Mencari Tuhan bersama Kelompok Kampungan

Oct 21, 2021
Kelompok Kampungan

Tidak dapat dimungkiri, musik rock adalah buah akal budi para musisi di barat (baca: Amerika). Setidaknya begitulah argumen Chuck Klosterman dalam tulisannya di New York Times. Terserah mau memilih Elvis Presley atau Bob Dylan, tetapi tidak dapat dimungkiri rock and roll menjadi rock ketika riff blues primitif dimainkan di gitar listrik oleh para kaum muda, dan secara spesifik ini dimainkan untuk para kaum muda. Dalam kacamata Klosterman genre musik ini adalah produk dari penemuan remaja pascaperang dunia kedua.

Dari Amerika, pada dekade 60an rock melakukan perjalanan lintas atlantik dan mendarat di Inggris, melahirkan Led Zeppelin, The Beatles, hingga Roling Stones. Dari sana rock berkeliling dunia dan memikat anak-anak muda di seluruh penjuru dunia. Terlepas dari akar “Amerika” tersebut, banyak musisi di negara berkembang tergoda untuk “mempribumikan” rock. Apapun motivasinya, mempribumikan rock adalah upaya membengkokkan nilai-nilai barat menjadi lebih familiar dengan isu timur. Guruh Gipsy dan Kelompok Kampungan adalah salah dua dari sekian musisi Indonesia yang mempribumikan rock itu.

Ketika membicarakan musik prog-rock klasik Indonesia, rasanya kita tak akan bisa lepas dari Guruh Gipsy dan album self titled-nya yang dirilis pada 1976 silam. Guruh Soekarno Putra, putra presiden pertama Indonesia menjadi nakhoda super group yang beranggotakan musisi yang tak kalah luar biasa: Chrisye, Keenan Nasution, Oding Nasution, dan Oding Harahap.

Ketika membicarakan musik prog-rock klasik Indonesia, rasanya kita tak akan bisa lepas dari Guruh Gipsy dan album self titled-nya yang dirilis pada 1976 silam

Guruh Gipsy merupakan album padu padan apik antara musik prog-rock dengan musik tradisional Indonesia. Guruh Gipsy secara cerdas mencampurkan fusion musik prog-rock yang dinamis dan progresif dengan instrumen dan pola-pola musik tradisional Indonesia seperti set penuh gamelan Bali.

Hasil padu padan itu memang apik. Album Guruh Gipsy terdengar sangat megah, atau grandiose. Ini karena efek gamelan Bali yang memang terdengar megah karena fungsi sebenarnya selain sebagai musik hiburan juga merupakan piranti peribadatan di Pulau Dewata. Dicampur dengan distorsi dan suara sintetis synthesizer, lagu-lagu seperti “Chopin Larung” dan “Barong Gundah” seolah menjadi cetak biru untuk perkembangan musik fusion rock+musik tradisional pribumi di era setelahnya.

Namun, selain menyebutkan Guruh Gipsy, ketika membicarakan musik fusion jenis ini di Indonesia, tak patut rasanya jika kita tidak membahas kugiran yang satu ini: Kelompok Kampungan.

Jika Guruh Gipsy terdengar megah dan mewah, maka Kelompok Kampungan adalah antitesis dari kemegahan dan kemewahan itu. Meski keduanya sama-sama memainkan fusion rock/tradisional, Kelompok Kampungan terdengar lebih membumi dan bersahaja.

Jika Guruh Gipsy terdengar megah dan mewah, maka Kelompok Kampungan adalah antitesis dari kemegahan dan kemewahan itu

Seperti namanya yang seolah menegaskan kebanggaan mereka sebagai garda depan pengibar bendera kerakyatan, musik Kelompok Kampungan memang terdengar jauh berbeda dengan Guruh Gipsy. Satu-satunya album yang mereka ciptakan dan dirilis pada 1980, Mencari Tuhan, adalah pengejawantahan dari konsep kerakyatan tersebut.

Kelompok Kampungan memang tidak mengadaptasi ansambel gamelan Bali yang rumit seperti Guruh Gipsy. Alih-alih mereka lebih memilih instrumen yang lebih merakyat seperti gitar, biolin, cello, perkusi, kendang, gong, dan sebagainya. Bahkan mereka menggunakan peralatan yang berada di sekitar seperti metal, kayu, gelas, hingga plastik.

“Kelompok Kampungan lahir dari orang kota yang mengartikan kampungan sebagai ungkapan dari ketidaksiapan, lugu, bodoh, kurang ajar, disharmonis, dan masih banyak lagi. Artinya kami siap dalam ketidaksiapan, memanfaatkan peralatan yang bisa dijangkau. Lirik kami tidak manis-manis, tinggi-tinggi, seadanya saja,” tulis Bram Makahekum.

Alih-alih mereka lebih memilih instrumen yang lebih merakyat seperti gitar, biolin, cello, perkusi, kendang, gong, dan sebagainya. Bahkan menggunakan peralatan yang berada di sekitar seperti metal, kayu, gelas, hingga plastik

Kelompok Kampungan yang beranggotakan 11 personel (termasuk Bram Makahekum, Areng Widodo, dan Innisisrie) sudah menjadi semacam mitos. Satu-satunya album mereka Mencari Tuhan sekarang menjadi buruan para kolektor, termasuk rilisan ulangnya yang pada 2013 dirilis oleh label asal Kanada, Strawberry Rain secara terbatas: 700 keping piringan hitam, dan 1000 keping cakram padat. Tidak terlalu banyak literatur yang mencatat perjalanan grup yang dimotori Bram Makahekum ini, jumlah berapa banyak grup asal Yogyakarta ini manggung di kariernya juga tidak terdokumentasi dengan baik.

Kelompok Kampungan / dok. istimewa

Mencari Tuhan adalah sebuah album yang politis sejak dalam pikiran. Album ini bisa dibilang subversif di seluruh bangunan musiknya baik aransemen musik maupun jalinan lirik. Album ini mungkin akan segera saya rekomendasikan kepada siapapun yang ingin mendengarkan musik ‘folk’ (baca: musik rakyat) lawas Indonesia. Pertama, karena musiknya kaya dan catchy. Musik mereka adalah padu padan rock, folk, psychedelic, blues, jazz, dan avant-garde. Kedua, liriknya yang berani. Kelompok Kampungan mendapat banyak masalah karena menulis lirik tentang presiden pertama Indonesia Soekarno di tengah rezim Soeharto dan Orde Baru yang bercokol kokoh kala itu.

Satu-satunya album mereka Mencari Tuhan sekarang menjadi buruan para kolektor, termasuk rilisan ulangnya yang pada 2013 dirilis oleh label asal Kanada, Strawberry Rain secara terbatas: 700 keping piringan hitam, dan 1000 keping cakram padat

Biasanya, saya pribadi kurang terlalu suka musik yang lebih memuja politisi ketimbang memaparkan gagasan atau ide. Namun, Mencari Tuhan Kelompok Kampungan adalah sebuah pengecualian. Saya pribadi sangat menghormati keberanian Kelompok Kampungan menulis ode untuk Soekarno di era Soeharto. Meski mereka kemudian mendapat banyak masalah oleh rezim  yang berkuasa saat itu, gara-gara lagu ini Kelompok Kampungan dicekal orde baru dan berujung pada pembubaran kugiran ini setelah hanya merilis satu album, keberanian mereka memasukkan sampling pidato Soekarno di lagu pertama “Bung Karno” patut mendapat acungan jempol.

Sikap politik Kelompok Kampungan juga muncul dalam lagu-lagu lain, dalam “Hidup Ini Seperti Drama” mereka dengan bernas berujar “pemerintah bermain drama, masyarakat bermain drama, apakah Tuhan suka bercanda, apakah Tuhan suka berbohong.” Kuping Soeharto dan punggawa Departemen Penerangan barangkali panas mendengar bait ini. Di dalam “Catatan Perjalanan” Kelompok Kampungan menggubah cerita tentang seorang anak SMA yang naif dan tidak tahu apa-apa, mengikuti sebuah demonstrasi, dan meregang nyawa oleh sebutir peluru yang merobek jidat.

Mencari Tuhan adalah sebuah album yang politis sejak dalam pikiran. Album ini bisa dibilang subversif di seluruh bangunan musiknya baik aransemen musik maupun jalinan lirik

Selain topik politik, album Mencari Tuhan ini juga mengangkat tema religi. Menarik untuk dicatat bahwa meskipun album ini membicarakan religiositas, tapi ini bukan album ibadah selayaknya Karawitan Bali yang menggunakan medium musik sebagai medium ibadah. Bukan pula musik religi tipikal musik pop yang rajin muncul saban bulan ramadan. Kelompok Kampungan menggunakan agama sebagai cara untuk mengajukan pertanyaan dalam hidup, atau dalam hal ini, pertanyaan tentang kehidupan dan perjuangan di Indonesia.

Wajar jika kemudian Kelompok Kampungan menyebut nama-nama seperti Hamka, Hatta, Soekarno, Rendra, Bang Ali, Buddha, dan Yesus dalam lirik lagu “Mereka Mencari Tuhan”. Kelompok Kampungan dengan subtil menulis selarik bait dan berdeklamasi “lalu dia yang seperti Buddha menuangkan semangatnya ke dalam telinga alam semesta dan berkata, alam lepaskan aku dari kotak-kotak kebudayaan yang menjadi beban kehidupan ini…. Agar aku dapat berkata, Tuhan, aku tidak buta.” Kelompok Kampungan memaknai ihwal religiositas sebagai tak hanya hubungan antara manusia dan Tuhan, namun juga antarsesama manusia di Indonesia.

Album ini mungkin akan segera saya rekomendasikan kepada siapapun yang ingin mendengarkan musik ‘folk’ (baca: musik rakyat) lawas Indonesia

Seolah semakin menabalkan posisi mereka sebagai band subversif, dalam lagu “Wanita”, Kelompok Kampungan mengkritisi patriarki dan menuntut adanya kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan. Pada bait “Wanita semakin kamu rasional, semakin cantik, begitulah kata kebanyakan lelaki” mereka mengkritisi sikap male chauvinist yang banyak dianut para lelaki yang kerap melakukan mansplaining terhadap para perempuan. Bait berikutnya “majunya wanita, maju pula negaranya” merupakan ajakan untuk menyadari bahwa perempuan tak kalah penting dan memiliki posisi sentral juga dalam majunya sebuah negara dalam berbagai sektor, kebudayaan, politik, ekonomi, maupun sosial.

Pada akhirnya, Mencari Tuhan karya Kelompok Kampungan dapat menjadi sebuah medium refleksi untuk kita. Bram Makahekum dan kawan-kawan menyadarkan bahwa di era modern ini tidak ada lagi hal baru di bawah matahari. Tidak ada lagi yang namanya keaslian. Semua produk kebudayaan yang tercipta merupakan campuran atau modifikasi dari produk budaya yang telah eksis sebelumnya. Musik folk/rock/fusion Kelompok Kampungan misalnya adalah percampuran rock barat dengan musik pribumi khas Indonesia. Mencari Tuhan juga mengajarkan kita tentang bagaimana kiat-kiat menjadi subversif di tengah rezim yang otoriter, serta mengajak kita merenungkan makna ihwal religi di tengah kehidupan yang fana ini.

Semoga tulisan ini bisa mengajak kawan-kawan untuk mulai mendengarkan salah satu masterpiece musik Indonesia yang underrated ini. Namun, menemukan rilisan fisik album Mencari Tuhan tentu bak mencari jarum di tumpukan jerami

Semoga tulisan ini bisa mengajak kawan-kawan untuk mulai mendengarkan salah satu masterpiece musik Indonesia yang underrated ini. Namun, menemukan rilisan fisik album Mencari Tuhan tentu bak mencari jarum di tumpukan jerami. Rilisan terbatas mereka tentu sudah raib entah ke mana. Saya sendiri harus mengakui bahwa saya tidak memiliki rilisan fisik album ini. Saya justru memperoleh format FLAC album ini di sebuah situs torrent asal Russia. Namun, kawan-kawan masih bisa mendengarkan Mencari Tuhan di YouTube. Kita masih agak beruntung ada orang yang menunggah versi penuh album ini di situs layanan video tersebut.

Mendengarkan album monumental ini akan mengajak kita mencari Tuhan bersama Kelompok Kampungan. Perkara kalau nanti sudah ketemu Tuhan mau bagaimana, itu menjadi keputusan pribadi masing-masing orang. Selamat mencari Tuhan bersama Kelompok Kampungan.

 


 

Penulis
Aris Setyawan
Etnomusikolog dan musikus. Co-founder dan editor Serunai.co. Bercerita di arissetyawan.net.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Rizky Febian dan Kejutan-Kejutan Tentang Cinta

Belum puas dengan empat nomor tunggal yang dihadirkan di sepanjang tahun, kini Rizky Febian kembali menghadirkan sebuah nomor tunggal terbarunya.

Makin Banyak Koleksi Lo, Makin Gede Tanggung Jawab Lo

Kalau lo seorang kolektor vinyl, pasti sudah sadar kalau memiliki jumlah records yang bertumpuk-tumpuk bukan hal yang aneh lagi. Tapi dengan tumbuhnya koleksi lo, kalau enggak dirawat pasti ada satu atau mungkin beberapa vinyl …