“Sabda Alam” Chrisye: Sabda-Sabda Sang Bahaduri

1306

Kalau sebuah lagu punya putaran nasib, maka “Sabda Alam” karangan mendiang Junaedi Salat (untuk membedakan dengan lagu berjudul sama ciptaan Ismail Marzuki) selalu dinaungi keberuntungan. Ketika pertama kali dirilis pada tahun 1978, “Sabda Alam” yang berada di album berjudul sama rilisan Musica Studios berhasil memberikan jalan popularitas lain bagi Chrisye, setelah kegemilangan di album soundtrack Badai Pasti Berlalu serta single “Lilin-Lilin Kecil” dalam kompilasi Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977

Kini setelah 43 tahun, Once Mekel membawakan ulang tanpa cela. Mengobati kekecewaan versi Vidi Aldiano yang dijadikan sebagai lagu latar untuk iklan aplikasi video on-demand Dinsey+ Hotstar atau versi Ahmad Dhani. Rasanya tidak berlebihan jika otoritas untuk membawakan ulang lagu-lagu Chrisye sebaiknya diberikan kepada Once untuk tetap menjaga marwah karya-karya sang legenda. Once yang punya warna suara kelewat bagus itu memberikan penghormatan yang layak untuk karya terbaik Junaedi Salat, yang meninggal dunia pada 18 Januari 2021 lalu.

 

Sebagai album Sabda Alam menjadi monumen peninggalan trio Chrisye-Yockie Suryoprayogo-Junaedi Salat, mengimbangi apa yang dibangun triumvirat Chrisye-Yockie Suryoprayogo-Eros Djarot setahun sebelumnya. Salah satunya, Sabda Alam bisa lebih ng-Indonesia ketimbang Badai Pasti Berlalu yang condong ke arah Eropa klasik.

Kehadiran Guruh Soekarnoputra dalam tiga lagu yang disusunnya menjadikan Sabda Alam bisa memiliki kekuatan karakter tersendiri meski memiliki mood romantis dan melankolis yang tidak jauh beda dengan Badai Pasti Berlalu. Referensi mendalam Guruh pada naskah-naskah klasik Nusantara terlihat jelas pada “Smaradhana” dengan barisan lirik beristilah Sanskrit dalam balutan fusi aransemen musik tradisional Bali dan musik modern Barat.

 

Tidak seperti Guruh yang “meledak-ledak” dalam penulisan lirik-lirik sastrawi, Junaedi Salat yang menulis lirik untuk enam lagu (satu lagu “Nada Asmara” ditulis bersama Yockie Suryaprayogo) justru sedikit lebih membumi. Di “Sabda Alam”, Junaedi Salat hanya seskali memakai kosakata Sansekerta seperti buana, nirmala, bayu, dan sukma. Ia lebih banyak “memanfaatkan” vokal Chrisye yang seperti diturunkan dari surga untuk memperkuat kekagumannya akan keindahan suasana alam raya di pagi hari dengan lebih banyak bertutur lewat kalimat-kalimat lugas.

Sabda Alam bisa lebih ng-Indonesia ketimbang Badai Pasti Berlalu yang condong ke arah Eropa klasik

Fakta menarik adalah lagu “Citra Hitam”. Jurnalis senior Denny MR menyebut lagu ini ditujukan untuk Presiden Soekarno (https://www.instagram.com/p/CKMPYKCrH09/ ). Apakah kau yang disebut dalam reffrain mengacu pada sosok Sang Proklamator? Boleh jadi demikian jika melihat kecenderungan lirik-lirik lagu pop di era itu yang lihai untuk menyembunyikan pesan, terutama sekali jika menyinggung Soeharto dan rezim Orde Baru, termasuk musuh-musuh politiknya. Toh dalam “Lilin-Lilin Kecil” James F. Sundah sebagai penulis lirik juga menggunakan metafora di sekujur bangunan lirik lagu.

 

Satu lagu, “Adakah,” ditulis oleh Christ Kayhatu dan Tommy W.S. Nomor ini seperti rangkuman album yang juga masuk dalam daftar 50 Album Musik Terbaik Indonesia 1955-2015 terbitan Elevation Books: kuat, penuh detail keindahan di setiap elemen, dan sesekali bergerak dalam langkah yang tak tertebak lewat atraksi vokal Chrisye yang tampak tenang namun tiba-tiba bisa menjadi ombak tinggi. Pun dengan permainan synthesizer Yockie Suryoprayogo yang terus menerus menusuk emosi.

 

Mungkin karena perilisan yang berjarak hanya setahun membuat Sabda Alam seperti tenggelam di bawah kebesaran Badai Pasti Berlalu dalam diskusi tentang rekam jejak Chrisye. Padahal secara komersial album ini juga sukses. Namun setidaknya hari ini, warisan para bahaduri tadi kembali hadir dalam wujudnya yang terbaik.

 

____

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments