5 Lagu Indonesia Pilihan Rayhan Noor & Agatha Pricilla

Mar 7, 2021
Rayhan Noor - Agatha Pricilla

Beberapa waktu yang lalu di sela-sela kesibukan keduanya, Rayhan Noor dan Agatha Pricilla sempat mampir ke kantor kami dalam rangka segmen Ruang Tamu Pophariini. Dalam kesempatan tersebut, keduanya berbincang-bincang dengan kami mengenai hadirnya Colors, album pendek mereka yang rilis di penghujung tahun 2020 lalu dan juga rencana-rencana mereka dalam beberapa waktu mendatang.

Sekilas mengenai Colors, album pendek dari Rayhan Noor dan Agatha Pricilla ini hadir dengan enam nomor, yang mana tiga diantaranya lebih dahulu mereka perdengarkan. Sebut saja “Colors”, “Sick in Love”, dan “Strangers Once Again”. Ketiga nomor tersebut akhirnya ditemani oleh “A Different Kind of Morning”, “Not a Happenstance”, dan “Only You”. Sebuah paket lengkap dari album pendek yang hadir di bawah payung Sun Eater Coven.

Bicara mengenai Rayhan Noor sendiri, dirinya bersama Lomba Sihir baru saja melepas single debutnya, “Hati dan Paru-Paru” di penghujung bulan Februari lalu.

Di sela-sela persiapan mereka mengisi Ruang Tamu Pophariini, kami sedikit ‘colongan’ untuk menanyakan lagu-lagu Indonesia pilihan keduanya.

Simak lengkapnya di bawah ini.


5 Lagu Indonesia Pilihan Agatha Pricilla.

  1. MALIQ & D’Essentials – Menari.

Karena nggak tau kenapa, satu album itu bikin kayak throwback ke tahun 2012. Jadi waktu itu, gue dengerin album itu dan salah satu album yang bikin gue pengin punya lagu yang chordchordnya kayak gitu. Dan itu memang chordchord khasnya MALIQ. Jadi, itu adalah salah satu lagu yang bikin gue jatuh cinta.

 

2. Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.

Karena itu adalah, sebenarnya duo Banda Neira ini yang mengubah stigma gue kayak, lagu loe itu nggak harus selalu escalating gitu. Maksudnya, lagu loe kayak yang kedengarannya gitu-gitu saja nggak selamanya ngebosenin. Plus, kayak ternyata unisound, loe kalau nyanyi nggak harus pecah suara cewek-cowok, nyanyi gitu saja itu bagus banget. Jadi, kayak yang nggak harus yang backingnya kayak gimana-gimana banget, tapi mereka memang beneran mikirin dari segi lirik, struktur lagunya, menurut gue indah saja sih. Terus kayak loe bisa dengerin itu di waktu kapan saja. Loe mau dengerin pagi bisa, loe mau dengerin malam sambil nangis bisa, loe mau dengerin sore-sore sambil ngopi bisa.

 

3. Vina Panduwinata – Cinta Indonesia.

Jadi ini lagunya sentimental banget untuk gue. Karena gue itu kan anak les vokal, lagu bahasa Indonesia yang pertama kali diajarin ke gue untuk nyanyi di les vokal itu adalah lagu ini. Nah, itu gue ingat banget pertama kali diajarin, gue masih belum bisa nyanyi-nyanyi banget, lagu itu masih membekas di gue, lagu gue les pertama kali pas 2008 gue les nyanyi. Pertama kali belajarnya lagu itu.

 

4. Indra Lesmana ft. Eva Celia – Cerita Kita.

Si “Cerita Kita” ini, nggak tau kenapa, ini lagu yang menurut gue susah banget pas dinyanyiin tapi kedengerannya tuh enak banget. Tapi pas loe coba nyanyiin, itu susah banget, terus chordnya juga ya Indra Lesmana saja sih menurut gue. Yang gue kagum juga dari lagu itu adalah, loe nggak harus selamanya flexing nyanyi yang gimana-gimana banget untuk kedengeran enak gitu.

 

5. Glenn Fredly – Sabda Rindu.

Nah, si album Luka Cinta & Merdeka ini juga jadi pilihan gue. Gue selalu kagum dengan Almarhum Glenn Fredly. Liriknya dia itu menurut gue semuanya jujur saja gitu, iya itu memang yang dia rasakan, dan gue nggak melihat sama sekali dibuat-buat. Even pas gue nonton dia live, gue selalu yang kayak, mungkin kalau orang lain yang nyanyi, itu akan kedengeran sangat cheesy, tapi kalau dia itu bisa ngebawainnya nggak norak dan in his on way.


5 Lagu Indonesia Pilihan Rayhan Noor.

  1. Sheila On 7 – Seberapa Pantas.

Gue denger lagu itu SD. Itu gue suka banget, maksudnya Sheila On 7 adalah salah satu band yang melekat dengan masa kecil gue. Bokap gue beliin kasetnya, “Ini denger deh, ada band namanya Sheila On 7 dari Jogja, masih muda-muda” pada saat itu. Tapi ya sudah, itu sekadar lagu yang gue hapal dan sering gue nyanyiin saja. Tapi pas begitu gue umur 11/12 gitu, pas gue sudah mulai main gitar, ini lagu yang mengenalkan gue pada “Oh suara gitar yang bagus tuh kayak gini”. Jadi, pertamanya kan langsung gitu, itu gue kayak “Hah, ini gimana ya mainnya?”. Gue coba-cobain, even until these days gue nggak bisa nyamain suara gitarnya itu. Even Eross Candra pun, gue lupa dia interview dimana, dia mengakui bahwa dia nggak bisa ngulang itu lagi. Memang magic moment rekaman saja. Jadi, nomor satu gue itu sih, “Seberapa Pantas”.

 

2. DEWA 19 – Pupus.

Bintang Lima adalah album DEWA modern yang terbaik. “Pupus” itu menurut gue lagu yang sangat simple sebenarnya, secara chord, progression, notasinya pun menurut gue nggak seribet (lagunya) DEWA yang lain. Tapi, menurut gue itu magicnya mereka, terutama spesifik satu orang ya, Ahmad Dhani. Mau sesimple apapun chordnya, tapi tetap mereka doang yang bisa melakukan itu. Gue juga nggak ngerti kenapa, dan lagu itu sangat berpengaruh, even ke Colors, ke album gue sama Priscill. Gue kayak, kalau loe ngomongin lagu galau di Indonesia, lagu romance yang galau, loe nggak bisa pisahin “Pupus” dari itu sih menurut gue. Itu harus ada sampai kapan pun menurut gue.

 

3. Chrisye – Untukku.

Kayaknya ini nggak ada yang ngalahin rasa sentimentilnya lagu Chrisye yang ini. Menurut gue ini paling sentimentil. Ini menurut gue salah satu lagu yang pertama kali ngenalin gue, “Oh rasanya lagu yang ‘ikhlas’ tuh begini”. Gimana ya, ikhlas dan pasrah. Ini mengajarkan gue secara lirik yang kayak “Oh loe bisa lho benar-benar se-vulnerable itu dalam menulis lirik”. Gue baru nyadar di lagu ini, waktu itu gue dengerin pas kecil, “Bisa ya orang se-terbuka itu di lagu”. Padahal, mungkin kayaknya nggak se-sophisticated lirik lagu Chrisye yang lain. Kayak Chrisye yang “Sendiri”, atau “Sabda Alam” gitu, nggak se-sophisticated itu tapi “Untukku” menurut gue, loe bisa simple at the same time loe sangat vulnerable di lirik.

 

4. Barasuara – Api Dan Lentera.

Ini sangat personal sih kalau buat gue. Jadi, ada masanya gue ngeband serius di kurun waktu 2007 sampai 2011. Terus habis itu, akhirnya gue berhenti total. Nggak main musik sama sekali. Gue juga meninggalkan update-update musik. Tapi, satu hal yang gue notice, walaupun gue nggak ngejar update dan rilisan-rilisan baru dan segala macam, gue notice, ini dari sudut pandang gue ya, “Kok sepi banget ya?”. Maksudnya, nggak bergairah gitu lho sekeliling gue. Iklim musik pada saat itu nggak sebergairah kayak waktu jaman-jaman Aksara, 2005 dan segala macam. Terus waktu itu, 2014, waktu itu gue follow Hasief (Ardiasyah – RED) kalau nggak salah di Twitter, terus dia ngomong “Ini ada band barunya Iga Massardi”. Gue tau Iga dari The Trees and The Wild. Oke gue coba dengerin. Pas gue dengerin, “[mengumpat] apaan nih?”, gila, gue belum pernah dengar yang kayak gitu waktu itu.

Terus gue juga merasa, ini kayaknya bisa jadi satu lagu yang bikin gue semangat lagi main musik. Bisa kayak “Oh ternyata banyak ya kemungkinannya, nggak gitu-gitu doang”. Oh ternyata benar, setelah itu Barasuara rilis album, nggak tau kenapa sekelilingnya langsung ‘hidup’ gitu menurut gue, termasuk gue. Ya walaupun waktu itu gue baru mulai nge-band lagi. Jadi itu lagu kayak yang nge-kick start gue lagi gitu lho. “Ayo, ngeband lagi yuk”. Dan gue rasa, musik Indonesia yang era 2010 ke atas, menurut gue owe sangat ke Barasuara. Di gue, at least ada apinya lagi, sesuai judulnya.

 

5. Reza Artamevia – Keabadian.

Menurut gue, song-writing level wahid. Itu lagu kalau misalkan dibedah dari chord, aransemen, kayak, “Hah”, dari intro ke sini, habis itu ke verse ke situ, reffnya dan segala macam, menurut gue gila banget. Bagusnya lagi, loe bisa dengerin! Siapapun bisa dengerin itu dan nyangkut di kepala. Bahkan bisa dinyanyiin tanpa loe harus paham bahwa lagu itu adalah lagu yang luar biasa sulit. Dan sampai sekarang nggak ada sih lagu solois cewek se-oke itu, se-grande itu.


 

Penulis
Raka Dewangkara
"Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan di luar kepala."
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Nadin Amizah Tayangkan Ulang Konser Tunggalnya

Selang setahun, Nadin Amizah memutuskan untuk menayangkan ulang konser tunggalnya yang sudah bisa disimak melalui kanal YouTubenya.

Setelah Kaset, Rub of Rub Lempar EP Kedua dalam Format Digital

Juga disampaikan oleh Rub of Rub, bagaimana dalam Fluktuasi ini mereka mencoba untuk melakukan ragam eksperimen di dalamnya.