645

Ya Musisi, Ya Penyiar: Inilah 8 Musisi yang juga Penyiar

Musisi yang juga penyiar / dok. istimswa

Ada hubungan yang mesra antara musisi dan radio, atau lebih tepat musik dan radio. Dari dulu (mungkin juga sampai hari ini) musisi tak bisa lepas dari radio (dan sebaliknya). Beragam jenis lagu karya musisi Indonesia diputar setiap menitnya di radio selama 24 jam nonstop.

Lagu-lagu karya musisi menemanimu lewat corong earphone-mu atau di speaker mobil menemani kamu berkendara, bermacet ria. Bayangkan jika suatu hari tak ada lagi musik untuk diputar di radio (mungkinkah?), ketika musisi ogah untuk memutarkan musik mereka di radio, apa yang akan terjadi?

Namun hubungan mesra antara musisi dan radio tak melulu soalan lagu atau karya musik semata. Ternyata tidak insan-insan musik lokal kita terjun langsung, berada di balik mikrofon, menghantarkan lagu-lagu favoritmu. Beberapa dari mereka bahkan telah mengrafirkan nama mereka dalam sejarah radio di Indonesia, sebut Benyamin S. Namanya emas terukir lewat entitas Bens Radio yang saat ini masih digandrungi sebagian besar anak muda Ibukota. Sebelumnya, Ben sendiri dikenal sebagai penyiar di Aristiara AM 738 yang kini namanya berubah menjadi Kiss FM. Di awal-awal Bens Radio dirintis, seniman betawi ini kerap membawakan acara bertajuk Pengusaha alias Pengantar Usaha.

Baca juga:  Panduan Memilih Gitar Listrik Agar Terlihat Keren
Bing Slamet dan Benyamin S / dok. istimewa

Kemudian Bing Slamet. Ia dan RRI adalah jodoh. Aktor sejak 50-an ini mulai berada di meja siaran sejak tahun ’52, tepatnya saat ia aktif di Dinas Angkatan Laut. Di balik corong mikrophone radio, Bing bahkan tampil sebagai agitator yang menyemangati pejuang menghalau kaum penjajah.

Indah bukan? Dan ya, Ben dan Bing tak sendirian. Sampai hari ini, ada puluhan (mungkin ratusan atau lebih?) musisi lintas genre yang juga menjalankan hobi (atau profesi) sebagai penyiar. Berikut ini sekelumit dari cerita beberapa musisi yang juga penyiar.

Catatan: Sambil menyimak tulisan ini, ada baiknya menyimak pula tulisan-tulisan menarik lain yang berkaitan dengan radio di sini dan di sini 

Mari simak cerita-cerita seru di bawah ini.

Baca juga:  16 Pertanyaan: Neida Aleida HIVI!

Jimi – Buluk


Sebelum saya mengenal mereka lewat The Upstairs dan Superglad, saya sudah duluan mengenal suara mereka lewat siaran mereka di TraxFM Jakarta bertajuk Kompak Kampus dari sore (jam 6) sampai jam 8 malam. Pilihan lagu-lagu (yang notabene band-band independen) serta celotehan slebor khas duo musisi ini menjadi ‘temen’ pas saat berkendara era 2009-2011

Nugie Nugraha

Nugie Nugraha / dok @nugietrilogy (instagram)

Era 90-an di Jakarta, budaya tongkrongan anak muda, selain studio band dan venue musik, radio juga termasuk. Dan selain Prambors di Mendut, radio SK (Suara Kejayaan) masuk di titik tongkrongan anak muda sekitaran tebet manggarai. Terletak di Pasaraya, Manggarai salah satu acara yang sering ‘ditongkrongin’ adalah acara SK Merok (Metal dan Rock) yang dipandu oleh Nugie Nugraha setiap harinya jam 7-9 malam. Menyenangkan melihat nugie yang kala itu gondrong dengan suara seraknya membawakan lagu-lagu rock dan metal kala itu.

Baca juga:  Album Mengubah Hidup: Pandu Fathoni

Alvin – David Tarigan

Alvin & David Tarigan / dok.raksasaband.wordpress.com

Di tahun duaribu sekian, musik arus pinggir masih jadi oase bagi pendengar yang haus mencari referensi musik. Dari bilangan Kemang, Jakarta Selatan, sebuah radio swasta cabang Bandung, OZ FM Jakarta ada sebuah acara malam bertajuk Substereo, sebuah acara yang saya kenal karena satu paket: penyiar dan lagu-lagu yang top. Lagu-lagu cutting edge dari berbagai era: post punk, indiepop dll mengalun bersama dengan celotehan David (The Jonis) dan Alvin (Teenage Death Star) yang khas: konyol, swag dan slebor kadang vulgar. Energi mereka tak ada tandingan, bahkan sampai saat ini.