Selamat Datang Jalan Enam Tiga dari Efek Rumah Kaca

• Jan 30, 2020

Efek Rumah Kaca menggelar Konser Jalan Enam Tiga pada Selasa, (28/01) di M Bloc Live Space. Konser ini digelar dalam rangka peluncuran mini album perdana Efek Rumah Kaca bertajuk Jalan Enam Tiga.

Konser malam itu dibuka oleh trio Mad Madmen. Trio yang sepertinya tak asing karena berada di dalam lingkungan Efek Rumah Kaca. Mereka membawakan sekian lagu sekaligus mempersembahkan lagu yang disebut selipan buat ERK berjudul “Mad Mad Woman”.

penampilan Mad MadMen pembuka konser Jalan Enam Tiga / foto: pohan

Kalau cuma hadir demi menyaksikan materi mini album Jalan Enam Tiga, waktu agaknya lambat bergulir. Soleh Solihun menjadi sosok intermeso yang tepat. Ia berbagi cerita tentang perkenalannya dengan Efek Rumah Kaca. Saat masih bekerja di majalah dewasa asal Amrik.

Mad Madmen / foto: Pohan

Soleh mengatakan, saat itu ia dihubungi sama manajer pertama ERK, Harlan Boer atau akrab disapa Bin. “Waktu itu mereka lagi manggung di Cilandak Town Square, di atriumnya jam 2 siang. Akhirnya karena saya tidak enak sama Bin, saya datang ke Citos. Yang nonton cuma saya dan Bin,” kenang Soleh.

Efek Rumah Kaca / foto: pohan

“Bayangkan jam 2 siang di atrium Cilandak Town Square mendengarkan musik Efek Rumah Kaca yang belum pernah saya dengarkan. Yang pertama terlintas di benak saya adalah nggak akan laku nih band. Band apa ini. Namanya nggak keren. Kayak judul tesis,” tambahnya.

Layaknya proses perkenalan yang selalu dihiasi ancar-ancar. Ternyata asumsi Soleh bahwa ERK tidak akan memiliki pasar salah. “Saya langsung salah. Jadi, jangan percaya apa kata wartawan karena saya waktu itu wartawan,” candanya.

Soleh Solihun / foto: pohan

Di sela banyolannya, Soleh memperkenalkan album Jalan Enam Tiga. Album yang melalui proses rekaman di studio di New York. Nama album dipilih sebagai penghargaan dari ERK terhadap program televisi Sesame Street yang kini sudah resmi menjadi nama jalan di persimpangan jalan utama daerah Manhattan. Persimpangan tersebut sebelumnya bernama 63rd Street yang akhirnya menjadi gagasan Cholil menuliskan lagu.

Efek Rumah Kaca, berganti kostum hitam hitam / foto: pohan

“Belilah albumnya karena kalau kalian dengerin Spotify apalagi yang pakai iklan, kurang ajar. Itu cuma sedikit penghasilannya buat band. Kalau kalian ingin menghargai bandnya, beli album fisiknya,” kata Soleh.

kika: poppie airil (bass), Akbar (drum) / foto: pohan

Konser Jalan Enam Tiga akhirnya dimulai sekitar jam 9 malam kurang. Cholil bersama rombongan menampilkan pertunjukan dalam dua babak. Babak pertama aksi mereka dihiasi pantomim oleh laki-laki yang mengenakan putih-putih yang mencoba memberikan tafsir per lirik lagu yang dibawakan ERK. Lagu-lagu lama yang dibawakan medley sebagai pemanasan.

gerak tubuh menafsirkan lirik ERK / foto: pohan

Di babak kedua, pada layar panggung muncul video perjalanan ERK saat di New York. Diperlihatkan proses bagaimana mereka melakukan penggarapan Jalan Enam Tiga di sebuah studio. Album berisi empat lagu yang dibawakan antara lain “Jalan Enam Tiga”, “Normal yang Baru”, “Palung Mariana”, dan “Tiba-Tiba Batu”.

Adrian, eks personil ERK hadir membawakan 2 lagu / foto: Pohan

Tak pernah berubah menyaksikan ERK di mana pun dan kapanpun. Mereka tetap membawakan banyak lagu dari Kamar Gelap di babak ketiga. Sebut saja “Tubuh Membiru… Tragis”, “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, “Kamar Gelap”. Sebagai kejutan sekaligus penutup, Adrian Yunan muncul memeriahkan konser menyanyikan lagu “Sebelah Mata” dan “Cinta Melulu”.

Penerka, fans resmi Efek Rumah Kaca / foto: pohan

Di momen perayaan Jalan Enam Tiga ini pula Efek Rumah Kaca yang sebelumnya belum memiliki nama bagi penggemarnya, akhirnya meresmikan Penerka, kepanjangan dari ‘penggemar Efek Rumah Kaca’ sebagai nama fans mereka. Ya, semoga saja dengan diumumkannya fans resmi ini tak lantas berimbas kepada munculnya banyak banner di konser-konser ERK mendatang tidak mengganggu kenikmatan menonton.

_____

Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.

Eksplor konten lain Pophariini

Eksistensi Sebuah Band oleh Ramadhista Akbar (Nidji)

Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan sebuah band untuk berhenti berkarya ataupun bubar. Gitaris Nidji, Ramadhista Akbar mengulasnya.

Mau Tau Banget?: Mentor Interview – Sarah Deshita

Selamat datang kembali di edisi kedua dari Mentor Interview! Sekilas mengenai Mentor Interview, kami berkeliling menemui nama-nama yang sudah tidak asing lagi di industri musik Indonesia saat ini. Nama-nama yang kami temui, mempunyai keahliannya …