Pangalo! Dan Katalog Funk Indonesia Yang Malu-Malu

Dec 7, 2018

Diskoria: Aat dan Merdi. Foto: Detik.com

Selain itu dari balik DJ booth muncul para DJ yang memainkan lagu-lagu lawas disko/funk Indonesia di lantai dansa klub kekinan. Adalah Diskoria Selekta duo kolektor vinil asal Jakarta, Merdi dan Aat dari Diskoria di bawah kolektif Suara Disko, dan Munir “Midnight Runners” dari Bandung yang selain memainkan juga bahkan me remix, men-sampling dan merilis ulang lagu funk/disko Indonesa lama 70an. Lagu-lagunya bisa disimak di bawah ini.

 

Funk dan Hip Hop Indonesia

Yang tidak kalah penting di tahun ini adalah album perdana rapper asal Medan, Pangalo! yang berjudul Hurje! Maka Merapallah Zarathustra. Di singel “Menghidupi Hidup Sepenuhnya” ia meracau, merepet dengan bahasa Indonesia lantang dan keras dalam balutan musik funk 70an yang ia sampling. Pangalo sangat mengingatkan pada kolektif 90an, Homicide namun dengan unsur funk yang lebih kental.

Adalah rapper/produser Senartogok dan labelnya Maraton Mikrofon yang bertanggung jawab di balik album penuh perdana ini. Kesuksesan sebelumnya sebagai produser rapper Joe Million membuat dirinya meninggikan standar untuk proyek terbarunya ini. Dari niatan awal memberikan 5 beat yang ia produksi untuk direspon oleh Pangalo, Pangalo malah mengirim belasan lagu dengan beat yang sudah jadi dan layak diproduksi. Sehingga akhirnya total 18 lagu masuk ke dalam album perdana Pangalo.

Yang juga menarik dari album HURJE! ini adalah pemakaian sampling lagu-lagu populer legendarisnya. Cenderung jujur menampilkan lagu aslinya apa adanya tanpa tendensi menambah-nambah atau mengurangi agar lagu aslinya tidak terdengar. Seperti yang sering terjadi dalam kultur men-sampling lagu. Hal ini dijelaskan produser Senartogok sebagai tribut atas musik-musik ia dengarkan waktu kecil. Ia banyak menghabiskan hari-harinya tinggal di pelabuhan dan sesekali ikut berburu piringan hitam atau perangkat analog antik lainnya bersama sang ayah, sambil mendengarkan James Brown dan Jimi Hendrix.

Penggunaan sampling musik kulit hitam funk dan jazz, afro beat hingga folk populer dominan mengisi album HURJE! ini. Dari musik The JB’s band pengiring sang godfather of funk, James Brown, band funk kekinian Orgone, dewa funk Afrika, Fela Kuti. Tidak lupa musik Miles Davis, Jimi Hendrix, Bob Dylan dan Pink Flyod yang direspon Pangalo dan bisa terdengar menjadi lebih funky.

Meskipun tidak memakai sampling lagu funk Indonesia 70an, tidak berlebihan kalau menyatakan jika album HURJE! Ini melengkapi katalog funk Indonesia yang malu-malu. Terutama karena Pangalo menambah daftar rapper lokal yang masih sangat sedikit men-sampling funk 70an yang menjadi nenek moyang musik hip hop.

Malu-malunya funk Indonesia ini juga ironis karena meski selalu hadir di setiap dekade musik Indonesia sejak 70an, namun bagi kebanyakan orang Indonesia musik funk masih bagaikan hantu. Ada dan tiada. Ada menyelinap di hampir semua musik populer Indonesia, tapi tiada (sebanyak itu) musisi/album bahkan acara yang spesifik mengusung tema musik funk. Jumlahnya masih sangat sedikit.

1
2
3
4
5
6
7
Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.

Eksplor konten lain Pophariini

Virdania Melepas Video Musik “Door of Changes”

Virdania kembali dengan karya terbaru melalui peluncuran video musik single “Door of Changes” yang sudah bisa disaksikan melalui kanal YouTube Virdania.

16 Pertanyaan: Mezzaluna

Mezzaluna tak main-main berkarier di musik. Bukan sekadar untuk menjadi terkenal. Kami mencoba untuk mengenal Mezzaluna lewat rubrik 16 Pertanyaan.