Menelusuri Jejak Masuknya Musik Ska Di Jakarta

Aug 11, 2022
Musik Ska

Sebelum membahas penelusuran musik Ska, ada tiga faktor yang membuat saya tergerak, untuk menulis buku I Wanna Skank: Melacak Ska di Jakarta 1996-2006. Pertama pandemi yang melanda dunia pada awal 2020 lalu, membuat saya punya banyak waktu di rumah bersama keluarga. Pekerjaan kantor juga tidak terlalu padat, sehingga saya bisa meluangkan waktu untuk mengerjakan ini itu.

Kedua skena musik underground di Indonesia sudah berusia lebih dari 25 tahun, saya pikir alangkah baiknya bila ada yang mencatat. Ketiga, ketika saya membeli buku 100 Tahun Musik Indonesia karya Denny Sakrie, di sebuah pusat perbelanjaan. Saya tak menemukan bahasan tentang musik ska dalam Bab Musik Indonesia era 1990-1999.

Padahal lebih dari dua dasawarsa lalu, ska cukup besar. Di Tanah air sendiri, antusiasmenya terbilang fenomenal.

Musik Ska

Jun Fan Gung Foo, Poster Cafe 1997 / dok. Dawny

Waktu itu, acara-acara ska apapun temanya pasti ramai. Bahkan dalam ajang kompetisi musik, maupun pensi sekolah, rasanya kurang lengkap tanpa keterlibatan band ska. Singkatnya demam ska terjadi di mana-mana. Kemeja kotak-kotak, kemeja pantai, flat cap, suspenders, docmart, atau sneakers, menjadi semacam fashion statement oleh sebagian anak muda kala itu. Lantas bagaimana awalnya bola salju ini bergulir.

Alasan saya menulis buku ini karena tak menemukan bahasan musik ska lokal. Padahal lebih dari dua dasawarsa lalu di Tanah air antusiasmenya fenomenal

Berdasarkan riset yang saya lakukan, diketahui bahwa ska hadir di Ibu kota dalam skena punk. Secara konsep pun ska punk lebih dulu diterima, baru kemudian yang bercorak two tone dan tradisional. Untuk mempermudah pemahaman kita tentang bagaimana ska hadir di Indonesia dan Ibu Kota pada khususnya, saya membagi dalam empat fase.

1. Fase Industri

Musik Ska

Buku I Wanna Skank: Melacak Ska di Jakarta 1996-226 / dok. istimewa

Meski ska besar pada penghujung dekade 1990, namun jika kita merunut kebelakang maka sesungguhnya, ska telah hadir di Tanah air pada dekade 1980, lewat Madness dan The Clash. Pada periode ini, kita juga dapat menemukan sentuhan ska yang dimainkan oleh musisi-musisi papan atas Indonesia, salah satunya dalam lagu “Suka Skally” karya Igor Tamerlan.

Bahkan saat itu dalam ajang kompetisi musik, maupun pensi sekolah, rasanya kurang lengkap tanpa keterlibatan band ska. Demam ska terjadi di mana-mana

Akan tetapi, ska baik secara kultur maupun movement, belum eksis saat itu. Sehingga tidak ada koherensinya, dengan yang terjadi di skena pada pertengahan dekade 1990. Sebab ska di sini, sebatas eksplorasi sound para musisi-musisi tersebut saja. Terlebih style white reggae, yang dipopulerkan The Police memang tengah digandrungi.

Lalu memasuki dekade 1990, dua album Fishbone, serta mini album The Mighty Mighty Bosstones, yang bertajuk Ska-Core, the Devil, and More (1993), masuk toko kaset lokal. Walau begitu, tak ada dampak apapun berkenaan dengan hadirnya album-album ini, meski skena punk −yang dirintis oleh Young Offender− telah eksis. Bahkan pada 1993, Tokyo Ska Paradise Orchestra pernah pentas di Cipayung, Jakarta Timur, untuk memenuhi undangan dari kedutaan Jepang.

Tokyo Ska Paradise Orchestra merupakan band ska mancanegara pertama yang menginjakkan kaki di Tanah Air pada 1993. Setelahnya ada No Doubt di Bali, Maroon Town, dan Save Ferris. Lalu The Toasters, Big D and the Kids Table, dan Reel Big Fish di Bandung

Kedatangan Tokyo Ska Paradise Orchestra ke mari menjadikan mereka band ska mancanegara pertama, yang menginjakkan kaki di Tanah Air. Setelahnya ada No Doubt di Bali tahun 1996. Maroon Town, dan Save Ferris di tahun 2000. Lalu The Toasters di 2012, Big D and the Kids Table di 2014, dan Reel Big Fish di Bandung pada 2015.

Fase Komunitas

Musik Ska

The Speakers, 1998 / dok. Donny

Secara general titik tolak komunitas underground Ibu Kota ngeh terhadap ska, baru terjadi ketika Rancid melepas album penuh ketiganya, bertitel …And Out Come the Wolves (1995). Namun ditengah minimnya literasi dan referensi, membuat mereka kebingungan, mendeskripsikan karakter musik pada lagu “Time Bomb”, “Daly City Train” dan “Old Friend”. Asumsi awal, itu adalah reggae atau sejenisnya.

Ketidaktahuan tersebut cukup beralasan, karna di era pra internet berbagai arus informasi berjalan lamban.Padahal di Amerika, ska sudah demikian besar. Pergerakannya mulai dirasakan, sejak akhir dekade 1980. Hal ini memicu sebuah fenomena, yang kemudian dikenal dengan istilah Third-wave ska.

Memasuki tahun 1996, ska menjadi kosakata baru dalam komunitas underground Ibu kota, dan disinggung sedikit dalam Hai Klip Punk Story

Memasuki tahun 1996, ska menjadi kosakata baru dalam komunitas underground Ibu kota, dan disinggung sedikit dalam Hai Klip Punk Story. Awalnya topik perbincangan masih seputar Operation Ivy. Kemudian Spirit of ’69: A Skinhead Bible karya George Marshall, beredar di tongkrongan.

Pelaku skena yang kerap berplesiran atau mengenyam pendidikan di luar negeri, turut berperan dalam menyuplai buku, majalah-majalah musik dan skateboard. Serta album-album ska yang tidak dirilis di Tanah air. Dari sini ska pun menyebar, dari kegiatan rekam-merekam.

Pelaku skena yang kerap berplesiran atau mengenyam pendidikan di luar negeri, turut berperan dalam menyuplai buku, majalah-majalah musik dan skateboard. Serta album-album ska yang tidak dirilis di Tanah air.

Adalah Harley Davidson kafe, salah satu venue yang menjadi saksi masuknya ska di Ibu kota. Pada era itu, band-band punk dan oi! lokal mulai menyisipkan satu dua lagu ska dalam setiap penampilan mereka.Kemudian muncullah nama-nama seperti Tipe-X, Skalie, Artificial Life, Rolling Door, Jun Fan Gung Foo, Washtafel, dan lain-lain. Malahan beberapa band yang awalnya bukan band ska, mulai menciptakan lagu ska. Contoh: UFO, dan Be Quiet.

Keberadaan radio-radio juga turut andil menyebarluaskan genre ini. Walaupun tak semua lagu-lagu ska yang mereka putar, albumnya rilis di Tanah air. Namun keriuhan ini telah memicu perburuan kaset-kaset ska, yang rilis di sini oleh para pelaku skena.

Keberadaan radio-radio juga turut andil menyebarluaskan genre ini. Walaupun tak semua lagu-lagu ska yang mereka putar, albumnya rilis di Tanah air

Bisa dibilang tahun 1997 – 1999, adalah era keemasan ska di Tanah Air, dan Ibu kota pada khususnya. Yang pasti begitu banyak momentum penting, berlangsung di tahun-tahun tersebut. Seperti pada tahun 1997, Waiting Room melepas debut album, yang dianggap sebagai album ska pertama di Indonesia. Lalu ada Dischord yang merilis album single berisi dua lagu.

Kemudian di tahun 1998, majalah mingguan Hai terbitan 20 – 26 Januari 1998 (TH XXII/NO.3), mengangkatjudul isu “Ska…Ska…Ska…”. Saya rasa ini adalah media lokal pertama yang mengulas ska dan tetek bengeknya. Demikian karena saat two tone berjaya periode 1979 – 1981, majalah musik terkemuka Aktuil saat itu, kontennya berubah menjadi lebih politis, Bens Leo (alm) menyebutnya dengan “Aktuil Gaya Sondang”. Di sisi lain, Denny Sabri (alm) selaku kontributor luar negerinya juga telah hengkang. Meski belum ada arsip yang ditemukan, namun berkaca dari dua faktor tersebut, saya meyakini bila pembahasan tentang ska luput mereka angkat.

Tahun 1997 – 1999, adalah era keemasan ska di Tanah Air. Begitu banyak momentum penting, berlangsung di tahun-tahun tersebut. Di tahun 1997, Waiting Room melepas debut album, yang dianggap sebagai album ska pertama di Indonesia

Dalam tahun-tahun tersebut, di Ibu kota juga rutin digelar acara ska, terutama di Poster Café. Mayoritas band juga masih menjadi band cover. Menariknya band-band non-ska mainstream turut memasukkan anasir ska dalam lagu-lagu mereka. Seperti Jamrud pada lagu “Dokter Suster”, Bunga pada intro lagu “Ojo Ngono”, dan lain sebagainya.

Fase Eskalasi

Musik Ska

Healthy Body Sickmind, 1998 / dok. Dwi

Tahun 1999, merupakan puncak dari demam musik ska di Ibu kota. Yang mencolok di tahun itu adalah, banyaknya band-band ska Jakarta dan luar kota, yang berlabuh ke label-label besar baik menelurkan album, maupun terlibat dalam proyek kompilasi album. Situasi ini pada gilirannya membuat skena ska Ibu kota tak lagi sama. Dampaknya band-band, dan individu-individu penikmat ska di komunitas memilih menarik diri. Sebaliknya penikmat musik ska kelompok ketiga –sebagaimana yang saya jabarkan di buku– kian pesat.

Dalam buku I Wanna Skank: Melacak Ska di Jakarta 1996-2006, saya telaah juga alasan mengapa band-band tersebut berlabuh ke label-label besar. Yang pasti saya kurang sepakat dengan predikat sell out yang disematkan ke mereka.

Fase Pasca Industri

Memasuki tahun 2000, ska mulai terdegradasi di komunitas, namun sebaliknya jalur mainstream masih menjajal peruntungan dengan melepas album Bebas milik Noin Bullet, Gado Gado #9 milik Purpose, Barudak milik Kindergarten, kompilasi Ska Klinik 2, Ska Mania, dan lain sebagainya. Faktor-faktor yang membuat ska terdegradasi, juga saya paparkan dalam buku I Wanna Skank: Melacak Ska di Jakarta 1996-2006.

Tahun 1999, merupakan puncak dari demam musik ska di Ibu kota. Yang mencolok di tahun itu adalah, banyaknya band-band ska Jakarta dan luar kota, yang berlabuh ke label-label besar baik menelurkan album, maupun terlibat dalam proyek kompilasi album

Sebetulnya masih banyak yang ingin saya tulis. Namun karena keterbatasan waktu jualah, yang membuat saya mematok skop bahasan buku ini hanya satu dasawarsa (1996 – 2006), dan terfokus cuma di Ibu Kota.

Proses penulisan buku ini memakan waktu enam bulan lamanya, dan nyaris tanpa kendala. Karena memang sebagian narasumbernya adalah orang-orang dalam circle saya. Meski saya banyak menghabiskan waktu mengetik hingga larut malam. Tapi saya menikmati proses penggarapannya, karena membuat saya bisa merajut tali silaturahmi dengan kawan-kawan lama dan baru. Saya rasa tidak ada hal yang lebih menyenangkan, selain melakukan apa yang kita sukai dan bonusnya bisa nongkrong bareng mereka. Sambil mengenang keabsurdan masa remaja.

Karena keterbatasan waktu jualah, yang membuat saya mematok skop bahasan buku ini hanya satu dasawarsa (1996 – 2006), dan terfokus cuma di Ibu Kota.

Buku setebal 164 halaman ini tentu jauh dari kata sempurna, makanya saya lebih nyaman menggunakan kata melacak, ketimbang menyelipkan kata “sejarah” pada judulnya. Karena sejarah itu harus ajek menurut saya.

Akhir kata buku I Wanna Skank: Melacak Ska di Jakarta 1996-2006, tak hanya merunut hal ihwal masuknya ska ke Tanah Air saja, namun saya juga memberi sedikit ulasan mengenai kultur musik Jamaika, white reggae, first wave, second wave, percikan third wave ska di Amerika yang berimplikasi hingga ke Tanah Air, apa itu ska punk, skena reggae Ibu Kota, argumen saya tentang fourth wave ska, hingga daftar album ska mancanegara yang rilis di dalam negeri.

Ska memang bukan musik asli Indonesia. Tapi bukan berarti harus dilupakan dalam timeline sejarah musik Indonesia. Adanya Tipe-X, Artificial Life, Collonyet, Purpose, Shaggydog, Jun Fan Gung Foo, dan lain sebagainya, adalah bukti eksistensi musik ska. Dan yang perlu diingat, jenis musik ini pernah begitu digandrungi di Indonesia pada dekade 1990.

 


 

Penulis
Nor Rahman Saputra
Nor Rahman Saputra adalah mantan jurnalis televisi dan illustrator lepas, yang gandrung akan musik. Di musik dia mendidikasikan dirinya sebagai penikmat, pemerhati, gig-goer, dan kolektor. Pernah membidani lahirnya Jak Musik sebuah program musik indie di televisi, serta independen label Fast Youth Records (2002 – 2010)
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Senin Malam yang Seru di Irama Kotak Suara Live!

Setelah sukses menggelar Irama Kotak Suara Live! pertama September lalu, Pophariini kembali hadirkan musisi Irama Kotak Suara di seri kedua IKS Live! ini.

Satine Zaneta – Tentang Waktu (EP)

Sebagai sebuah EP debut, Satine Zaneta menyanyikan lima nomor di dalamnya dengan sederhana dan juga tampak puas dengan mencurahkan ragam perasaannya.