Saksikan Awal Dunia Musik Baru bersama Goodnight Electric

4229

Ya, gue merasa bahwa “Erotika” dan “VCR” itu kayak chapter yang sebelumnya. Kan produksinya juga tahun 2019, dan dikerjakan bareng Randy. Rilisnya di 7″, tapi masih banyak orang yang ingin punya CD-nya, dan gue malas bikin CD cuma dua lagu! [Tertawa] Makanya gue masukkan sebagai bonus track di Misteria.

“Labuh” dan “Arah” itu hasil eksperimen modular?

Ya.

Kenapa dimasukkan ke album ini?

Karena Goodnight selalu punya lagu instrumental yang biasanya dipakai buat intro sebelum kami masuk. Dulu ada “A.S.T.U.R.O.B.O.T” di album pertama, terus di album kedua ada “Hello”. [Tertawa] Itu dipakai untuk cek sound sebelum kami main, putar lagu dulu untuk cek line-nya sudah keluar semua. [Tertawa] Makanya selalu punya lagu instrumental.

Kalau Bondi dan Oomleo terlibat dalam produksi juga?

Terlibat. Ada materi yang mereka buat, tapi belum rilis. Oomleo bermain pad, kalau Bondi lead dan sampling.

Di rekaman ini ada?

Ada. Yang “Saturn Girl” ada suaranya Bondi. Suara Bondi masih lumayan terdengar kayak gue, tapi beda frekuensinya. Oomleo si anjing, mau datang untuk rekaman suara tapi enggak datang-datang! [Tertawa]

Mari bahas lagu-lagunya. Selain sebagai intro, ada cerita apa lagi tentang “Labuh”?

Berkaitan dengan “Misteria”, kayak preludenya. Kata “labuh” sendiri dari lirik “Misteria”: “Bisakah ku berlabuh di sana?” Kalau “Arah” juga ada katanya di “Saksikan Akhir Dunia Bersamaku”.

“Misteria”?

“Misteria” sebenarnya demo lagu lama yang pernah gue rekam, gitar doang. Gue punya banyak demo yang cuma gitar atau vokal doang. Gue bongkar, dan “Misteria” awalnya demo jaman dulu, tapi bukan demo untuk Goodnight. Aslinya bahasa Inggris, akhirnya gue jadikan bahasa Indonesia. Lagunya memang basic-nya pas gue bikin ngeband banget, makanya menarik banget. Bukan yang model elektronik kayak “Saksikan” yang banyak synthesizer.

Untuk ukuran Goodnight Electric, ini termasuk yang paling pelan.

Iya. Enggak tahu kenapa, gue sekarang susah bikin yang upbeat. Pas Februari kemarin, “Mau yang mana dirilis duluan?”, gue tadinya sempat mengajukan “Saksikan” yang gelap banget. Cuma, anak-anak sama tim Believe bilang bahwa kalau awal tahun rilis lagi yang happy. Tapi lagu gue enggak ada yang happy! “-Dopamin” juga enggak happy, cuma beat-nya saja cepat. Lagunya enggak ada hook-nya, datar banget dan sedih, tapi upbeat saja. Mereka enggak masalah: “Ya sudah, ini saja dulu dikeluarkan.” Terserah yang mana! [Tertawa] Kalau gue sebenarnya ingin “Saksikan”, karena tiba-tiba ingin mengeluarkan yang gelap.

Sampai sekarang, dari tujuh lagu yang baru enggak ada yang happy, kecuali lagunya Bondi dan satu lagunya Hans, yang sebenarnya enggak happyjuga. Gepeng (nama panggilan Adhiya Fisma, manajer Goodnight Electric) pingin banget ada yang upbeat, cuma gue belum bisa.

Memang sedang susah membayangkan hal-hal yang happy?

Makanya dulu Goodnight mandek, karena sebenarnya gue mood gue sudah enggak kayak Goodnight Electric yang jaman dulu, berapi-api, joget-joget, segala macam. Jadi memang kayak, “Aduh, gue sudah enggak mood banget, nih.” Tapi akhirnya pas kami comeback, gue masih yang, “Gue sudah enggak bisa bikin lagu happy.” Yang disko, yang upbeat. Enggak tahu kenapa! [Tertawa] Nah, kalau “Saturn Girl” itu benar-benar fresh, baru. Kalau yang lain-lain rata-rata sketch demo lama.

Dari tahun berapa?

“-Dopamin” lama banget, tahun 2010 jaman VULT (Vague Under Lightning Tiger, proyek band yang sempat dibentuk Batman bersama Aprimela Prawidiyanti dari White Shoes & The Couples Company dan teman-teman lain). Kalau “Misteria” mungkin tiga tahun lalu. “Saksikan” juga dua tahun. Yang paling fresh “Saturn Girl” sama yang tujuh lagu yang ada di komputer sekarang ini.