JKT: SKRG, 15 Tahun Debut Rilisan Aksara Records

3298

Empat anak muda kurus dengan sastra vokalis yang gusar, menggabungkan the Smiths dan Rush dengan begitu pantasnya, hadir ke studio Pendulum untuk merekam “Kaktus”. Mereka adalah The Sastro. Sedangkan The Adams hadir dengan cover version “Mosque of Love” dari The Upstairs yang dimodifikasi menjadi power pop pecah suara. Zeke And The Popo juga turut serta di kompilasi ini—nama-nama personil pada kredit album JKT:SKRG tertulis: Zeke, Popo I, dan Popo II.

SORE pada saat itu sebetulnya sedang merekam debut albumnya. Lagu “Cermin” pun dimasukkan ke dalam kompilasi ini sebagai pengenalan corak dan suasana musik mereka. SORE bak safir misterius yang di kemudian hari menjadi salah satu band yang pengaruh musiknya masih sangat terasa hingga sekarang.

The Brandals dan The Upstairs sudah barang tentu juga diajak serta. Petikan lirik lagu “Alexander Graham Bell” dari The Upstairs yang direkam di studio Pendulum, kemudian sempat menjadi semacam slogan bagi band new wave ini: “dan esok kita berdansa”. Suara keyboard di lagu ini diisi oleh Hendra “Petrof “ Saputra dari band That’s Rockefeller yang meninggal dunia sebelum JKT:SKRG dirilis. Sementara lagu “Televisi” menjadi satu-satunya rekaman The Upstairs yang menampilkan Tania (Clover/Whistler Post/Seaside) bermain keyboard.

Sementara itu, C’mon Lennon dan Seringai justru merekam lagu-lagu mereka tidak di studio Pendulum. Seringai sudah terlebih dahulu merekam “Membakar Jakarta” versi demo di studio Doors pada 2003.

Seringai di BB’s cafe circa 2003 / Foto: Anggun Priambodo

Saya bersama Andi “Hans” Sabarudin membesuk gitaris Blossom Diary, Angga Joni, kemudian lebih dikenal sebagai seniman graffiti dengan nama Kims, yang berbaring di rumah sakit. Kami mengobrol soal musik dan sepakat membentuk band. Pada 2003, di rumah Hans, Angga memperdengarkan lagu ciptaannya, dengan bagian shouting pada intro dan refrainnya, “Aku cinta J.A.K.A.R.T.A.”.

C’mon Lennon di BB’s Bar, Maret 2004 / Foto: Anggun Priambodo