Noni: Dari Gabut Jadi EP

353

Boleh cerita mengenai hadirnya EP Boyish?

Jadi, seperti yang gue bilang tadi, kehadiran EP ini tuh bisa dibilang mendadak. Awalnya memang gue bikin-bikin lagu hanya untuk ngasah skill producing saja. Terus, selama bikin-bikin lagu itu kan gue selalu konsul sama produser gue, kak Ikki (CVX). Lagu pertama yang gue bikin tuh track ketiga, judulnya “Go Figure”. Waktu bikin track ini, gue ngerasa feel dari aransemennya tuh shady banget, enaklah buat dipakai nyindir orang [tertawa]. Ya sudah, buat lagu ini. I ended up writing about my personal discomfort towards these people from the past yang dulu nggak pernah menganggap gue ada, and then all of the sudden sekarang mereka datang ke gue buat ‘nyari untung’ begitu.

Jujur, awal bikin lagu ini kan gue bikin rhythmnya dulu, itu tadinya gue pengin nyoba imitate rhythm salah satu lagu dari musisi Korea yang gue suka banget, namanya SUMIN. Judul lagunya, “Dirty Love”. Gue paling suka dan paling bangga sama lagu ini karena this is the type of song I’ve been dying to make, I feel like I had the ‘EUREKA!’ moment pas bikin lagu ini.

Nah, baru pas lanjut bikin lagu kedua, track keempat di EP gue, “You Don’t Have to (Rush)”, di situ gue mutusin untuk bikin EP. Karena saat itu kalau dicompile, sudah ada tiga lagu yang bisa masuk ke EP. “More”, track pertama itu demo yang sudah gue bikin dari awal tahun 2019. Ini juga gue bangga banget karena waktu itu bikin lagu ini nggak pakai instrumen sama sekali dan baru ngerangkai lagunya di DAW software pas aransemen kasarnya sudah selesai. Karena gue ngerasa nggak mampu bikin lagu ini jadi bagus dan sesuai ekspektasi gue, akhirnya gue operlah ke kak Ikki. Baru deh, lagu terakhir yang gue bikin itu “BOYISH”.

Dalam proses pembuatan ini, gue banyak ngambil inspirasi dari musik R&B modern yang masih ada elemen-elemen retro dari tahun 2000-an dan 90-an. Selain itu, gue juga ngambil banyak inspirasi dari musisi-musisi Korea Selatan favorit gue; Sumin, Yerin Baek, Crush, dll.

Baca juga:  Wawancara Khusus Aldrian Risjad: Tak Bercita-cita Menjadi Rock Star

Bagaimana perjalanan dibalik hadirnya CVX sebagai produser?

Nah, kalau kak Ikki (CVX) tuh gue memang sudah kenal beliau dari 2019. Akhir tahun itu kita baru ketemuan, that was the very first time we met when we were recording for our collab single, “Crawl”. Ever since then, gue juga jadi sering bantu-bantu buat lagu dia kan. Awal tahun 2020 itu, gue sempat mau rilis EP yang directionnya sangat amat jauh berbeda dari EP Boyish ini. Nah, waktu itu dia nawarin diri buat bantuin gue. Lalu karena di EP yang itu pas finishing terlalu banyak errornya, we decided to drop that project sampai akhirnya pertengahan tahun 2020 gue tagih dia lagi untuk bantu gue di EP Boyish ini [tertawa].

Andai bukan diproduseri oleh CVX, hasil akhirnya akan beda ya?

Of course. Gue juga ngerasa keakraban gue dengan beliau sangat amat berperan besar dalam proses pembuatan EP ini. Yang paling gue suka kerja sama kak Ikki itu He’s willing to understand the direction that I want the songs to be. Like, He’s THAT versatile and very understanding.

Jalannya memang sudah ada yang ‘ngatur’.

Nahhh benar!

21 tahun, satu EP, apa lagi yang sedang direncanakan oleh seorang Noni di waktu-waktu dekat ini?

Karena tahun kemarin gue rilis lumayan banyak dan hampir setiap bulan (solo and collab projects combined), untuk sekarang gue pengin lebih laid back saja lah. Tahun ini rencananya rilis-rilis singles saja kayaknya. There might be some surprises later this year but I’m not gonna talk much about it karena nanti jadinya nggak surprise dong [tertawa].

Nih, sekarang gue lagi libur kuliah sambil ngerjain demo lagu-lagu yang planningnya bakal rilis tahun ini. Nggak beda jauh lah ya sama libur kuliah yang kemarin.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments