354

Sebuah Normal Baru yang Abu-Abu

Normal yang baru
Selamat datang, normal yang baru / foto: Pohan

Sejak pandemi ini mulai diketuk palu, semua orang seperti berada di lampu merah yang tak kurun-kurun bergerak menjadi kuning, apalagi hijau. Semua dipaksa mengurung diri di rumah masing-masing (oh, slogan basi #dirumahaja) dengan berharap mereka bisa kreatif.

Seminggu, dua minggu, sebulan pertama, masih ada yang belum percaya bahwa kami memang beneran harus di rumah. Bulan kedua, ada yang mulai atau sudah kreatif, mencoba kreatif, banting setir, bikin ini itu: siaran radio dari rumah, masak-memasak dari rumah, webinar ini, talkshow itu, semua orang nampak sibuk, atau hanya pura-pura sibuk?

Semua mencari cara agar tabungan tidak terkikis, atau minimal ya masih ada pemasukan, termasuk di ranah musik. Hari ini, semua musisi putar-puter otak: Sampai akhirnya datang kemudian paket harga konser di rumah, paket tanya jawab di rumah, paket say hai netizen dan paket-paket lainnya yang dibuat-buat demi menjaga asap dapur tetap ngebul, manajer senang, kru senang, semua senang. Entah mengapa, saya jadi tak yakin senyum dan keseruan mereka yang kita lihat dari depan layar smartphone adalah murni ketulusan dari mereka. Ayolah, guys kalian rindu manggung beneran kan?

Baca juga:  Pamungkas - Solipsism
Musisi
Musisi-musisi tetap rekaman di tengah pandemi / dok. berbagai sumber

Ada juga musisi yang menolak ‘ikut arus utama’ membuat konser online-online sejenis dengan alasan tak sesuai dengan citra mereka. Angkat gelas untuk yang satu ini, pastinya mereka punya cukup tabungan atau punya cara tokcer lain untuk mencari pundi-pundi.

Di luar itu, saya acungkan dua jempol bagi musisi yang tetap terus meramu, merilis dan merampungkan rekaman mereka, meskipun terganggu jarak akibat pandemi ini. Memisahkan jarak tak berarti menjauhkan kreativitas. Mantul!

Berita hari ini, sejumlah daerah mulai melonggarkan ikat pinggang PSBB. Jakarta, Palembang, Surabaya dan kota-kota lainnya. Namun pelonggaran tersebut bukannya tanpa rasa was-was. Kita tahu bahwa di negara lain yang warganya dilonggarkan sudah terkena gelombang kedua virus ini sampai akhirnya ditarik masuk rumah lagi.

Baca juga:  Pemilu 2019: Kenapa Seniman Harus Netral?

Indonesia yang merasa kepo, ingin tahu, atau paling tidak ingin merasakan dulu, jika skenario ‘gelombang kedua datang, ya sama kaya negara lain, tinggal mengandangkan warganya saja. Namanya juga coba-coba, boleh dong (slogan klasik!).

Sampai hari ini, semua pemimpin, ilmuwan dan pengambil keputusan belum seratus persen satu suara bagaimana caranya menghentikan dan mengusir setan pandemi ini. Inilah mengapa setiap keputusan yang diambil oleh negara hanyalah abu-abu untuk warganya.

Di musik contohnya, kita tahu beberapa festival musik masih terjadwal dengan baik dari Agustus sampai akhir tahun. Tapi apakah iya yakin tak akan mundur atau dibatalkan? Kalau pun tetap terlaksana, kita tahu aturan main (yang main-main) tentang kelonggaran setelah PSBB ini? Tak boleh pegangan, tak boleh berdekatan, tak boleh tatap-tatapan, sayang-sayangan, cium-ciuman, senggol-senggolan.

ini tak beda seperti hubungan seks yang gagal, masturbasi yang tak maksimal.

Lalu apalah artinya sebuah konser musik tanpa semua yang saya sebutkan itu? Bayangkan di sebuah konser musik di era normal yang baru: Seorang penggemar rock menonton band idolanya tampil maksimal bersama teman-temannya, namun dengan jarak yang tak begitu dekat, tanpa moshing, stage-diving dan ‘aturan-aturan suci’ yang sudah dibuat jauh berabad-abad sebelum pandemi ini? Menurut saya ini tak beda seperti hubungan seks yang gagal, masturbasi yang tak maksimal. Sedih? Tentunya.