I Wanna Skank: Melacak SKA di Jakarta 1996 – 2006 – Nor Rahman Saputra

Jul 18, 2022
I Wanna Skank - Nor Rahman

Setelah pergerakan indie pop lokal era 90an terangkum dalam buku Bandung Pop Darlings, dan tentang skena metal lokal 90an terangkum dalam buku Behind the 8th Ball, kali ini hadir buku mengasyikkan tentang kancah musik ska 90an, I Wanna Skank: Melacak SKA di Jakarta 1996 – 2006 yang ditulis Nor Rahman Saputra.

Mengangkat kancah musik ska di Indonesia ini tricky. Karena ada fenomena penting yang terjadi. Bagaimana industri musik arus utama membuka diri pada musik ska, sehingga muncul demam ska, namun popularitasnya justru sekaligus menjadi bumerang bagi perkembangan genre ska itu sendiri di Indonesia.

Setelah pergerakan indie pop lokal era 90an terangkum dalam buku Bandung Pop Darlings, dan tentang skena metal lokal 90an dalam buku Behind the 8th Ball, kali ini hadir buku mengasyikan tentang kancah musik ska 90an yang ditulis Nor Rahman Saputra.

Tapi Nor Rahman Saputra berhasil melakukannya dengan baik. Tentu karena ia turut menjadi pelaku kancah musik saat itu dan mengalami langsung, Kecintaanya pada musik ska juga menjadi modal yang cukup dalam menulis buku yang diterbitkan oleh EA Books ini. Dengan riset yang tidak main-main, buku I Wanna Skank ini hadir untuk pecinta musik ska, maupun yang bukan penikmat musik. Yang dijamin tidak akan tersesat membaca buku ini.

Banyaknya catatan kaki yang hadir di semua halaman akan membuat buku ini mudah diikuti termasuk pembaca yang asing dengan dunia musik. Catatan kaki ini juga jadi pendukung sehingga semua fakta dan data yang dihadirkan terbilang akurat. Karena telah melalui riset baik via narasumbernya langsung, ataupun secara literasi baik cetak maupun digital.

Kecintaannya pada musik ska yang menjadi modal yang cukup dalam menulis buku yang diterbitkan oleh EA Books ini. Dengan riset yang tidak main-main, buku ini hadir untuk pecinta musik ska, atau yang bukan penikmat musik pun dijamin tidak akan tersesat membaca buku ini.

Terdiri dari 163 halaman, buku ini terbagi ke dalam lima bagian secara berurutan: 1. Melacak Kemunculan Ska di Indonesia, 2. …and Come Out The Wolves, 3. Kosa Kata Baru di Skena: Ska!, 4. Ledakan Ska dan 5. Dinamika Ska Sepanjang 2001-2006, dan ditutup dengan Epilog.

Saya sendiri menikmati bagian pertama. Rangkuman bagaimana musik ska masuk ke Indonesia pertama kalinya. Sebagai peminat sejarah musik lokal populer sering bertanya-tanya, kenapa tidak ada album bergenre spesifik reggae/ska dalam musik lawas. Karena lagu-lagunya cukup banyak. Seperti “Resesi” milik Chrisye, “Preman” milik Ikang Fawzi dan “Astuti“ The Rollies.  Semua itu terbahas tuntas di sini. Dan penelusuran Nor Rahman pun mendalam. Tidak hanya melalui jejak audio dan mewawancarai pengamat musik saja, tapi juga mengontak langsung musisi yang bersangkutan.

Saya sendiri menikmati bagian pertama, bagaimana musik reggae/ska masuk ke Indonesia pertama kalinya. Sebagai peminat sejarah musik lokal populer sering bertanya-tanya kenapa tidak ada album bergenre spesifik reggae/ska dalam musik lawas, karena lagu-lagunya cukup banyak. Dan hal itu terbahas tuntas di sini.

Ia juga menelusuri kapan pertama kalinya reggae terdengar di musik populer Indonesia era 60an. Seperti dalam tembang “Nusantara” (Volume 1, 1971) milik Koes Plus juga “Pusara Tjinta” (Reggae Beat, 1960an)  Eka Sapta. Ia menemukan dekade 60an-80an  musik reggae/ska yang dimainkan oleh musisi Indonesia saat itu hanya sekedar selipan semata. Ini jadi pembeda dengan era 90an saat remaja saat itu memainkan musik ska yang lebih total, lengkap dengan pakaiannya. Sesuai tren global yang berlaku saat itu juga. Dan perihal tren global ini juga dijabarkan dengan lengkap termasuk catatan kaki bertumpuk-tumpuk dengan baik oleh Nor Rahman.

Detail-detail ini membuat buku Nor Rahman terasa lebih menarik. Selain tentu cara bertutur dan yang terpenting: kesabarannya berbagi penelitan dan hasil risetnya dengan mengupas satu persatu sehingga mudah dibaca.

Bagian paling menarik lainnya bagian 4, Ledakan Ska. Musik ska yang sebelumnya hadir sebagai identitas pembeda dan sebagai musik perlawanan, kemudian dieksploitasi label mayor, sehingga muncul demam ska, dan menjadi musik kacangan. Bahkan mereka (para pionir dan pelaku musik ska) menjadi malu dengan warna musiknya sendiri (hal. 135). Bagian demam ska ini juga perihal resistensi dari teman sendiri karena genre ini menjadi komersil, bertentangan dengan prinsip DIY (do it yourself) yang dianut musik-musik arus samping.

Ada bonus hal menarik di bab kesukaan saya. Yaitu alasan Poster Café yang legendaris itu ditutup disinyalir karena janda mendiang Presiden Soekarno, merasa komunitas yang subur terbentuk di situ adalah sebuah kemerosotan. (hal. 103). Detail-detail ini membuat buku Nor Rahman terasa lebih menarik. Selain tentu cara bertutur, yang terpenting: kesabaranya berbagi penelitan dan hasil risetnya dengan mengupas satu persatu sehingga mudah dibaca.

Akhir kata, selain berbagi cerita sejarah dan rangkuman genre musik ska di Indonesia, yang dilakukan Nor Rahman dengan buku I Wanna Skank ini disadari atau tidak masuk ke dalam lingkup area kajian kebudayaan (cultural studies). Selain melengkapi kajian budaya arus samping lokal,  juga melengkapi kepingan sejarah musik arus samping lokal era 90an yang sudah ada. Dan untuk itu, kita wajib berterima kasih pada Nor Rahman Saputra.

 


 

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik dan subkultur anak muda. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, pernah juga bernyanyi/bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Jadi Vokalis DeadSquad, Vicky Mono: Jalani Saja Dulu

DeadSquad mengaku Vicky sosok vokalis yang mereka cari. Selain berkualitas, ia dianggap memiliki kemampuan untuk menguasai panggung sebagai stage performer.

Dzee Rilis Video Musik “Epik”, Simak Langsung di PHI Eksklusif

Di PHI Eksklusif kali ini, saksikan lebih dulu video musik “Epik”, salah satu single dari album debut Dzee sebelum tayang di berbagai platform.