Gelombang Musik Asia: Meledak di Coachella Hingga Asa Pop Inter-Asia

Apr 23, 2022
Coachella

Coachella bukanlah festival musik kemarin sore yang menarik perhatian para penggemar musik dunia. Digelar berkala di Indio, California sejak 1999, festival musik ini punya kasta yang sama dengan sejumlah festival lain di dunia seperti salah satunya Glastonbury Festival di Somerset, Inggris atau Rock in Rio yang dimulai di Brasil.

Namun, Coachella kali ini nampaknya punya gegap gempita yang berbeda buat kita yang di Asia. Kita dibuat menoleh dengan banyaknya penampil Asia di festival yang sempat ditunda tiga tahun lamanya karena pandemi Covid-19 itu. Dari Indonesia, nama-nama seperti Rich Brian, Niki, dan Warren Hue menjadi highlight di Coachella. Belum sejumlah nama lama yang mungkin belum pernah terbayang akan jadi satu dari sekian banyak penampil Coachella seperti Utada Hikaru hingga Kyary Pamyu Pamyu. Katanya, Asia memegang peranan.

Tetapi benarkah begitu?

Kalau melihat 88Rising di balik munculnya nama-nama di atas nampaknya tidak begitu mengherankan. Sejak awal, Sean Miyashiro dan Jaeson Ma memang sudah menunjukkan gelagat bahwa manajemen musik yang mereka dirikan akan menjadikan Asia sebagai sentralnya. Dimulai dari para diaspora Asia di Amerika, lalu menggali potensi-potensi yang lahir dari tanah-tanah leluhur.

Coachella kali ini nampaknya punya gegap gempita yang berbeda buat kita yang di Asia. Kita dibuat menoleh dengan banyaknya penampil Asia.

Dengan statement yang tegas, tak perlu misuh-misuh pula kalau kemudian Brian, Niki, dan Hue disematkan sebagai “deretan orang Indonesia pertama yang tampil di Coachella”. Toh memang begitu kampanye yang digaungkan oleh 88Rising sebagai manajemennya. Menegaskan identitas Asia mereka di hadapan industri musik yang masih berpusat ke barat. Kalau faktanya, Dougy Mandagi dari Temper Trap, yang juga seorang Indonesia, lebih dulu menginjakkan kakinya di sana, saya melihat itu sebagai hal yang berbeda karena Dougy dan bandnya mungkin tidak membawa isu identitas Asia sebagai salah satu sajian utama musiknya.

88Rising membuat cetak tebal atas ke-Asia-an mereka dan menciptakan anggapan bahwa musik dari “dunia non-barat” adalah baru, yang menarik, dan harus dirayakan.

Sebagai manajemen, 88Rising juga getol menyimpan amunisi di banyak negara di kawasan Asia terutama Timur dan Tenggara. Selain tiga nama tadi, Stephanie Poetri juga jadi orang Indonesia yang bernaung di bawah 88Rising. Dari Jepang ada nama-nama seperti Atarashii Gakko! dan Joji; Bibi, Chungha, Keith Ape, dari Korea Selatan; Jackson Wang dari Hong Kong; hingga ke Filipina dengan Guapdad 4000. Belum beberapa artis lain yang nampaknya ada di dalam radar mereka. Sebutlah talenta Asia diaspora di Amerika dan Eropa seperti No Vacation, beabadoobee, Luna Li, atau artis semacam Phum Viphurit dari Thailand dan 9m88 dari Taiwan. Semuanya pernah tampil di helatan daring mereka dua tahun lalu: Asia Rising Forever.

Dalam pandangan saya, 88Rising memang membuat cetak tebal atas ke-Asia-an mereka dan secara sadar menciptakan anggapan bahwa musik dari “dunia non-barat” adalah sesuatu yang baru, yang menarik, dan harus dirayakan.

Perwakilan Komunitas

Jika pun saya tak begitu melirik 88Rising, baik dalam produksi dan gerakan, toh hal yang sama juga terjadi di jenis musik yang sering saya dengarkan: indie pop. Setidaknya lima atau enam tahun terakhir, wajah kancah indie pop global diwarnai oleh para personel band yang punya Asian-look. Biasanya mereka adalah generasi kedua atau ketiga dari gelombang migrasi besar-besaran orang Asia ke Amerika dan Eropa imbas dari ketidakstabilan ekonomi dan politik di negara asal sepanjang Perang Dingin.

Sebagai manajemen, 88Rising juga getol menyimpan amunisi di banyak negara di kawasan Asia terutama Timur dan Tenggara.

Beberapa nama kekinian yang bisa saya sebut mungkin seperti Jay Som yang merupakan orang Filipina kelahiran Amerika, solois dari Selandia Baru yang punya darah Indonesia, Amelia Murray (atau yang punya nama panggung Fazerdaze), hingga Japanese Breakfast yang terkenal itu. Meski bagi seorang teman Korea Selatan saya, pemilihan Japanese Breakfast sebagai nama panggung bagi Michelle Zauner yang seorang Korean-American cukup problematik. Kata kawan saya, “mengapa dia harus menjadi Jepang untuk diterima dunia? Tak tahukah dia kalau dulu Jepang menjajah Korea?”. Tapi itu cerita lain.

Seperti 88rising, banyak juga dari para artis ini yang sadar akan ke-Asia-annya. Dalam sebuah wawancara dengan Sifted Magazine, Sab Mai dari No Vacation misalnya, menyebut kalau bandnya memang benar-benar ingin mewakili orang kulit berwarna dalam skena musik Amerika yang didominasi oleh laki-laki dan kulit putih. Itulah mengapa dia berkolaborasi dengan Basil Saleh yang juga sama-sama berasal dari keluarga migran di awal band dan kini bersama Nat Lee yang juga sama-sama seorang Asia Amerika.

Seperti 88rising, banyak juga dari para artis ini yang sadar akan ke-Asia-annya.

“Saya pikir itu salah satu hal utama yang kami upayakan. Untuk menjadi perwakilan komunitas,” kata Sab.

Mitski yang seorang Jepang Amerika mengungkapkan adanya jarak sebagai orang Asia yang lahir dan tumbuh di tengah lingkungan Amerika. Dalam wawancaranya dengan Song Exploder pada 2016, ia bertutur kalau lagunya “Your Best American Girl” adalah keinginan seorang gadis Asia-Amerika yang tidak pernah mencapai mimpinya pada apa yang ia sebut sebagai “all-American white culture”. Kecemasan laten dari pengalaman sebagai Asia-Amerika yang teralienasi, kesepian, dan terus bergulat dengan identitas ini lah yang kemudian menjadi inspirasi dari karya-karyanya.

Pada poin ini, rasanya saya bisa mengeja bagaimana rasanya hidup dalam irisan batas-batas yang kerap bersinggungan satu sama lain. Satu hal, mereka dididik dalam koridor keluarga Asia dari generasi imigran pertama atau kedua yang masih merasakan dan patuh pada tradisi serta nilai-nilai tanah leluhur, namun di lain hal mereka merasa tak pernah betul-betul terkoneksi dengan tanah leluhur karena lahir dan besar di rantau Amerika atau Eropa.

Mereka dididik dalam koridor keluarga Asia yang masih patuh pada tradisi serta nilai-nilai tanah leluhur, namun tak pernah betul-betul terkoneksi dengan tanah leluhur karena lahir dan besar di Amerika atau Eropa.

Namun seperti isu Dougy dengan barisan roster Indonesia-nya 88rising, talenta diaspora Asia di kancah musik Amerika dan Eropa ini juga bukanlah yang pertama. Jauh sebelum suara Asia diidentifikasi sebagai “ledakan”, sudah ada Karen O yang fenomenal itu. Dia adalah seorang Korea Selatan yang lahir di Amerika. Kalau dirunut ke era yang lebih jauh tentu masih banyak nama. Begitu juga dengan gelombang 90s alternative revival di pertengahan dekade 2000 yang diwarnai oleh nama-nama seperti Peggy Wang (The Pains of Being Pure at Heart), Mariko Doi (Yuck), Stephanie Min (The History of Apple Pie), dan masih banyak lagi.

Cuma ya itu tadi, kesadaran Asia sebagai identitas baru dikampanyekan oleh generasi yang muncul di lima atau enam tahun belakangan.

Inter-Asia Pop Sound?

Terima kasih kemajuan internet karena berkatnya lah musik menjadi lebih terdesentralisasi. Asia bukan saja direpresentasi oleh para diaspora di Asia dan Amerika, tetapi juga oleh kancah lokal di “tanah-tanah leluhur” tadi. Membicarakan kancah di regional Timur dan Tenggaranya saja tidak akan pernah kehabisan bahan.

Coba lihat Indonesia. Kini musik sudah bukan lagi tentang Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dia ada di mana-mana dan setiap hari memunculkan karya-karya baru bahu membahu. Bahkan tanpa bermaksud jemawa, Indonesia boleh dibilang menjadi katalisator dari gerakan masif kancah musik independen di Asia Tenggara. Band yang tersebar, kreasi dan irisan genre yang bermacam ragam, rilisan baru yang hampir tiap hari memenuhi lini masa, dan ruang-ruang tampil yang (meski belum ideal) ada, membuat kita tak perlu sungkan untuk maju ke depan.

Dengan gelombang yang cukup kencang ini, boleh jadi saat yang tepat untuk menggaungkan apa yang bisa kita sebut sebagai “inter-asia pop sound.

Sementara Asia Timur, kini tak lagi “dimonopoli” oleh Jepang. Lihat ke Korea Selatan, bagaimana kancah musik independennya juga mulai menarik untuk ditilik. Mereka yang lebih dulu punya eksposur seperti ADOY, OOHYO, dan Say Sue Me, mungkin bisa jadi gerbang masuk menelaah lebih dalam dari kancah independen lokal di negeri gingseng. Di Taiwan, tempat saya tinggal sekarang juga begitu. Lebih dari dua lusin live house dan festival musik yang dihelat hampir tiap bulan menciptakan ekosistem kancah yang sangat hidup.

Dengan gelombang yang cukup kencang ini, boleh jadi saat yang tepat untuk menggaungkan apa yang bisa kita sebut sebagai “inter-asia pop sound”. Beberapa titik yang sporadis perlahan mulai dikoneksikan. Di Indonesia, Kolibri Rekords saya pikir menjadi yang paling rajin membangun koneksi ini. Bagaimana sebelum pandemi mereka membawa rosternya Grrrl Gang sowan ke sejumlah kantung kancah Asia Tenggara, bekerja sama dengan Middle Class Cigars di Singapura atau sepanggung dengan Ourselves the Elves di Filipina.

Sementara upaya yang sama juga diupayakan oleh faksi-faksi lain semisal ASEAN Music Showcase Festival yang punya tagline “Placing ASEAN Music on the World Stage” atau label rekaman Big Romantic yang telah punya kaki kuat di Jepang dan Taiwan kini mulai merambah ke Thailand, Malaysia, bahkan Indonesia. Batasan bahasa boleh jadi kendala, tetapi mengutip Yellow Fang dalam sebuah wawancara, rasanya terlalu membosankan kalau kita tak bisa berdansa hanya karena beda bahasa.

Ayolah, ini gelombang punya kita!

 


 

Penulis
Irfan Popish
Irfan Muhammad adalah jurnalis asal Bandung yang gemar musik. Sejak tiga tahun terakhir dia bertugas di Ibu Kota untuk desk Polhukam. Di luar aktivitas liputannya, Irfan sesekali masih menangani Yellowroom Records, label kecil yang dia mulai bersama sejumlah teman di Bandung sejak 2014 dan bermain untuk unit alternative, MELT.

Eksplor konten lain Pophariini

Jevin Julian – i will, i’m sure

Album Jevin Julian, “i will, i’m sure” memantapkan posisinya sebagai penyanyi/penulis lagu/produser/DJ terdepan di ranah musik dance electronic di Indonesia

Monica Karina Balik ke Lantai Dansa Lewat Single Pon It

Setelah terakhir merilis “Skin to Skin“, Monica Karina kembali dengan single baru “Pon It” hari Jumat (17/05). Sang solois merasa, ini merupakan perayaan identitas diri dan kedewasaan yang matang untuk menjadi karya perdananya tanpa …