Rekomendasi: Sajama Cut – GODSIGMA

165
Sampul album GODSIGMA.

Artist: Sajama Cut
Album: GODSIGMA
Label: The Bronze Medal Recording Co.

Saya selalu suka dengan sebuah momen dimana sebuah band ‘lawas’ kembali mengeluarkan karya terbarunya – dalam kasus ini, setelah memakan waktu sekian lama.

Bukan. Bukan karena saya tumbuh di era mereka hadir (Sajama Cut merilis Apologia di tahun 2002. Sementara di tahun tersebut, saya masih menempuh pendidikan di jenjang Taman Kanak-Kanak), tetapi selalu ada keseruan tersendiri ketika kembali ‘ngulik’ karya-karya terdahulu dari si- ‘band lawas yang baru saja mengeluarkan karya terbarunya’.

Kenapa harus ‘ngulik?’ Tentu saja atas nama nostalgia.

Contoh kasusnya? Ketika The Adams merilis Agterplaas pada awal tahun 2019 lalu. Spesial? Jelas. Jarak waktu 13 tahun antara album sebelumnya adalah satu yang paling mencuat, yang paling dibicarakan oleh semua yang menyanjung kehadiran dari album tersebut.

Rilisnya album tersebut menjadi pemicu bagi saya untuk kembali mendengarkan karya-karya terdahulu mereka, juga sebagai ‘pembanding’ 13 tahun perbedaan rentang waktu dari album sebelumnya.

Yang paling baru? Tentu saja GODSIGMA, album kelima dari Sajama Cut. Euforia akan hadirnya album terbaru dari Sajama Cut ini sudah mulai terasa saat rilisnya single “Kesadaran/ Pemberian Dana/ Gempa Bumi/ Panasea” di bulan Maret lalu.

Setelahnya, ada “Adegan Ranjang 1981 (love) 1982” di bulan Mei, “Menggenggam Dunia” di bulan Juli, dan “Rachmaninoff dan Semangkuk Mawar Hidangan Malam” sebagai yang terakhir dilepas pada akhir bulan Agustus.

 

Keempat nomor tersebut, berbaris manis sebagai empat nomor pembuka nan ngebut dari GODSIGMA, dari total sembilan nomor yang Sajama Cut hidangkan.

Jadi, apa yang spesial dari GODSIGMA? Mari saya jelaskan secara ngebut, sesuai dengan empat nomor yang sudah disebutkan tadi.

Pertama, tentu saja lirik. Siapa sih yang pernah terpikirkan untuk memasukkan penggalan “Kusarankan kulum kembali” dalam lagunya? Atau penggalan “Berdisko ria di Vihara” yang super tidak sopan itu? Masih kurang? “Ini ibu Budi / Bu Budi pecandu” juga bisa kalian simak di nomor kelima, “Lukisan ‘Plaza Selamanya, Leslie Cheung’ Melukisku Melukisnya.”

Pun, juga harus disepakati bersama, bahwasanya Marcel Thee adalah salah satu penulis lirik handal yang dimiliki Indonesia saat ini. Tapi memang, atas hadirnya lirik-lirik super nyentrik tersebut, nomor-nomor dari GODSIGMA menjadi sebuah nomor yang ‘harus didengar berulang kali’ agar menetap diingatan, atau setidaknya agar nyangkut.

Kedua, dari segi musik. Saya akan setuju dengan mereka yang mengatakan bahwa hadirnya GODSIGMA membawa nuansa yang mirip-mirip dengan hadirnya Apologia. Beralasan, jelas. Juga karena keduanya hadir dengan keseluruhan nomor yang menggunakan lirik dengan bahasa Indonesia, yang sudah jarang Sajama Cut lakukan.

Sembilan nomor dari GODSIGMA pun tidak semuanya ngebut, walau memang dibuka dengan tempo yang kencang. Tempo melambat di nomor kelima, naik kembali di nomor keenam, “Lautan Yang Memeluk Cermin”, disusul oleh “Katedral Tiongkok”, “Tekstur Kulit Wanita Kaya-Raya”, dan ditutup oleh “Terbaring Di Pundak Pesawat, Termakan Api, Terlentang, Tersenyum”.

Bicara soal muatan lagu dan topik yang dibawakan? Sepertinya memang harus kalian dengarkan sendiri, karena bisa saja interpretasi yang didapatkan berbeda-beda. Terima kasih kepada lirik-lirik super nyentrik yang hadir, tentu saja.

Juga disampaikan oleh Marcel sendiri, bagaimana GODSIGMA adalah sebuah album yang orientasinya adalah untuk dimainkan di panggung, bukan seperti album-album terdahulu dari Sajama Cut yang berorientasi ke studio. Maka, tidak kaget jika album ini penuh dengan energi yang seperti sebuah jaminan bahwa kesemuanya akan menyenangkan ketika dibawakan secara live.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments