Melangkah di Antara Centralismo: 15 Tahun Album Perdana Sore

2927

Maka tak heran jika para personel Sore kadang terasa seperti hidup di dunianya sendiri, dan musik yang mereka persembahkan di Centralismo seakan-akan menjadi undangan bagi pendengar untuk melangkah di sana. Di dunia yang dibangun Sore pada Centralismo itu, ada euforia (“Bebas”), penyesalan (“Keangkuhanku”) dan nostalgia (“Etalase”). Kalaupun lirik di lagu-lagu ciptaan Ade yang semacam hasil kawin silang antara Eros Djarot dan Paul Banks kadang sulit dipahami, sepertinya mustahil untuk tidak menangkap melankolia ala Morrissey di “Mata Berdebu”. Selain Ade, semua anggota Sore lainnya juga mendapat kesempatan menjadi vokalis utama, seperti halnya The Beatles; dan suasana sinematis pada “Ambang” dan “Ada Musik di Dalam” seakan-akan menjadi pertanda bagi karier Mondo dan Bemby di bidang scoring film. Selain kelima anggota Sore dengan instrumennya masing-masing, hadir pula berbagai musisi tamu yang turut memperkaya musiknya dengan beraneka ragam alat tiup dan gesek, serta teman-teman seperti Kartika Jahja yang vokalnya membuat merinding pada “Cermin”, dan Lens ter Wee dan Hari “Bampak” Suseno yang kerap mengajak Bemby bermain bersama band mereka, The Miskins, serta menyumbang lagu “She’s So Beautiful” untuk Centralismo.

CD Sore – Centralsimo / foto: Meidhan Fidella (dari https://madahbakti.blogspot.com)

Kalau berbicara soal Centralismo, harus disebut juga beberapa nama yang memungkinkan album itu bisa terwujud. Salah satunya adalah David Tarigan, yang mengelola divisi CD impor di Aksara Bookstore dan berinisiatif untuk merekam para band baru yang sedang meramaikan kancah Jakarta itu di Pendulum yang juga punyanya Hanindito Sidharta, salah satu pemilik Aksara. Selain menggunakan Pendulum untuk merekam band-band untuk kompilasi yang kelak diberi judul JKT:SKRG, David juga meyakinkan Hanin agar mendirikan sebuah perusahaan rekaman untuk mengedarkan dan mempromosikan album tersebut.

Sidik jari pengaruh Sore juga dapat ditemukan di berbagai musisi yang muncul sesudahnya, mulai dari Efek Rumah Kaca dan Payung Teduh hingga Polka Wars, Bilal Indrajaya dan Sal Priadi

Maka lahirlah Aksara Records, dan Sore pun menjadi salah satu dari beberapa band di JKT:SKRG yang juga menjadi artis di sana. Dengan musik yang mereka bawakan, agak sulit membayangkan Sore akan didukung sepenuhnya oleh perusahaan rekaman besar yang sedang sibuk mencari Peterpan berikutnya dan mempopulerkan Radja. Di sisi lain, sepertinya Centralismo – dan juga album kedua Sore, Ports of Lima – takkan terdengar semewah itu andai tidak didukung oleh perusahaan rekaman yang memungkinkan visi artisnya terwujud secara maksimal di studio, apalagi dengan kehadiran orang A&R (artist and repertoire) seperti David yang juga penggemar musik berselera luas, sehingga paham dengan musiknya Sore. Alhasil, Aksara Records pun dapat mewujudkan visi mereka, yakni menawarkan musik yang bisa diterima oleh pendengar musik Indonesia secara luas.

Seberapa luasnya apresiasi terhadap musiknya Sore bisa dilihat dari berbagai sisi, seperti banyaknya pendengar karya mereka hingga kini, terutama setelah memasuki era layanan streaming, atau dari banyaknya pertunjukan yang mereka lakukan, baik di Indonesia maupun di mancanegara seperti Malaysia, Singapura dan Hong Kong. Sidik jari pengaruh Sore juga dapat ditemukan di berbagai musisi yang muncul sesudahnya, mulai dari Efek Rumah Kaca dan Payung Teduh hingga Polka Wars, Bilal Indrajaya dan Sal Priadi. Bahkan Noh Salleh, vokalis band Hujan dari Malaysia, segitu cintanya dengan Sore sampai mengundang mereka ke Kuala Lumpur untuk tampil di pernikahannya, lalu melibatkan Mondo dan Ade di album solonya. Mengingat dampaknya Sore, saya jadi berpikir apakah mereka akan mendapatkan tempat di hati dan telinga banyak orang andai baru muncul sekarang dengan keindahan musik dan keunikan karakter mereka.