Last Boy Picked: Kuntari dan Perjuangannya Melupakan Yang Sudah-Sudah

Apr 6, 2022
Kuntari Last Boy Picked

Kuntari adalah Tesla Manaf. Tesla Manaf adalah Kuntari. Menulis tentangnya adalah suatu tantangan yang aneh. Pertama, saya mengenal Tesla sejak lama, bisa dikatakan hampir dua puluh tahun. Artinya, saya tidak bisa pura-pura objektif dalam menuliskan tentang siapa Tesla dan bagaimana musiknya. Saya tidak bisa sepenuhnya mengambil jarak dengan mengatakan, “Baik, mari fokus menganalisis musiknya saja, unsur-unsur musikalnya, dan lupakan siapa subjek pembuat karyanya.” Tidak bisa. Meski hubungan kami tidak bisa dikatakan selalu dekat, tapi saya diam-diam menguntitnya, menyimpan kekaguman yang seringkali gengsi untuk diungkapkan, dan sekarang, melalui tulisan ini, sepertinya semua yang dipendam itu akan “meledak”.

Kedua, kami ternyata sama-sama bosan dengan format penulisan sosok pemusik yang seringkali berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan “standar” terkait mengapa memilih nama itu, bagaimana proses kreatif di balik pembuatan karya ini, berapa lama belajar instrumen itu, yang khususnya bagi Tesla, kelihatannya sudah begitu mengalienasinya sehingga jawaban-jawabannya hampir muncul tanpa dipikirkan. Ia bahkan mengatakan kurang lebih seperti ini, “Rif, hal-hal umum tentang gue udah banyak ditulis di internet, loe cari sendiri aja, ya!” Untungnya, saya setuju, saya berusaha untuk tidak bicara hal umum tentang Tesla, terlebih lagi sumber tentang itu sudah beredar luas dan bertumpuk-tumpuk. Maka itu, saya berusaha mencari jalan lain, salah satunya kembali pada subjektivitas, tentang Tesla yang saya kenal, jauh sebelum menjadi Kuntari.

Tesla menepuk-nepuk badan gitar, mikrofon, sambil berdiri, hal yang begitu tidak lazim dalam konser gitar klasik dan ayah saya, yang waktu itu menonton, mengatakan, “Tesla, suatu saat, akan ‘jadi’.”

Waktu itu bulan November 2006, saya menyelenggarakan konser tunggal gitar klasik di CCF Bandung (sekarang bernama IFI – Bandung) dan mengajak Tesla untuk ambil bagian sebagai penampil selingan (agak kurang pantas saya mengatakan “selingan”, tapi kira-kira begitulah, entah apa istilah yang tepat). Tesla, yang katakanlah, masih menekuni gitar klasik – meski sudah mulai kelihatan “tidak betah” -, waktu itu memainkan dua lagu, lupa judulnya, tapi salah satunya berhasil memukau penonton, yaitu sebuah karya dari Tommy Immanuel. Tesla menepuk-nepuk badan gitar, mikrofon, sambil berdiri, hal yang begitu tidak lazim dalam konser gitar klasik yang serba formal, dan ayah saya, yang waktu itu menonton, mengatakan begini, “Tesla, suatu saat, akan ‘jadi’.” Entah dari mana kalimat tersebut muncul, tapi ayah mengatakannya dengan yakin, semacam firasat yang kuat.

Tesla memang menekuni gitar klasik cukup lama. Sebelum belajar pada Karsono, yang banyak mengajarkannya untuk juga mengeksplorasi komposisi, Tesla pernah belajar pada Jubing Kristianto dan Artur Sahelangi, dua begawan gitar klasik Indonesia. Namun Tesla tidak pernah betah, kegelisahannya terlalu kuat untuk tidak bermukim di satu tempat. Sementara saya masih asyik di zona nyaman bernama musik klasik, Tesla sudah berpindah menekuni musik jazz pada Venche Manuhutu. Tesla mengaku, musik klasik, meski kemudian ditinggalkannya, tetap mewariskan hal penting bagi dirinya, yaitu kedisiplinan dan ketekunan. Itu sebabnya, relatif tidak sulit bagi Tesla untuk mempelajari hal-hal baru. “Periode jazz” Tesla ini ternyata mencengangkan. Untuk pertama kali, saya menyaksikan Tesla dan Gallang Perdhana tampil duo di sebuah toko buku bernama Tobucil, dan eksplorasinya, meski terdengar sangat seperti Pat Metheny, sudah sebuah lompatan yang canggih.

Namun Tesla tidak pernah betah, kegelisahannya terlalu kuat untuk tidak bermukim di satu tempat. Ia mengaku, musik klasik, meski kemudian ditinggalkannya, tetap mewariskan hal penting bagi dirinya, yaitu kedisiplinan dan ketekunan

Katanya, pengaruh Metheny ini menempel begitu kuat pada Tesla, hingga almarhum Riza Arshad mengatakan padanya untuk meninggalkan sang idola, agar muncul “Ke-Tesla-an”-nya Tesla. Rupanya saran itu diikuti, bertahun-tahun Tesla meninggalkan Metheny dan mulai mencari apa yang paling diinginkannya. Pencarian Tesla tidak hanya dilakukan pada musik, melainkan pada orang-orang baru, komunitas-komunitas baru, yang memberinya banyak inspirasi dan keberanian untuk keluar dari “musik-sebagaimana-dibayangkan-orang-orang”. Tesla rupanya menganggap pengetahuan dan keterampilan musik, yang ia selami belasan tahun, adalah menguntungkan di satu sisi, tapi juga memenjarakan di sisi lain. Tesla berusaha, berjuang, untuk meninggalkan yang sudah-sudah. Sementara itu, saya tiba-tiba teringat, saat mengajak Tesla untuk berduet memainkan karya Ammy Kurniawan berjudul Duo Etude, tanggapannya begitu visioner, “Rif, loe gak bosen?”

Almarhum Riza Arshad mengatakan padanya untuk meninggalkan sang idola, agar muncul “Ke-Tesla-an”-nya Tesla. Rupanya saran itu diikuti, bertahun-tahun Tesla meninggalkan Metheny dan mulai mencari apa yang paling diinginkannya

Pertanyaan itu terngiang-ngiang dalam kepala saya. Benar juga, ya, mengapa saya begitu senang bersembunyi di balik hal-hal yang aman dan nyaman? Saya sering mengaku punya selera musik yang agak “berbeda”, tapi Tesla, kelihatannya, sudah jauh melampaui urusan “berbeda” itu. Dia selalu ingin berada “di depan” dalam eksplorasi, membuat orang bertanya-tanya, “Si Tesla, ngapain lagi, sih?” Namun memang sudah sejak dulu ia kebal, tebal, dan bebal: yang terpenting baginya, jika ia ingin menjelajahi sesuatu, harus sampai ke ujung. Tidak peduli apakah pengembaraan tersebut menggerus hidupnya sampai sengsara, ia harus mencapainya – meski tidak tahu apa yang menantinya -.

Maka itu, saya tidak heran saat Tesla memasuki dunia musik elektronik yang eksperimental dan mengubah namanya menjadi Kuntari (penjelasan tentang mengapa namanya Kuntari, sudah banyak beredar di internet). Batin saya, “Tesla melakukannya lagi, dan dia tidak akan berhenti sampai ujung.” Pertanyaan saya singkat, dan berbau retoris, “Tes, apa yang Tesla lakukan saat pertama kali menggeluti musik elektronik eksperimental?” Dia lagi-lagi bicara perkara “mengosongkan” apa yang sudah-sudah. Jazz, klasik, semua itu pernah jadi bagian dari hidupnya, dan telah menubuh dalam dirinya, tapi untuk memulai sesuatu yang baru, ia harus “berpura-pura menjadi pemula”, seperti anak kecil yang bergembira dengan benda tertentu, tanpa perlu peduli larangan orangtuanya.

apa yang Tesla lakukan saat pertama kali menggeluti musik elektronik eksperimental?” Perkara “mengosongkan” apa yang sudah-sudah. Jazz, klasik, semua itu pernah jadi bagian dari hidupnya, dan telah menubuh dalam dirinya, tapi untuk memulai sesuatu yang baru, ia harus “berpura-pura menjadi pemula”

Itulah kelihatannya, kunci eksplorasi tanpa batas seorang Tesla, eh, Kuntari, yaitu destruksi tiada habis terhadap bangunan arsitektur yang pernah memberinya perlindungan nyaman. Kuntari adalah persinggahan Tesla sebagai seorang nomad, yang melepaskan segala kepemilikannya di masa lampau, dan mencari penghidupan di “tempat baru”, dengan suatu cita-cita bahwa tidak selamanya juga ia akan bermukim di sini. Suatu saat, sebagai seorang pengembara, ia akan berangkat lagi.

Saat ini, Kuntari sedang asyik di persinggahan baru lewat kolaborasi dengan salah satu label idamannya, Grimloc Records. Singkat cerita, pada pertengahan tahun 2021, Kuntari mengajukan album terbarunya berjudul Last Boy Picked ke pemilik Grimloc, Herry “Ucok” Sutresna yang ternyata disambut baik dengan merilisnya – Orange Cliff Records, label yang juga asal Bandung, turut terlibat melakukan co-release. Selain itu, Tesla sendiri baru dikontrak oleh BBC News dan CBC News untuk membuat soundtrack di delapan series mereka. Menariknya, BBC News dan CBC News mengenal Tesla melalui musik-musik Kuntari yang beredar di Spotify.

Selain itu, Tesla sendiri baru dikontrak oleh BBC News dan CBC News untuk membuat soundtrack di delapan series mereka. Menariknya, BBC News dan CBC News mengenal Tesla melalui musik-musik Kuntari yang beredar di Spotify

Tidak berhenti sampai di situ, Kuntari juga merilis organic live set (semacam tampilan dengan setelan akustik) berjudul Larynx yang akan menjadi salah satu materi di album barunya tahun 2022. Dengan organic live set tersebut, Kuntari ingin sekaligus diperkenalkan ke publik sebagai musisi yang tidak hanya berkutat dengan instrumen elektronik dan cornet/ trumpet saja, tapi juga akustik. Video Larynx, yang bisa disaksikan via Youtube dengan latar yang diambil di Bandung Trade Mall, Kiaracondong, tersebut adalah buah kolaborasinya dengan label Maternal Disaster.

 

Tampil bersama pemain drum Rio Abror, Kuntari mengaku bahwa segala proses dari mulai penyusunan konsep, pengambilan gambar, sampai rilis, total hanya memerlukan waktu dua minggu.  Keseluruhan persinggahan di “tempat baru” tersebut, seperti biasa, tidak pernah membuatnya khawatir, “Ini adalah semacam risiko dari setiap manusia yang ingin berkembang, terlepas dari hasilnya gagal ataupun berhasil, diterima atau tidak. Itu semua adalah bagian dari perjalanan kedewasaan seorang seniman. Jika kekecewaan tidak pernah hadir, bagaimana kita bisa meraih kebahagiaan yang absolut?”

Saya memutar Last Boy Picked dan Larynx. Apa yang bisa saya katakan tentang musik-musiknya? Sejujurnya, belakangan, saya agak hati-hati dalam mengomentari musik karena musik, selain bisa diupayakan untuk dianalisis, tapi di sisi lain, juga tidak perlu dipikirkan, dan tinggal diresapi, dirasakan, atau Deleuze mengatakan: biarkan ia sampai ke daging, tanpa melewati organ (meminjam istilah Artaud: “body without organs”). Saya mendengar suara-suara yang banal, begitu murni, seperti keseharian yang terkadang mumet, tapi di situlah keistimewaannya, Kuntari tidak punya apa-apa untuk disampaikan pada kita! Dia tidak sibuk mengurusi makna atau membawa kita pada suatu cerita yang dibuat-buat. Bunyi inilah, adalah bunyi inilah. Dirinya sendiri. Telanjang ke pendengaranmu.

Kuntari tidak punya apa-apa untuk disampaikan pada kita! Dia tidak sibuk mengurusi makna atau membawa kita pada suatu cerita yang dibuat-buat. Bunyi inilah, adalah bunyi inilah. Dirinya sendiri. Telanjang ke pendengaranmu.

Tentu saja, ada konsep yang matang, ada kejeniusan seseorang yang tidak bisa dipungkiri, mengerti teori dan interpretasi musik, tapi inilah Kuntari, yang perjuangannya melepaskan yang sudah-sudah, membuatnya tidak mau terjebak pada terkaan pikiran orang banyak, yang mau mengatakan musikmu adalah ini, musikmu adalah itu. Kuntari tidak peduli, seperti yang ayah saya katakan, dia akan “jadi”, dan sudah “jadi”.

Kuntari

 


 

 

Penulis
Syarif Maulana
Pengajar di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan dan Mahasiswa doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku yang ditulisnya antara lain "Kumpulan Kalimat Demotivasi: Panduan Menjalani Hidup dengan Biasa-Biasa Saja" (Buruan & Co., 2020), "Nasib Manusia: Kisah Awal Uzhara, Eksil di Rusia" (Ultimus, 2021) dan "Kumpulan Kalimat Demotivasi 2: Panduan Hidup Bahagia untuk Medioker" (Buruan & Co., 2021). Di waktu senggangnya, Syarif adalah pengajar gitar klasik dan tampil bermusik di sejumlah kafe dan hotel.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Dhira Bongs Untai Ragam Kisah di Album Ketiga

Dhira Bongs, solois pop asal Bandung baru saja merilis album penuh ketiganya di hari Jumat (23/09) lalu. Simak kisahnya berikut ini.

5 Alasan Kenapa Last Child Enggak Bubar

Simak 5 alasan kenapa Last Child tidak memutuskan untuk bubar dan masih bertahan sampai hari ini. Selengkapnya di Pophariini.com.