Noni: Dari Gabut Jadi EP

Jan 31, 2021

Kalau kalian memperhatikan, ada sebuah gelombang terbaru dari penyanyi-penyanyi muda yang hadirnya berbarengan. Di antara gelombang tersebut, terselip nama Noni, solois R&B dari Jakarta yang siap untuk mengambil tempat di industri musik lokal saat ini.

Terbilang muda, karena Noni masih menginjak umur di angka 21. Lebih satu tahun dari angka ketika dirinya resmi melepas EP perdananya, BOYISH di bulan November lalu. Lima nomor, terangkum dalam EP tersebut, termasuk single “BOYISH” yang sudah lebih dahulu dirinya lepas di bulan sebelumnya.

Perkenalan pertama kali Pophariini dengan cewek yang punya nama asli Amaranggani ini dimulai di program Irama Kotak Suara. Segenap tarikan vokal, lirik serta kemasan musik yang dibawanya, Noni sangat layak untuk disejajarkan dengan penyanyi muda internasional macam Niki. Dengan segenap diskografi kolaborasinya, kami yakin ia akan meroket dalam waktu yang tak terlalu lama. Pun, kami juga tidak berpikir dua kali untuk menobatkan dirinya menjadi satu dari tiga nama favorit kami dalam Irama Kotak Suara edisi bulan November lalu.

Beberapa waktu yang lalu, Pophariini berkesempatan untuk mengobrol lebih dalam dengan Noni. Mulai dari hadirnya sang EP yang berasal dari kebosanannya selama libur kuliah, cerita dibalik nama panggungnya, hingga pilihannya akan album yang mengubah hidupnya.

Simak lengkapnya di bawah ini.


 

Seberapa bosan liburan kuliahmu hingga akhirnya bisa-bisanya malah merilis EP?

Sebenarnya nggak bosen! [tertawa], Tapi waktu sebelum libur tuh sudah tahu saja pasti gabut nggak tau mau ngapain, plus nggak boleh keluar rumah kan. 3 bulan tuh gue di rumah. Nah ya sudah, gue memilih buat ngutak-ngatik DAW software. Tujuan awalnya mah sebenarnya hanya untuk ngasah skill producing saja. Kebuat deh tuh 4 lagu. Ya sudah, ini sekalian bikin EP saja kalau gitu! [tertawa].

Berarti, EP Boyish ini bisa dibilang sebagai ‘berkah’ pandemi ya? Kalau nggak ada pandemi, ‘mungkin’ EP ini nggak akan keluar di tahun lalu?

Antara iya dan nggak??? Karena memang planning buat rilis EP tuh sudah dari pertengahan tahun 2019. Jadi, mau pandemi mau nggak juga kayaknya eventually bakal tetap rilis EP.

Dari Amaranggani ke Noni, ada cerita apa hingga akhirnya memutuskan memakai moniker Noni sebagai nama panggung?

Aduh, ini pertanyaan yang nggak pernah luput dari kehidupan gue selama 21 tahun hidup tuh, gue nggak pernah nggak ditanya kayak begini. Jadi, sebenarnya basically Amaranggani sama Noni itu sama saja. Kenapa gue pakai nama Noni, ya karena memang itu panggilan gue, panggilan dari keluarga. Dari lahir gue sudah dipanggil Noni. Terus, ya sudah gue mikirnya ya karena gue sudah terbiasa dengan nama ini, dan gue juga bingung kalau mau bikin moniker lain yang lebih keren kayak gimana, jadi ya sudah gue pakai nama Noni saja.

Dan lebih easy to remember ya?

Betul! Dan enak juga gitu jadi nggak ada sekat. Orang nggak bingung manggil gue apa, karena my name is still Noni both on and off stage begitu.

Amaranggani pun kayaknya juga kepanjangan sih kalau ditulis di poster-poster acara…

Bener! [tertawa]. Tapi nama Amaranggani masih gue pakai sih di credits lagu-lagu, jadi fair lah ya.

Seberapa besar pengaruh lingkungan sosialmu terhadap hadirnya nomor-nomor di EP Boyish?

Besar banget, karena semua lagu yang gue tulis di EP gue itu memang pengaruhnya dari lingkungan sosial sekitar gue. Kayak misalkan “Boyish”, itu lagunya tentang dinamika pertemanan gue dan teman-teman cowok gue yang gue merasa kayak “Kenapa sih, kok lo nggak bisa melihat gue sebagai seorang wanita? Apa yang membuat lo berpikir seperti itu? Bisa nggak sih lo cari alasan lain?” Kayak, aneh saja begitu kalau misalnya mereka melihat gue bukan seperti seorang wanita. “Memang selama ini lo melihat gue seperti apa?”

Jadi ya begitu, memang semua lagu yang ada di EP gue itu ditulisnya berdasarkan apa yang gue alami sendiri di lingkungan sosial yang ada di sekitar gue. Sebenarnya, nggak cuma di EP saja sih, di lagu-lagu lain pun seperti itu. Pasti dari pengalaman sendiri, dan based on the society that surrounds me.

Boleh cerita mengenai hadirnya EP Boyish?

Jadi, seperti yang gue bilang tadi, kehadiran EP ini tuh bisa dibilang mendadak. Awalnya memang gue bikin-bikin lagu hanya untuk ngasah skill producing saja. Terus, selama bikin-bikin lagu itu kan gue selalu konsul sama produser gue, kak Ikki (CVX). Lagu pertama yang gue bikin tuh track ketiga, judulnya “Go Figure”. Waktu bikin track ini, gue ngerasa feel dari aransemennya tuh shady banget, enaklah buat dipakai nyindir orang [tertawa]. Ya sudah, buat lagu ini. I ended up writing about my personal discomfort towards these people from the past yang dulu nggak pernah menganggap gue ada, and then all of the sudden sekarang mereka datang ke gue buat ‘nyari untung’ begitu.

Jujur, awal bikin lagu ini kan gue bikin rhythmnya dulu, itu tadinya gue pengin nyoba imitate rhythm salah satu lagu dari musisi Korea yang gue suka banget, namanya SUMIN. Judul lagunya, “Dirty Love”. Gue paling suka dan paling bangga sama lagu ini karena this is the type of song I’ve been dying to make, I feel like I had the ‘EUREKA!’ moment pas bikin lagu ini.

Nah, baru pas lanjut bikin lagu kedua, track keempat di EP gue, “You Don’t Have to (Rush)”, di situ gue mutusin untuk bikin EP. Karena saat itu kalau dicompile, sudah ada tiga lagu yang bisa masuk ke EP. “More”, track pertama itu demo yang sudah gue bikin dari awal tahun 2019. Ini juga gue bangga banget karena waktu itu bikin lagu ini nggak pakai instrumen sama sekali dan baru ngerangkai lagunya di DAW software pas aransemen kasarnya sudah selesai. Karena gue ngerasa nggak mampu bikin lagu ini jadi bagus dan sesuai ekspektasi gue, akhirnya gue operlah ke kak Ikki. Baru deh, lagu terakhir yang gue bikin itu “BOYISH”.

Dalam proses pembuatan ini, gue banyak ngambil inspirasi dari musik R&B modern yang masih ada elemen-elemen retro dari tahun 2000-an dan 90-an. Selain itu, gue juga ngambil banyak inspirasi dari musisi-musisi Korea Selatan favorit gue; Sumin, Yerin Baek, Crush, dll.

Bagaimana perjalanan dibalik hadirnya CVX sebagai produser?

Nah, kalau kak Ikki (CVX) tuh gue memang sudah kenal beliau dari 2019. Akhir tahun itu kita baru ketemuan, that was the very first time we met when we were recording for our collab single, “Crawl”. Ever since then, gue juga jadi sering bantu-bantu buat lagu dia kan. Awal tahun 2020 itu, gue sempat mau rilis EP yang directionnya sangat amat jauh berbeda dari EP Boyish ini. Nah, waktu itu dia nawarin diri buat bantuin gue. Lalu karena di EP yang itu pas finishing terlalu banyak errornya, we decided to drop that project sampai akhirnya pertengahan tahun 2020 gue tagih dia lagi untuk bantu gue di EP Boyish ini [tertawa].

Andai bukan diproduseri oleh CVX, hasil akhirnya akan beda ya?

Of course. Gue juga ngerasa keakraban gue dengan beliau sangat amat berperan besar dalam proses pembuatan EP ini. Yang paling gue suka kerja sama kak Ikki itu He’s willing to understand the direction that I want the songs to be. Like, He’s THAT versatile and very understanding.

Jalannya memang sudah ada yang ‘ngatur’.

Nahhh benar!

21 tahun, satu EP, apa lagi yang sedang direncanakan oleh seorang Noni di waktu-waktu dekat ini?

Karena tahun kemarin gue rilis lumayan banyak dan hampir setiap bulan (solo and collab projects combined), untuk sekarang gue pengin lebih laid back saja lah. Tahun ini rencananya rilis-rilis singles saja kayaknya. There might be some surprises later this year but I’m not gonna talk much about it karena nanti jadinya nggak surprise dong [tertawa].

Nih, sekarang gue lagi libur kuliah sambil ngerjain demo lagu-lagu yang planningnya bakal rilis tahun ini. Nggak beda jauh lah ya sama libur kuliah yang kemarin.

Terakhir, tolong beri tahu kami satu album yang mengubah hidupmu dong.

Gue harus mikir lama banget karena the term ‘album yang mengubah hidup gue’ tuh berat banget. Selama ini kan kalau ditanya pasti sekedar album favorit gitu. Tapi pas baca pertanyaan ini, yang ada di otak gue cuma album Your Home dari SUMIN yang rilis di tahun 2018.

Alasannya, karena menurut gue SUMIN tuh punya producing style yang distinctive dan unik banget. And, I’d say, daring (daring as in ‘berani’). Her producing style gave me so much courage, knowledge, and perspectives on how to produce songs. I want to be a better musician because of her.


 

Penulis
Raka Dewangkara
"Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan di luar kepala."
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Nostalgia Semu: Alasan Tembang Lawas Bisa Dinikmati Generasi Kami

Mengapa saya kelahiran 1999 yang nggak pernah merasakan euphoria trio Warkop DKI tayang bisa menikmati musik era-sebelum-saya-lahir itu

Tamasya Kota: Ujung Penantian Kolaborasi Jon Kastella dan Pusakata!

Hari Jumat (30/07) lalu, Jon Kastella dan Pusakata resmi mempersembahkan “Tamasya Kota”, sebuah tembang kolaborasi yang sudah digarap sejak dua tahun lalu.