Siasat Pekerja Musik dan Penggemarnya di Masa Pandemi

404
Ilustrasi Toma Kako

Begitu banyak menu nada di handphone. Mari dukung dan nikmati musik Indonesia dengan rebahan ceria. Dan jika harus keluar rumah, mungkin bisa kenakan merchandise masker band kegemaran kita.

David Bayu, vokalis Naif, salah satu band favorit sepanjang masa, datang juga ke Youtube. Dia membuat set studio untuk disaksikan publik dalam format video bernama David Bayoutube. Nampaknya kita bisa mendapatkan banyak lagu-lagu Naif dari beragam kurun waktu dimainkan di sana, atau bahkan penampilan musisi lainnya dari berbagai era. Mesin waktu pun sudah sulit ditentukan perjalanannya: masa lalu, sekarang, atau esok hari?

Membuka episode pertamanya dengan artikulasi kekikukan penayangan saluran pribadi, juga tentunya keramahan yang hangat, David menyapa dan menghibur bersama suara pulen, gitar akustik yang montok dan jernih, dan lagu-lagu indahnya—menyanyikan “Bunga Hati” (dari album Let’s Go, 2008) dan “Jauh” (Naif, 1998).  David pun bercerita bahwa “Jauh” dapat dikatakan sebagai lagu pertama Naif, tercipta secara spontan dalam sebuah jam session berperalatan seadanya, dan beruntung sempat direkam.

Tanpa channel Youtube yang baru dibuatnya itu, mungkin tidak pernah bisa saya mendengarkan lagu-lagu itu dinyanyikan David hanya dengan gitar akustik, sambil saya goler-goler di kasur. Dan entah apa lagi yang akan dipersembahkannya esok hari saat kamera kembali dinyalakan.

Selain tentang David dan Naif, belakangan ini juga ada kabar dari masa lalu yang membuat saya riang; Waiting Room merilis ulang album pertamanya, yang pertama kali edar pada 1997, dalam format fisik dan digital di 2020. Tak hanya rekaman musik, mereka pun menjajakan merchandise dengan desain dari masa awal dirilisnya album self-titled itu: ilustrasi legendaris karya tangan seniman Motulz yang menjadikan album ini dijuluki dengan nama “Buaya Ska”.

Sedikit banyak, tampaknya ada pemantik dari perusahaan rekaman Aquarius Musikindo, tempat dahulu Waiting Room merilis album kedua (Propaganda, 2000) dan ketiga (Music, 2002) di bawah sub label itu, Independen Records (dengan A&R yang sama, Dodo Abdullah, juga membentuk Pops Records dengan orientasi rilisan lebih ke wilayah indie pop), yang kini mengaktifkan divisi publishing-nya untuk area rilisan digital dan mengontak para roster mereka dari era rilisan fisik untuk membuat kontrak medium baru. Bersama ajakan itu, Waiting Room pun serasa kepalang sekalian mewujudkan merilis kembali album self-titled mereka. Dan, hey, sebelum pandemi terjadi, pada 1 Februari 2020, unit ska Sentimental Moods merilis cover version lagu Waiting Room paling popular dari album debut Buaya Ska, “Ruang Tunggu” di official channel Youtube mereka, seolah-olah jadi pertanda.

Sementara itu, dua vokalis Waiting Room, yang kemudian berkiprah dengan band dan proyek musiknya masing-masing; Buluk (Superglad, Kausa) dan Eka Annash (The Brandals, Zigi Zaga), di hari ini pun bisa kita temui pada saluran Youtube mereka masing-masing.

Buluk membuat Cabul (Catatan si Buluk) yang mengundang beragam tamu untuk mengobrol bersamanya, dari seniman visual Hana Madness, manajer band Wendi Putranto, sampai pelawak Cing Abdel dan Komeng. Sementara dari barisan musisi, Cabul menghadirkan sosok dari beragam genre—salah satunya, yang sulit dibayangkan kita akan mendapatkan wawancara panjangnya meskipun dia seorang musisi kampiun, adalah hadirnya sosok Denny Chasmala.

Pada salah satu episode Cabul, hadir juga Andy /rif, yang bercerita tentang merilis single sekaligus video klip-nya dengan cara “rumahan” di era di rumah saja. Selain bernyanyi, Andy memainkan sendiri beberapa instrumen musiknya. Tidak ada studio profesional dan tim kerja yang besar; sesuatu yang menarik untuk dilakukan oleh vokalis seterkenal Andy /rif. Hasilnya bisa kita dengar dan saksikan di channel Youtube Andy /rif, bahkan sekalian behind the scene-nya!

1 COMMENT

Comments are closed.