Siasat Pekerja Musik dan Penggemarnya di Masa Pandemi

433

Pada episode lainnya, Cabul mengundang Aca, vokalis band hardcore veteran Jakarta, Straight Answer. Berbeda “gelanggang” dengan /rif yang mulai mendapat pengikut dari bermain sebagai home band di café dan mencapai popularitas nasional via major label, Straight Answer menjadi sangat dikenal luas dan dekat dengan beragam scenemelalui konsistensi rangkaian gigs underground yang dimulainya sejak 1996, hingga sampai juga ke berbagai negara di Asia dan Eropa, serta tentu suara semangat dari album-albumnya yang dirilis secara independen.

Hari ini, otomatis tidak ada tur dan pertunjukan akhir pekan bagi Straight Answer. Tapi Aca punya tawaran menarik lainnya: sebuah channel Youtube bernama “Teman Makan” yang berisi resensi tempat-tempat makan enak favoritnya.

Di awal video, Aca memperkenalkan dirinya secara humble sekaligus antusias, “Halo, gue Aca.  Musik dan makan adalah bagian dari hidup gue. Selamat datang di Teman Makan. Ah, suap!”

Aca kerap mengajak beberapa tamu untuk makan bersamanya. Arah suapan lebih pada jajanan pinggir jalan, warteg, atau rumah makan kecil, tapi ngiler yang dihasilkan saat kita menontonnya begitu membara. Kala menyaksikannya sembari leyeh-leyeh, sampai video selesai, saya jadi terpikir untuk menggunakan handphone yang sama untuk memesan Gofood.

Di episode yang lain lagi, Buluk di Cabul tentu saja pernah mengundang pasangan siaran radionya dahulu, Jimi Multhazam (The Upstairs/MORFEM/Jimi Jazz). Pada sekitar permulaan pandemi, Jimi bersama MORFEM merilis CD single/mini album “Binar Kawan Sebaya” yang disambut cukup meriah oleh para pendengarnya. Jimi Jazz memproduksi merchandise. The Upstairs sempat manggung virtual. Dan Ngobryls, channel Youtube bersama karibnya, Ricky Malau terus berjalan; episode terfavorit saya sepertinya saat mereka mengundang Ipang (Plastik/BIP)—penyanyi bersuara hebat yang terbilang jarang diwawancarai.

Sementara itu, bila Buluk berlari memproduksi video-videonya, rekannya sesame vokalis Waiting Room, Eka Annash belum lama ini memulai channel Youtube-nya sendiri: Diskas! (Diskusi bareng Eka Annash). Di episode perdana, Eka mengundang Sir Dandy—seniman, singer-songwriter, sekaligus vokalis Teenage Death Star. Selain memulai DIskas!, Eka juga sedang mempersiapkan album terbaru dari The Brandals dan menggarap rencana album solonya.

Di luar saluran-saluran Youtube di atas, kita masih bisa menemukan Video Legend, channel Youtube milik Ahmad Dhani. Ketika di salah satu episodenya Dhani, Andra, dan Arri Lasso mengobrol bersama tentang masa sebelum hingga awal Dewa 19, saya senyum-senyum sendiri karena terbayang suasana sebuah zaman ketika panggung pentas sekolah diisi para remaja membawakan Casiopea hingga munculnya Nirvana dan Ugly Kid Joe. Tapi apa yang saya temukan di Youtube tentang Ahmad Dhani bermusik justru peristiwa yang belum lama terjadi, penampilan langka ketika Dhani bernyanyi dan bermain solo keyboard, tampil menjadi tamu bagi Rhoma Irama dan Soneta di sebuah acara televisi membawakan nomor bertajuk “Ghibah”.

Segala channel Youtube para musisi itu, dan masih banyak lagi contoh lainnya, meskipun tidak semuanya relatif baru dibuat, tentu adalah salah satu cara musisi untuk bertahan di era sulit mengadakan pertunjukan. Hari ini, maksudnya sebelum terjadi pandemi, umumnya pendapatan utama musisi datang dari panggung, dari sebesar apa mereka bisa mendatangkan orang/penonton. Ketika kerumuman dihindari, bisa jadi pekerja musik adalah salah satu profesi yang paling terakhir terpulihkan secara ekonomi.

Lalu, bila hal itu terjadi pada NOAH, potensi apa yang bisa disematkan pada band sebesar itu? Merayakan ulang tahunnya yang kedelapan, lebih dari mencoba bertahan, Noah bersama perusahaan rekamannya, Musica Studio’s bukan saja siap mengadakan pertunjukan live streaming, merilis album dan merchandise, tapi bahkan membuat lelang sebuah piringan hitam edisi khusus yang hasil penjualannya sepenuhnya digunakan untuk mendukung ekonomi para pekerja panggung musik. NOAH pun sampai berkeliling ke berbagai channel Youtube para pesohor Indonesia untuk mengampanyekannya, dan hasilnya piringan hitam edisi khusus itu laku ratusan juta rupiah.   

1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] luar merugikan banyak pihak dan sendi kehidupan di semua lini, ternyata ada hikmah baik dari pandemi ini. Salah satunya adalah keinginan yang kuat untuk mendapatkan hiburan, baik games, film, tak […]