Resensi: Rich Brian – The Sailor

• Aug 27, 2019

Artist: Rich Brian
Album: The Sailor
Label: 12 Tone Music & 88rising
Peringkat Indonesia: 8/10

Di usianya menjelang genap 20 tahun, Rich Brian sudah melakukan banyak hal sekaligus. Membawa pendengarnya mengenal dirinya lebih jauh dengan isu-isu personal, mendapatkan rekognisi dari para rapper dunia, tidak lupa melakukan penghormatan pada rapper senior, dan perlahan tapi pasti mengincar posisi penting dalam musik hip hop internasional, terutama Amerika. Dan semua itu dilakukan melalui album The Sailor ini.

Sebelumnya dengan moniker kontroversial Rich Chigga, ia mencuri perhatian dunia internet melalui singel pertama “Dat $tick”. Lalu mengubah namanya menjadi Rich Brian dengan album perdana Amen yang berhasil melejitkan namanya. Dan menjadi artis asia pertama yang duduk di peringkat pertama chart hip hop iTunes, dan albumnya juga berhasil masuk chart Billboard 200. Album tersebut juga mencatat sejarah sebagai musisi asia pertama yang mampu bertengger di posisi puncak iTunes Hip Hop Album Chart.

Meskipun album perdana yang semua lagunya ditulis sendiri itu mendapatkan kritik karena membicarakan hal-hal acak dan tidak fokus pada satu tema besar, album The Sailor ini  menjadi jawaban akan hal itu. Selain banyak berbicara lebih banyak tentang pengalaman dirinya sendiri, ia memilih untuk bersenang-senang dengan musik hip hop, meninggalkan stereotip musik rap dan menjadi rapper sesungguhnya tanpa terlihat harus terpaku pada semua unsur-unsur kosmetik hip hop dan rap, selain musiknya itu sendiri.

Hal itu ditunjukan melalui singel kedua “Kids” dan video musiknya. Alih-alih tampil nge-rap dikelilingi muda mudi swag berpenampilan hip hop lengkap dengan aksesoris ataupun properti bling-bling hip hop pada umumnya, Brian memilih untuk melakukannya di depan teman-teman dan keluarganya yang berpenampilan seperti orang Indonesia sehari-hari. Bahkan keseluruhan video musik “Kids” yang berlokasi di Jakarta ini bisa terlihat begitu sentimentil, sekaligus begitu percaya diri. Tentunya didukung dengan musik boom-bop klasik dengan aransemen seksi tiup yang maknyus.

Dalam lagu ini Brian juga tidak lupa menyelipkan nama-nama rapper yang memengaruhinya seperti Mac Miller, Nipsey Hussle serta Tupac Shakur yang telah tiada sebagai tribut dalam lirik lagunya. Juga bagaimana ia berceloteh tentang dirinya, juga  lingkungan kota kelahirannya di Jakarta serta keluarga, kawan-kawannya dan yang terpenting, menjadi corong suara untuk generasinya:

I’m makin’ songs that’ll probably outlive us for generations / Started off as the sailor, look at me, now I’m the captain / I won’t lie, this shit is fun

Tell these Asian kids they could do what they want / Might steal the mic at the GRAMMYs just to say we won / That everyone can make it, don’t matter where you from

Hal itu juga diperkuat Brian dengan merilis film pendek Rich Brian Is The Sailor yang bak sepaket dengan video musik “Kids”, dan jauh lebih banyak bercerita soal dirinya dan tempat ia dibesarkan yaitu kota Jakarta. Ia tahu benar cara memikat pendengar asianya terutama Indonesia dengan semua itu.

Sebelum semua kejutan itu, Brian lebih dulu merilis singel perdana “Yellow (feat. Bekon)” dengan lirik yang sangat gelap, didukung oleh visual muram melalui video musiknya disutradarai oleh salah satu sutradara video musik gaek, Dave Meyers (biasa bekerja sama Katy Perry dan Missy Elliot). Di sini Brian bercerita soal eksistensi, ketiadaan, menjadi orang Asia serta petualangannya merantau di dunia ‘barat’.

Bitch, hello / Don’t fight the feeling ’cause I’m yellow / Will I make it? Who the hell knows? / You want my soul but we don’t sell those

How do I disappear without anybody knowing? / Will anybody even miss me when I’m gone?

Lalu bagai penawar, Brian merilis singel ketiganya “100 Degrees” yang lebih ceria,  bernuansa musim panas, lengkap dengan video yang tidak kalah catchy. Brian tidak lupa menyelipkan hitungan bahasa Indonesia “tu, wa, ga, pat” pada intro lagunya sebelum musiknya dimulai. Lagi-lagi selipan kejutan yang manis bagi orang Indonesia yang mudah sekali disenangkan.

Sementara lagu lainnya “Drive Safe” yang lebih bernunansa sentimentil dengan instrumen yang minim ini sudah merangkak naik menjadi track paling didengarkan di DSP seperti Spotify dan Apple Music. Hal ini membuktikan kalau Brian punya banyak peluru di album keduanya ini. Dan sekali lagi uniknya Brian melakukan itu dengan menjadi dirinya sendiri, sehingga tidak terdengar dan terlihat seperti siapapun di dunia ini.

Dengan semua itu Brian kemudian menyulap arena pertandingannya dan perlahan mengambil tempat dalam klasemen hip hop internasional. Tidak berlebihan kalau menyatakan The Sailor berpotensi untuk menjadi album hip hop yang bisa menjadi klasik. Caranya unik, dengan justru mengabaikan semua unsur stereotip hip hop pada umumnya dan membuat hip hop versi Brian sendiri.

Ditambah di tengah sorotannya pada dirinya Brian justru terlihat begitu nyaman menunjukan sisi Indonesia pada dirinya dengan berbagai cara yang cerdik. Dari film pendek, video musik “Kids”, hingga bahkan meletupkan semangat nasionalisme Brian dengan menampilkan bendera merah putih di layar raksasa sebagai penutup panggung konser 88rising, Head in the Clouds.

 

____

 

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.

Eksplor konten lain Pophariini

Eksistensi Sebuah Band oleh Ramadhista Akbar (Nidji)

Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan sebuah band untuk berhenti berkarya ataupun bubar. Gitaris Nidji, Ramadhista Akbar mengulasnya.

Mau Tau Banget?: Mentor Interview – Sarah Deshita

Selamat datang kembali di edisi kedua dari Mentor Interview! Sekilas mengenai Mentor Interview, kami berkeliling menemui nama-nama yang sudah tidak asing lagi di industri musik Indonesia saat ini. Nama-nama yang kami temui, mempunyai keahliannya …