Rumahsakit Album Nol Derajat: Manuver Suhu Tahun 2000

2869

Indra Ameng memberikan undangan kepada kami. Akan ada acara peluncuran album kedua rumahsakit, Nol Derajat. Pada masanya, Indra Ameng adalah manajer rumahsakit. Saya senang sekali dengan undangan itu.

Meskipun rumahsakit dan band saya dahulu, Room V, cukup sering bermain di acara yang sama, Room V pun pernah bermain di Institut Kesenian Jakarta (kampus para personil rumahsakit), dan kami sama-sama roster Pops Records, divisi musik “alternative” dari major label Aquarius Musikindo (rumahsakit merilis dua album di bawah label itu, sedangkan Room V hanya merekam satu single untuk sebuah album kompilasi, Indieslapan), namun sesungguhnya kami tidak terlalu akrab saat itu. Secarik undangan dari tangan Indra Ameng terasa spesial.

Tak berapa lama sebelumnya, saya bertemu dengan Andri Lemes, vokalis rumahsakit yang sedang bersama Suar (vokalis Pure Saturday) di kantin FISIP UI, Depok. Nama kantinya adalah Balsem, kependekan dari “Balik Semak”, karena memang bangunannya dikelilingi tetumbuhan. Bukan janjian. Saya pun duduk bersama mereka, berkenalan dengan Suar. Lupa mengobrol tentang apa saja. Yang paling saya ingat hanya obrolan tentang sebuah acara pada 1996 di mana Pure Saturday pertamakali bermain di Jakarta, dan kami semua ternyata hadir di acara tersebut.

Harinya pun tiba. Kami datang ke Hanggar Teras, Pancoran, Jakarta untuk acara peluncuran Nol Derajat, album kedua rumahsakit. Kalau tidak salah, saya tidak menonton Jimi and the Playboys dan Bandempo, dua band pembuka pertama. Mungkin mereka terlalu asing untuk saat itu. Para personil Jimi and the Playboys kemudian membentuk The Upstairs dan Club 80s, sementara Bandempo ternyata membawa kelompok cheerleaders untuk pertunjukannya malam itu. Nampaknya saya hanya menonton band pembuka terakhir, Fable. Vokalis Fable, Adi “Cumi” merupakan sosok yang cukup ikonik. Rambutnya selalu gimbal, baik dicat merah maupun tidak, hingga kini gimbal itu diguntingnya. Fable identik dengan Jane’s Addiction dan Porno For Pyros.

Sebelum Fable bermain, mungkin saya sedang di luar venue. Mengobrol, makan malam, dan menelepon. Saya baru saja memiliki handphone pertama saya. Motorola, kalau tidak salah.

Malam itu, serasa semua band indierock/indiepop ada di sana, bahkan dari Bandung. Rumahsakit mengundang banyak sejawat ternyata.

Rumahsakit formasi awal. Kiri ke kanan: Gori, Marky, Andri, Dion, Sadamn. Foto: dok. istimewa

Tuntas Fable, diputarlah video musik “Mati Suri” karya sutradara Platon. Kelebatan cahaya-cahaya, siluet-siluet, nyaris tidak ada rupa yang terlalu jelas. Seperti memberi kabar bahwa rumahsakit merasa nyaman dengan perbedaan mereka, musik dan di luar musik, dibanding band pop yang ingin berada di tengah industri sana. Rumahsakit memilih artistik yang di luar pakem rumus perdagangan musik pada umumnya.

Hingga cahaya panggung terasa lebih temaram. Rumahsakit mulai bermain. Tata suara yang keluar di Hanggar Teras terdengar tidak ideal. Suara-suara seperti menggulung atau memantul. Vokalis Andri lebih banyak mematung dan minim bicara, kecuali semacam “Langsung aja, biar gak kemaleman, lagu berikutnya…”. Namun banyak dari kita menyadari bahwa Andri adalah salah satu sosok kharismatik amatir terdepan yang mulai muncul pada paruh kedua 1990an. Segalanya di panggung sering tidak sesuai jurus hiburan pada umumnya: suaranya kadang fals, sosoknya mungil, matanya sering lari dari penonton, jarang bergerak dan berkomunikasi di jeda lagu. Tapi sampai kini, sampai ia bolak balik menghentikan dan melanjutkan rumahsakit hingga akhirnya ia betul-betul meninggalkan rumahsakit dan pensiun dari musik, sepaket attitude-nya yang tersendiri itu memang sulit tergantikan. Cerita yang tersimpan oleh banyak teman yang mengenal rumahsakit.

Nol Derajat datang dengan gaya yang lumayan lain dari debut album self-title (1998), namun dengan sari cita rasa yang sama. Jika di awal mereka lebih banyak dipengaruhi oleh The Stone Roses, Charlatans UK, hingga Bluetones, maka pada album sophomore ini elemen shoegazing ditingkatkan, juga suasana melankoli goth ala The Cure misalnya. Perkembangan telah menjadikan sound gitar jadi lebih variatif dalam sugestinya dan pukulannya menyerang, sementara drum terasa bertambah di depan. Secara keseluruhan, rasanya lebih menari dalam gelap yang berbintang, kadang sinar dari lampu kecil, kadang ada juga gelombang lautan. Dan seperti album debut, lirik-lirik tetap berkesan, bahkan semakin ajaib dan menarik. Semakin remang di sudut kamar UFO.

Sampul album rumahsakit – Nol Derajat, karya Satellite of Love

Maka yang terjadi adalah demikian: mereka yang tidak terlalu menyukai album pertama, bisa begitu menyukai album kedua ini, dan bahkan bisa mulai semakin menyukai album pertama. Dan mereka yang lebih menyukai album pertama tetaplah pendengar setia album kedua.

Secara lagu, “Pop Kinetik” , “Sakit Sendiri”, dari album debut telah menjadi anthem tanpa disiaran radio—kaset yang terus diputar dan panggung ke panggunglah yang menghidupinya. Namun secara album, Nol Derajat bukan hanya mengokohkan posisi rumahsakit sebagai salah satu band pionir indiepop di Indonesia, tapi juga capaian seni suara yang masih saja sulit untuk ditandingi hingga kini. Mereka bermain sangat efektif sekaligus kaya dalam membangun suasana; pilihan notasi, beat, sound, aransemen. sementara lirik-liriknya betul-betul mengkhususkan suasana itu hingga malah jadi terasa lapang tafsir personalnya.

Dari sisi sampul kaset, desainer yang menamakan dirinya Satellite of Love, kembali menyajikan visual terdepannya. Setelah sampul album pertama Rumahsakit menghadirkan layer-layer Photoshop termaju di eranya, Nol Derajat  datang dengan sampul memanjang yang menata kebekuan, dirayakan secara dingin oleh berbagai benda, hampir seperti foto karya David LaChapelle tanpa model namun mantel dan selimutnya bertebaran di mana-mana.

Sampul album rumahsakit – Nol Derajat, karya Satellite of Love

Motorola saya pertamakali jatuh, casing-nya terbuka, pada saat acara peluncuran album Nol Derajat. Saat banyak menggerakkan tubuh ketika DJ bermain di penutupan acara itu, dia terlompat dari kantung celana bahan yang mungkin memang terlalu besar.

Di tahun yang sama, Dewa 19 merilis Bintang Lima, album mereka yang lagi-lagi bertebaran hits. Setahun kemudian, Padi datang dengan debutnya, lalu segera menjadi pusat perhatian. Sementara Rumahsakit masih ada di sebuah pojokan yang akrab dihidupi oleh kalangannya. Kasetnya diputar dan pertunjukannya yang seringkali di tempat-tempat kecil selalu didatangi oleh anak-anak muda yang mengikuti suaranya. Jauh di kemudian hari, internet turut menyebarkannya hingga ke generasi lainnya.

Nol Derajat terjadi di Indonesia pada awal milenia.

 

____