291

Oding Nasution: Gitar, Blues dan Guruh Gipsy

Oding Nasution
Oding Nasution, gitaris Guruh Gypsy / Ilustrasi: @abkadakab

Oding Nasution adalah salah satu dari enam nama musisi dalam proyek Guruh Gipsy diabadikan dalam lirik lagu pembuka “Indonesia Maharddhika” pada album yang rilis circa 1977. Sambungkan huruf-huruf di awal liriknya, maka kita bertemu dengan mereka.

Om awighnam astu / DINGaryan ring sasi karo

Itu adalah untuk Oding Nasution.

“ROhinikanta padem / NIcitha redite prathama” 

Itu adalah untuk Roni Harahap.

“KIlat sapta tusteng natha / NANta mami magawe plambang”

Itu adalah untuk Keenan Nasution.

“Aku dengar deru jiwa / BAgai badai mahaghora / Di nusantara raya” 

Itu adalah untuk Abadi Soesman.

” Cerah gilang gemilang / Harapan masa datang / Rukun damai mulia / Indonesia tercinta Selamat sejahtera”  

Itu adalah untuk Chris, atau Chrisye.

“GUnung langit samudra / RUH semesta memuja”

Itu adalah untuk Guruh Soekarno Putera.

Baca juga:  Lebih Dekat dengan Dekat Lewat Numbers

Enam orang “gila” yang membuat sebuah mahakarya dengan segala proses yang dilaluinya. Rasanya sudah tidak perlu dibahas lagi kedigdayaan album ini. Proses rekaman yang begitu sulit, kolosal, ambisius, canggih pada zamannya, dan tentu saja dengan berbagai trivia pada sekitarnya. Terlepas dari banyak pengaruh musik band lain di album ini, tak dipungkiri bahwa Guruh Gipsy adalah salah satu pencapaian artistik terbaik dari album rekaman Indonesia, sepanjang masa.

Keseluruhan paketnya, dari semangat dan bunyi sebagai yang utama hingga segenap visual dan teksnya, menjadikan posisi Guruh Gipsy mantap di tempatnya yang tersendiri.

Rilis Guruh Gipsy berdekatan dengan album soundtrack film Badai Pasti Berlalu—sebuah karya yang juga hebat. Kedua album tersebut bisa dikatakan diisi oleh para musisi dari markas yang sama—“anak-anak Pegangsaan”— mereka yang kerap berkumpul di rumah keluarga Nasution bersaudara. Sys Ns, juga dari lingkaran mereka, memberi nama Badai Band untuk pertunjukan kelompok yang terdiri dari Chrisye, Yockie Surjoprajogo, Keenan Nasution, Oding Nasution, Roni Harahap, dan Fariz RM.

Baca juga:  Bumi Jangan Marah: Memahami Bencana Lewat Musik
Badai Band 1979 / foto: https://dennysakrie63.wordpress.com

Sebagai “bocah” yang lahir lebih lambat dari tahun Guruh Gipsy mulai mempersiapkan rekamannya, dan hidup di Indonesia di saat sejarah musik pop negeri sendiri sangat sulit terlacak, butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan jejaknya.

Chrisye salah satu pintu gerbangnya. Gelombang tiga album Chrisye pada 1985-86; Aku Cinta Dia, Hip Hip Hura, danNona Lisa yang sangat-sangat-meledak secara masif sukses melambungkan nama penyanyi itu pada khalayak yang lebih muda atau lebih luas lagi. Dari sana, saya banyak bertemu dengan lagu-lagu Chrisye lainnya, atau industri musik mempertemukannya pada saya.

Sementara itu, pada sekitar 1989/1990, sebuah band bernama Gank Pegangsaan mencuri perhatian dengan lagunya, “Dirimu”. Ada rasa bahagia menemukan lagu itu di TVRI. Saya mulai mengenali sosok Keenan Nasution, vokalis lagu itu.

Baca juga:  Seluk Beluk Pelecehan Kaum Hawa Di Konser Musik

Sekitar dua tahun berikutnya, saya dapati Benyamin jejingkrakan ala rocker, memakai jaket jeans dengan bordiran di punggungnya, Lagu yang dipromsikannya berjudul “Biang Kerok”.  Mencuri perhatian! Benyamin dan musisi lainnya saat itu memperkenalkan diri mereka sebagai Al Haj, sebuah band di mana Benyamin bermain musik bersama “anak-anak Pegangsaan”, temasuk ada Oding Nasution di sana. Belakangan, saya mengecek lagu-lagu di album ini, dan menyukainya.

Waktu terus berjalan. Kesukaan pada Chrisye mendorong saya untuk terus mencari tahu musiknya. Hingga bertemulah kaset Jurang Pemisah yang di-reissue dan dapat ditemukan di toko rekaman musik. Ditambah lagi menemukan album Badai Pasti Berlalu. Kontan saya tergila-gila!