang banyak bikin ternak dan punya kebun di sana, sumber uangnya dari sana, kenapa akses ke sananya enggak pernah dibenarkan? Gue enggak habis pikir, waktu itu.

Itu semua gue catat waktu itu, karena memang tugas buat sekolah gue. Jurnalnya hilang, cuma kalimat itu gue ingat persis, dan di luar dugaan pas gue coba-coba cari kontaknya, masih ada. Gue SMS, gue telepon, terus kayak, “Ya sudah, silakan. Enggak apa-apa.” Lagi-lagi, hal ini gue lakukan karena kalau ada yang bilang, “Lu enggak pantas omong kayak ini. Lu ke kantor naik mobil, keluarga lu mapan.” Ya, gue tahu gue enggak pantas.

Makanya itu bukan kalimat gue. Gue cuma kasih lagu ke kalimat yang dibicarakan sama mereka. Dan lagi-lagi gue bilang, gue bawa ini karena ini penting. Ini kejadian benaran. Lu mau batu-batuan ama gue, kayak, “Lu enggak pantas omong ini,” ayo, gue punya ceritanya. Gue kenalkan ke bapaknya, bisa. Ini masih kejadian. Itu saja sih kalau dari gue.

Andai tidak punya pengalaman hidup bersama mereka itu, berarti tidak akan berani untuk mengangkat ini?
Enggak pantas saja, menurut gue. Kalau misalnya enggak kayak begitu juga, gue juga enggak mau menulis-nulis kayak ini. Gue enggak mau jadi anak manja yang kayak mencari-cari hal yang ingin diomongkan saja, biar terlihat kayak punya bobot. Karena menurut gue, di saat lu menulis lirik atau bikin musik, lu harus yakin…mungkin bukan yang paling pantas, sih. Cuma, lu (harus yakin) pantas omongkan itu. Kalau lu enggak pernah merasakan kemiskinan, ya jangan omong kemiskinan. Kalau lu mau omong kemiskinan, cuma lu enggak pernah miskin, ya minta izin, lah. Lu mengobrol sama orang, dan harus dapat restu langsung dari dia kalau, oke, lu tulis lagu tentang ini. Jangan sembarang.

Gue sering banget temu band atau siapa pun, musiknya keren, cuma menurut pendapat pribadi gue terkesan kelihatan banget – kalau di kuping dan di mata gue – dibuat-buat. Atau lu nulis ini, cuma lu enggak baca. Riset, lah. Maksudnya, mungkin bukan riset besar, cuma apa, kek. Ada pemahamannya dulu. Gue pernah ketemu lagu rock yang kayak, “Perempuan zaman sekarang datang ke mal, belanja-belanja make-up.” Terus kenapa? Maksud gue, apa salahnya?

Hal-hal kayak itu yang gue enggak pernah mau banget di Feast. Yakin dulu, dan anak-anak juga sudah sepaham ama gue. Lagu bisa cepat, bisa jadi semalam. Lirik bisa enam bulan gara-gara gue enggak yakin pantas omong ini, atau ini hal yang baik untuk dibicarakan. Kayak materi-materi tiga bulan ke belakang, dari zamannya “Peradaban” kami keluarkan, kesannya sensitif banget dan banyak banget sebenarnya yang kayak merasa…bukan disenggol sih, cuma menghardik kami balik. Cuma, dari kami berlimanya sih kayak, “Oh ya, gue mantap kok omongkan ini. Gue yakin sama apa yang gue omongkan.” Enggak sembarang.

Foto .Feast yang terinspirasi lukisan The Last Supper oleh Leonardo da Vinci dan memuat berbagai simbol yang dinilai menakutkan masyarakat Indonesia / Foto: Mikael Aldo/Feast

Apakah merasa terbebani mengangkat hal-hal yang bukan pengalaman langsung tapi yang diilihat dengan mata sendiri dan dialami orang lain?
Gue pernah baca Nina Simone omong begini, “Tanggung jawab seniman paling besar adalah untuk mencerminkan zaman.” Lu menciptakan karya yang memang berbicara tentang jamannya, dan gue sebagai penggemar besar Kendrick Lamar, dia juga ternyata pernah mengutip Nina Simone omong kayak itu. Kan Kendrick Lamar omong itu tujuannya seniman.

Jadi, ya, perlahan-lahan. Feast masih band muda, band kecil banget. Belum segede Iga (Massardi, Barasuara) atau Arian atau siapa, cuma gue lihat kekuatan buat mendorong isu ini keluar, ada. Orang-orang yang dengar gue, mungkin orang-orang yang enggak terlalu mendalami isu-isu ini. Jadi pas gue lihat sudah ada kemampuan buat kami angkat itu, ya sudah saatnya mungkin, sekarang. Dan benar sih, pas materi mini-album ini jadi, gue dengar lagi semua, gue yang kayak, “Anjing, ini berat banget ya.” Kayak begitu. Ini bebannya mungkin enggak di gue juga sepenuhnya, cuma ada rasa kayak, “Gue bawa suara orang kali ini. Enggak boleh sembarangan.” Jadi detail-detail semacam video-video di lagu ini, gue enggak pernah mau monetize. Hal-hal kayak itu harus jelas, harus dipikirkan implikasinya bagaimana.

“Feast masih band muda, band kecil banget”

Balik lagi sejenak ke “Kami Belum Tentu”. Ini cerita yang gamblang, nyata dan apa adanya, sedangkan Multiverses mungkin ada kisah nyatanya tapi…
Direka ulang.

Tapi di lagu itu masih menyinggung soal Earth-02, Earth-03. Itu kenapa? Biar ada kontinuitas dengan Multiverses?
Judul album pertama Feast adalah Multiverses memang gara-gara itu mau jadi fondasi besok-besok (kalau) kami bikin lagu, semua dalam dunia multi-semesta ini. Cuma, kenapa gue mencetuskan secara penulisan ada Earth-02 gara-gara enggak mungkin dalam perjalanan gue sebagai anggota Feast gue enggak ingin omong hal-hal yang memang benar kejadian. Earth-02 dunia nyata kan, Earth-02 sekarang. Dan pas gue menulis itu di “Kami Belum Tentu”, itu mengaburkan batas saja.

Album Feast – Multiverses

Gue sadar kalau Earth-03, Earth-04 itu fiksi. Jadi di saat gue bilang di Earth-03 – di album Multiverses, kalau orang baca bukunya (God Spoke to Me Last Night, kumpulan jurnal dan cerita pendek yang beredar secara terbatas dengan CD Multiverses) – “Anjing, ini hancur banget ya. Kerusuhan, pemerkosaan.” Ya, itu cerita. Jangan sampai kejadian.

Cuma, banyak yang kontak gue. Dia bilang, “Gue jadi baca buku lu, takut deh. Kalau tahun depan kejadian, bagaimana ya?” Ya, contohnya lihat sekarang. Orang mengkritik suara adzan kegedean, bukan melarang adzan, bisa diobrak-abrik daerahnya dan dipenjara. Yang melakukan hal yang lebih berat, dapat hukuman segitu doang. Menurut gue, apa yang gue tulis di album Multiverses itu mungkin banget sih. Enggak muluk-muluk kok. Gue enggak percaya kalau manusia itu jahat secara inheren, cuma orang-orang jahat ada, lah. Dengan pemicu tertentu, itu bisa kejadian.

Sebenarnya yang mau diangkat “Peradaban” itu apa?
“Peradaban” itu tadinya kan satu lagu spesifik yang mau dipakai buat omongkan bom Surabaya. Cuma, dalam penulisannya, ternyata bikin gue gatal. Gatal melihat orang yang kayak berusaha banget mengubah peradaban sesuai dengan bayangan yang dia punya. Mau apa, sih? Maksudnya, sehebat-hebatnya Ozymandias zaman dulu, ujung-ujungnya yang ditemukan cuma kepalanya di batu. Dia dulu menaklukkan berapa bangsa, jadinya begini doang.

Pada akhirnya, lu omong budaya ketimuran, omong ini harus diubah, Pancasila enggak sesuai, enggak boleh upacara bendera…dari jaman agama lu belum datang, orang Jawa, orang Bali sudah telanjang dada. Jadi yang lu bilang budaya ketimuran itu bukan budaya paling tua di sini. Itu jauh lebih muda umurnya dari apa yang sudah ada.

Jadi “Peradaban” sebagai sebuah lagu, dia mungkin jadi kayak semacam cara – entah kasar, entah enggak, terserah persepsi orang – cuma untuk omong kayak, “Biarkan Bumi Pertiwi napas.” Enggak usah mengebom orang. Lu mau mengajak keluarga lu buat melakukan bom bunuh diri ramai-ramai, minggu depan orang masih ke H&M, masih beli baju. Lo mau memasung atau lemparkan batu ke penyanyi pop yang bajunya terlalu seksi, beberapa bulan lagi Ariana Grande mengeluarkan single lagi dan orang-orang masih dengar. Ratusan ribu orang di Indonesia masih bakal dengar itu. Jadi pada akhirnya putar saja terus.

“… manusia kadang-kadang merasa dirinya lebih besar dari peradaban”

Maksudnya, kalau memang apa yang ingin lu ciptakan itu bukan aspirasi terbesar dari masyarakat sebagai sebuah sistem, ya enggak bakal kejadian. Jadi jangan dipaksakan, enggak usah juga. Lu capek, jadi ada korban, semuanya capek. Sia-sia saja, jadinya.

Cuma, waktu gue menulis, gue enggak ingin omong dari sudut pandang yang kayak, “Teroris bangsat!” Atau kayak, “Lu kenapa mengebom?” Karena menurut gue, sebenarnya itu gejala. Masalah lebih besarnya adalah, ya memang manusia kadang-kadang merasa dirinya lebih besar dari peradaban. Santai saja, enggak usah begitu-begitu amat. Gue lihat perspektifnya dari seberapa besar sih sebenarnya, ide seorang manusia untuk menaklukkan peradaban. Ternyata enggak begitu-begitu amat.

Lucu sih, kalau omong “Peradaban”. Kami enggak menduga ini bakal sukses secara komersial, atau streaming-nya bakal tinggi banget, meledak kayak sekarang. Waktu Feast mengeluarkan “Peradaban”, itu sepenuhnya idealis saja. Kayak, “Inilah yang pertama, ini yang harus pertama. Dari pesannya semua, ini harus edar pertama.” Cuma, lagu itu idealis banget. Outro-nya berapa menit, intro-nya semenit sendiri, dan chorus-nya mengulang-ulang doang. Gue enggak menyangka ternyata yang dengar sebanyak itu, dan sampai sekarang kami sudah mengeluarkan single kedua, single ketiga, masih ada yang share itu ulang. Masih masuk di DM (direct message) gue pribadi, di DM-nya Feast. Mungkin karena memang sebenarnya itu yang dirasakan sama orang. Kayak, lu kenapa memaksa celana gue harus mengatung, lu kenapa memaksa gue kayak, “Enggak bisa, lu harus setiap hari Minggu dari jam segini sampai jam segini.”

Jadi yang gue lihat dari lagu itu, di satu sisi manusia itu lebih gede, mungkin, dari peradaban, karena kadang enggak mau diatur: “Gue enggak mau diatur dengan ajaran apa pun yang ada.” Cuma, di satu sisi lain, kalau lu lihatnya jauh lebih makro, ide lu mau segede apa pun, ya Genghis Khan cuma jadi tulang kan, sekarang. Begitu jadinya. Lagu itu kesannya kayak sesuatu yang dibicarakan dari sudut pandang, perspektifnya Pertiwi. Jadi sebenarnya gue enggak omong Indonesia, bahkan. Cuma, orang sangat mengaitkan itu dengan apa yang kejadian sekarang.

Baca juga:  Catatan Retrospektif Album "Retropolis" Dari Naif

Kesimpulannya adalah peradaban akan selalu lebih dari manusianya.
Iya.

Kalau “Minggir!” sepertinya ada rasa Arctic Monkeys.
[Tertawa] Gue lupa, ini bahkan gue tulis sebelum Tranquility Base Hotel & Casino sudah keluar. Seharusnya sudah gue tulis sebelum itu sih, cuma mungkin waktu merapikan drumnya lagi, Tranquility Base baru keluar. Jadi, sangat terpengaruh album itu. Terus, ya memang anak-anak sudah dengar Arctic Monkeys dari jaman kita belum lepas single pertama kami. Cuma, waktu itu kami belum punya kemampuan untuk menulis lagu kayak begitu. Pas sudah bisa, pamer: “Gue bisa, nih!” Pas saja, menurut gue, apa yang ingin ditulis di lagu itu, dengan suasana melodi yang kayak begitu.

Kalau omong lagu ini, mungkin lebih omong teknis. Produser gue ketakutannya sama, kayak, “Bas, ini Arctic Monkeys banget deh. Liriknya lu hilangkan, gue bisa nyanyi ‘Why’d You Only Call Me When You’re High?’ di sini!” kata dia. Cuma, gue bilang, “Ya sudahlah, kalau misalnya memang ada orang bilang lagunya mirip banget sama apa, jangan lu tutup-tutupi dan bilang enggak.” Kesannya lu jadi kayak plagiat.

Ya, memang gue mengakui ini Arctic Monkeys banget. Gue dengar dia dari dulu, dari jaman gue SMP kok. Humbug itu salah satu album terbaik, menurut gue, yang pernah ditulis sama orang di muka bumi ini. Jadi kalau dibilang ini mirip Arctic Monkeys, ya sori-sori saja, tangga nada cuma tujuh. [Tertawa] Ya, gue dengarnya itu.

kalau dibilang ini mirip Arctic Monkeys, ya sori-sori saja, tangga nada cuma tujuh

Cuma, jadi seru sih lagunya. Gue enggak menyangka jadinya kayak begitu. Tepatnya, gue enggak menyangka anak-anak ternyata bisa menulis dan bikin lagu kayak ini juga. Anak-anak yang saban menulis “Blackwater” bisa bikin lagu kayak ini.

Di Indonesia banyak yang mengaku suka Arctic Monkeys, terutama album AM. Tapi kayaknya baru Feast yang bikin lagu yang seperti AM, dan mungkin itu karena menggemari hip-hop juga, sedangkan band-band lain belum tentu.
Mungkin. Padahal sebenarnya AM sendiri sebagai sebuah album terpengaruh oleh hip-hop banget, kan. Jadi mungkin orang mau bikin lagu yang referensinya AM, enggak sampai gara-gara dia enggak dengar hip-hop.

Sedangkan pemicu liriknya adalah Ask.fm.
Gue kalau dibilang enggak kangen, bohong sih. Kangen sih gue. Bisa dibilang ada kepuasan ego di saat orang bertanya dan merasa lu kredibel buat menjawab sesuatu. Cuma, lo capek juga, pasti: “Anjing, ini pesan benci lagi.” Sehari bisa sepuluh, minimal. Cuma ya itu, gue melihat yang kayak, “Ini orang sok banget ya. Dokter bukan, apa bukan, jawab kayak begini.” Kacau saja, menurut gue. Menyesatkannya itu parah, mentok. Itu sesuatu yang sudah gue rasakan lama, cuma lebih diperdalam lagi.

Gue bikin layanan sendiri (BagiKata) waktu itu sama teman-teman gue (untuk) orang-orang ini yang memang punya masalah kesehatan mental atau masalah apa pun lah, di keluarga atau di pertemanan. Itu berat banget, lo. Karena ada NDA (non-disclosure agreement), jadi gue enggak bisa cerita spesifik apa saja, karena itu juga perihal identitas orang yang masih ada sampai sekarang.

Cuma maksud gue, pengalaman itu bikin gue jadi bisa naruh kaki gue di dalam sepatu orang lain. Gue pernah mengantri ama teman gue di bioskop, terus dia bilang, “Ini mengantri apa sih, panjang banget? Oh, pakai T-Cash-nya Telkomsel. Oh, diskon Rp 20.000 atau Rp 5.000.” Terus dia bilang, “Murah banget segitu. Orang rela nih antri sepanjang ini?” Waktu itu yang gue bilang ke dia cuma, “20 ribu lu sama 20 ribu dia beda.” Dan menurut gue itu diterapkan ke banyak hal lain.

Makanya, kita enggak pernah tahu apa yang lu bilang di Internet seberapa berpengaruhnya buat orang. Gue kesal banget melihat orang-orang kayak, “Ya sudahlah, serang saja. Dia sebagai figur publik seharusnya siap untuk menerima serangan seperti ini. Kalau lu sebagai figur publik harusnya sudah tahu kalau ini harga yang lu dapat dari jadi seorang figur publik.” Tapi bukan hak lu buat mengatai mereka! Kayak begitu, maksud gue. Siapa yang bilang lu jadi punya keleluasaan untuk omong jauh lebih kasar ke orang yang lu nggak kenal, atau dikenal sama semua orang. Enggak juga sih, menurut gue. Kalau lu enggak bisa omong sesuatu yang baik, ya enggak usah omong sekalian, menurut gue.

Bukan berarti gue nggak pernah kayak begitu, ya. Waktu itu gue secara teknis mungkin bisa dibilang enggak mengatai siapa-siapa. Cuma, jadinya omong pedas banget. Gue mencuit begini: “Kalau Reality Club vokalisnya bukan Chia (Fathia Izzati, yang juga terkenal berkat video-videonya di YouTube), ada yang dengar apa enggak?” Wah, itu ramai gila. Gue sampai ditegur sama anak-anak, “Lu kenapa omong begini?” Sampai sekarang, kami ama mereka enggak pernah ada masalah apa-apa. Dan waktu itu gue sempat bersikeras kayak, “Enggak kok, ini sebenarnya biasa saja. Kenapa lu begitu banget?” Tapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, ya buat lu biasa banget. Lu enggak tahu rasanya mungkin jadi Chia baca itu. Atau rasanya jadi anak-anak Reality Club baca itu, kayak, “Anjing, siapa sih ini orang?”

Baskara dan Adnan / @wordfangs (instagram).

Sebenarnya salah, sih. Kayak lu harus belajar dari kesalahan dulu buat jadi benar. Cuma, seenggaknya gue bersyukur pernah melakukan hal bodoh itu dan beberapa hal lain di Internet yang bikin gue kayak, “Ya sudahlah, kalau lu enggak bisa berkata yang baik, lu enggak usah omong.” Itu salah satu alasan gue matikan (akun) Ask.fm juga, daripada gue jadi menghakimi banget sama orang. Kan enggak ada namanya, kesannya lu cuma membalas orang tak dikenal di Internet, cuma lu enggak tahu dampak yang lu omong buat dia.

Terakhir, “Berita Kehilangan”. Dulu kenal baik dengan Raafi, atau cuma kenal karena satu sekolah?
Kalau di PL enggak ada yang enggak kenal baik sih, menurut gue. Hanya sedikit yang enggak kenal baik sama yang lain, karena sekolah yang senioritasnya sangat tinggi, lelaki semua yang bikin lu harus ke mana-mana bareng, apa-apa bareng. Seenggak dekatnya gue ama seseorang di sekolah itu, gue yakin kalau dibandingkan dengan kacamata standar pertemanan di sekolah lain, gue jauh lebih dekat dibanding mereka melihatnya.

Dan kebetulan kalau sama Raafi – panggilan PL-nya Bolpan waktu itu – gue dua tahun dapat sekelas sama dia terus. Itu yang pertama. Terus ya memang karena di PL, lu main sama siapa pun. Gue main banget ama dia, setidaknya di sekolah. Mungkin gue enggak ikut lingkungannya dia tiap hari, main keluar. Gue lebih dekat sama beberapa teman dekatnya dia yang lain.

Cuma, bagaimana rasanya, sih? Lu masih umur segitu, 17 tahun saja belum bulat waktu itu. Lu melihat kejadian kayak begitu.

Ada di situ saat kejadian?
Gue enggak ada di situ waktu itu. Gue diajak, gue enggak ada. Itu ulang tahun salah satu teman gue. Waktu itu masih jamannya BBM, gue ingat banget. Gue lupa jam berapa itu ya, jam 2-3 pagi. Jamannya broadcast message, kan. Ramai banget di HP gue: “Cari orangnya! Cari orangnya!” Segala macam. Dan gue ingat banget, waktu itu ada satu pesan yang emang kayak permintaan tolong: “Yang baca ini, siapa pun sekarang, gue mohon…” Itu salah satu penyesalan gue. Kayak, gue baca doang, “Ini apaan sih?” Gue tidur.

Gue enggak tahu seberapa banyak bisa berkontribusi di keadaan itu. Dan gue enggak tahu seberapa banyak, kalau misalnya gue kontribusi, bisa mengubah keadaan saat itu. Gue memilih untuk tidur, dan PL bercandaannya suka tai. Pas pertama kali kayak, “Ya, teman-teman, Raafi sudah enggak ada,” gue baca, kayak, “Anjing, ini bercandaan apaan sih?” Karena sering banget keluar bercandaan kayak itu, dalam arti yang lain.

Pagi-pagi ibu gue masuk kamar. Ibu gue bertanya, “Si Raafi minggu lalu ke Singapura, dia berobat?” Karena dia memang ke Singapura. “Enggak kok, liburan setahu aku. Kenapa?” “Meninggal tadi pagi.” Dar! Pernah kan lu merasa dalam hidup lu, yang lu bangun, lagi mengantuk, lu dengar sesuatu, lu hilang total kantuknya, langsung tegap. Terus gue cek HP, itu yang gue baca tadi malam.

Gue menyesal banget. Enggak omong, gue cuma ganti baju, mandi, pakai baju hitam-hitam, menyetir ke rumah dia. Teman-teman gue yang di sana…lu bayangkan, anak umur 17 tahun, kuku dalamnya sudah coklat bekas darah. Sepatunya, Converse, Vans atau apa pun itu, sol putihnya sudah coklat. Kemeja sudah dikubur semua, karena bersimbah darah. Dan sampai titik itu enggak ada yang menangis.

Sampai akhirnya Ketua OSIS gue bikin pidato pas sudah mau dibawa ke (Taman Pemakaman Umum) Jeruk Purut, yang kayak, “Maafkan ya kalau Raafi ada salah.” Gue baru sadar di titik itu, “Teman gue umur 17 tahun meninggal. Ditusuk sama orang.” Wah, hancur sih. Campur aduk banget rasanya. Yang namanya menangis, menangis banget semuanya. Gue juga waktu itu. Terus dikubur.

Gue ingat-ingatnya masih sedih sampai sekarang. Kayak apa yang harus dilewati sama ibunya saat itu, apa yang harus dilewati sama pacarnya waktu itu. Apa yang harus dilewati sama…enggak usah anak-anak PL yang lain, enggak usah gue, teman-teman gue yang dekat juga sama dia. Itu sekali-sekalinya gue merasa Senin besoknya gue sekolah, dan dari masuk pagi sampai pulang enggak ada yang ketawa. Hening saja sekolahnya. Merasa kayak salah satu bagian dari anggota keluarga lu direnggut saja. Senin-nya upacara bendera, terus ada misanya. Waktu itu memasang foto dia gede banget.

Itu yang pertama gue ingat pas mau tulis lagu ini. Gara-gara kasus itu, gue jadi baca berita tentang kasus-kasus serupa. Ternyata banyak yang kejadian, yang enggak pernah terselesaikan. Penusuknya ketahuan siapa, cuman enggak dipenjara atau apa. Patah hati banget buat gue waktu ibunya bilang ke teman-teman gue, “Kita stop berjuang untuk kasus ini, ya. Tante enggak mau mengorbankan masa depan kalian.”

Karena itu kasusnya jadi panjang banget, dan kami waktu itu kelas 3 mau masuk kuliah. Lu enggak tahu waktu itu implikasinya kalau lu paksa kasusnya jalan. Kayak nama lu ada di media, di mana-mana, kampus enggak ada yang mau terima lu atau apa. Ibunya berkorban buat teman-teman yang lain. Ya sudahlah. Padahal kami tahu jelas. Maksudnya, siapa, dari kelompok mana dan lain-lain. Dilepas begitu saja. Dan yang gue tahu sih, buat anak-anak untuk melepas beban itu, kayak, “Ya sudah, gue rela kasus ini,” itu lama banget. Dan mungkin sampai sekarang dendamnya masih ada, gue yakin. Enggak mungkin hilang total.

“Teman gue umur 17 tahun meninggal. Ditusuk sama orang.”

Itu yang gue tulis, dan ada saja, waktu itu, yang lain. Kayak bait duanya, (yang dinyanyikan) si Rayssa Dynta ini, kan korban lain, dari ibu lain juga. Dia enggak mau disebut siapa, nama anaknya juga enggak mau disebut siapa. Cuma, gue tahu, gue minta izin dan mengobrol ama dia. Wah, itu lebih sedih lagi ceritanya. Banyak yang tanya, cuma gue enggak pernah menceritakan langsung karena menghormati dia juga. Cuman, gue minta izin ama dia, dan dia bilang, “Ya sudah, enggak apa-apa. Ini penting kok untuk diomongkan. Tante senang kalau punya semacam ‘sekutu’.” Lu enggak perlu merasakan, tapi lu mengobrol sama orang yang merasakan itu, dan dia memang kasih izin. Itu penting buat diomongkan.

Enggak tahu sih, gue kalau dengar lagu ini lagi, nyanyi lagu ini secara live belum pernah. Latihan saja bawaannya sedih, berat dada gue bawakan ini. Makanya kembali lagi ke pertanyaan sekian menit yang lalu: lu merasa berat enggak bawa materi ini? Kalau dibilang enggak berat, bohong sih sebenarnya. Gue omong ini saja kayak terbata-bata. Cuman, rasanya kayak, “Ya, penting. Dan lu ‘diamanahkan’ untuk omongkan itu. Ya sudah.”

Rayssa Dynta di We The Fest 2018  / Foto: Pohan.

Apakah memilih Rayssa karena kebetulan dia artisnya Double Deer?
Biasanya yang mengisi vokal gue Rubina (Winnie) kan. Heidi (Nasution alias The Girl With the Hair) lagi sibuk, Rubina lagi enggak bisa. Terus gue di Double Deer: “’Sa, lu mau enggak? Gue sesimpel perlu suara cewek doang kok, gue enggak mau ini dinyanyikan sama cowok.” Ya sudah, dan secara artistik juga gue suka ama karyanya dia, dan menurut gue sanggup juga. Kenapa enggak? Dianya mau. Dan lucu saja buat gue, gue bukan bawa orang yang emang sudah ada di lingkungan musik ini untuk nyanyi itu. Rayssa kan R&B, electronic pop banget. Tapi dianya mau dan dianya suka, ya sudah. Jadinya bagus, gue senang juga.

Lirik itu surat dari ibu itu?
Satu dua kata ada yang gue rapikan, cuman 90 persen kayak itu isinya. Gue sedih banget: “Gue merelakan sekarang, besok, lain kali.” Kayak, apa rasanya jadi orang tua, anak lu duluan (meninggal)?

Apa pertimbangan mengutip lirik dari “Taifun”? Apakah memang mengincar lirik itu secara spesifik karena tahu cerita di balik lagu itu?
Sejujurnya gue enggak pernah ngobrol sama Iga, “Taifun” itu tentang apa. Maksudnya, gue ama Iga jarang banget omong lagu Barasuara. Kalau gue ketemu ama dia kayak, ya sudah, mengobrol saja. Omongkan hal-hal yang enggak penting, atau mungkin penting cuma bukan tentang lagu-lagu Bara.

Cuman, pas gue pertama kali dengar “Taifun”, yang gue ingat Raafi waktu itu. Waktu itu langsung ada keinginan, gue mau pakai lirik bagian itu: “Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati.” Dan itu jadi kalimat terakhir dari album ini, di lagu terakhir kan. Yang menurut gue sempurna, pas banget.

Iga Massardi dari Barasuara / Foto: dok. istimewa

Gue rekam dulu, baru minggu depannya gue kontak Iga: “Ga, gue mau sample ‘Taifun’ ya.” “Oke, kirim ke gue lagunya.” Gue kirim, terus dia dengar juga di studionya Tama, di Soundpole. Dia tanya, “Mana sample gue?” “Itu lirik lu, gila!” “Oh iya, benar juga.” Cuman ya, seyakin itu sih waktu gue pakai penggalan interpolasi “Taifun” di bagian situ. Lebih ke apa yang gue rasakan waktu pertama kali gue dengar “Taifun” saja.

“Taifun” sama “Hagia”, buat gue, kayak feel-nya sama. Dan sebenarnya mungkin secara tidak langsung – kalau “Hagia” kan dari Doa Bapa Kami – bagian itu mirip sebenarnya sama chorus-nya “Berita Kehilangan”. Sama juga.

Tahu “Taifun” itu tentang apa?
Enggak tahu gue.

Itu lagu untuk anaknya Iga.
[Tertegun]

Sangat kebetulan, seperti sudah diatur untuk dimasukkan ke lagu tentang orang kehilangan anak.
Jadi makin ada bebannya gue dengar kayak gini, kayak, “Anjing!” Aduh. Gue halo-halo (menelepon) dulu ama Iga entar!

Apa yang diharapkan dari Beberapa Orang Memaafkan?
Ada yang gue rasakan, cuman ini kebanyakan bukan cerita gue. Jadi kebetulan gue ada di belakang mik, anak-anak ada di belakang instrumen, kami dapat cerita yang cukup penting untuk diceritakan. Makanya kalau lu perhatikan, video liriknya juga ada banyak penggalan berita. Gue memberikan lampu sorot untuk hal-hal yang mungkin enggak disorot saja selama ini.

Mungkin muluk-muluk banget sih, karena gue bukan segede Mas Cholil atau siapa untuk omong kayak begitu. Cuman, daripada lu enggak (lakukan) apa-apa? Ya, ada kemampuannya buat (menjangkau) kayak 20.000 orang doang, enggak banyak-banyak, secara streaming. Kalau bisa bikin 1-2 kasus kecil jadi keluar lagi gara-gara lu, mungkin dari 20.000 cuma 10 persen doang yang dapat, cuma 200, 2000 orang doang. Kenapa enggak, gue melihatnya. Lebih ke sana, sih.

“Kiri-kanan itu perihal arah doang”

Di album ini sama sekali bukan mengincar dilihat seperti band yang seperti apa, karena banyak banget yang bilang, “Lu hati-hati. Ini enam lagu lu jadi kiri banget sehabis ini.” Enggak kok. Kiri-kanan itu perihal arah doang. Kiri-kanan kan arah. Kebetulan sekarang kayak begitu, cuman ya sudah, menurut gue.

Enggak tahu sih, gue enggak harapkan apa-apa. Ini buat gue kayak ada sesuatu di dada yang ingin gue keluarkan doang. Cuma, gue enggak menyangka jadi gede banget, tiba-tiba jadi menancap di bahu gue sekarang. Kalau boleh jujur, gue bisa bilang Beberapa Orang Memaafkan jauh lebih ikhlas dibanding Multiverses. Gue cuma ingin kasih nada dan melodi ke cerita yang memang sudah ada saja.

Previous articlePetuah Kehidupan Vira Talisa
Next articleIri Hati Ala Monkey To Millionaire
mm
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?