876

Nadin Amizah – Selamat Ulang Tahun

Artis: Nadin Amizah
Album: Selamat Ulang Tahun
Label: Sorai Records

Bagaimana bisa seorang penyanyi belia berbicara soal kegamangan dan ketakutan memasuki usia dewasa ketika musik dan bait liriknya justru menyatakan sebaliknya?

Ini yang terjadi pada album perdana Nadin Amizah, Selamat Ulang Tahun.

Di balik kekhawatirannya akan memasuki usia dewasa ke-20, Nadin menghadiahkan dirinya dan para penggemarnya merilis album perdana yang sangat puitis, kontemplatif, dibalut musik pop kelam namun indah dan menenangkan.

Dirilis tepat pada hari ulang tahunnya di 28 Mei kemarin, album ini berisi 10 lagu yang mayoritas bernuansa akustik dengan sentuhan musik ambience mengawang-awang, berlirik bahasa Indonesia yang sangat menarik.

Dibuka dengan “Kanyaah”, komposisi yang muram tapi indah yang pada dasarnya hanya memiliki lima bait lirik yang diulang-ulang. Efektif langsung menggugah:

Bunga merah menjemput yang lelah dibuainya basah / Seperti lembut yang mengizinkanku lebih kuat dan tak lemah / Bunga merah memanggil yang lelah dibuatnya rekah / Seperti peluk yang mengizinkanku lebih luas dan tak gundah  / Seperti doa yang menjagaku dari rusak dan tak cukup

Lalu ada “Paman Tua” dengan gaya storytelling kuat. Tentang sosok paman yang bekerja sehari-hari demi pulang kembali melingkar di meja makan dengan yang tersayang.

Baca juga:  Coldiac - No Make Up

Paman tua berlarian dengan angan di bahunya / Berharap cepat sampai tujuannya / Bergumam letih menunggu kereta

Kemudian ada lagu “Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat”. Ini sedikit banyak mengingatkan pada “Stop This Train” milik John Mayer karena sama-sama berbicara tentang keresahan dan menggunakan pengandaian kereta api. Simak baitnya di bawah ini;

Bergegas terlalu cepat / Masih takut untuk dicinta / Masih takut untuk saling menerima / Jumpa aku di sana / Entah dimana yang aku maksud / Kereta ini tak gentar / Terus melaju / Aku takut

Hal menarik juga ada pada “Beranjak Dewasa”, yang menjadi lagu paling banyak diputar di Spotify. Saya bahkan mempertanyakan apakah Nadin perlu merasa risau dengan menjadi dewasa? Karena kemampuannya menulis liriknya menunjukan kalau dia baik-baik saja dan cenderung percaya diri. Simak liriknya:

Baca juga:  Attracts - Asam Haram

Kita beranjak dewasa / Jauh terburu seharusnya / Bagai bintang yang jatuh / Jauh terburu waktu / Mati lebih cepat, mati lebih cepat

Simak bagaimana lihainya Nadin menyelipkan bait “mati lebih cepat” ketika berbicara tentang pendewasaan. Padahal salah satu yang tidak bisa dihindari dari menjadi dewasa adalah mulai mengerti tentang akhir kehidupan. Di sini Nadin menampilkan sisi bijak sekaligus gelapnya.

Yang juga tak kalah menarik adalah lagu dan lirik kesukaan saya di “Terpaut”. Tanpa basa-basi lirik pembukanya langsung menarik perhatian saya.

Bun / hidup berjalan seperti bajingan // bagai landak yang tak punya teman

Lagi-lagi Nadin memperlihatkan kepiawaiannya bermain kata-kata. Ia mampu menyatukan kata Bun (Bunda) dengan kata bajingan dalam satu bait tarikan nafas. Belum lagi untaian kata menyentuh yang secara gamblang memperlihatkan bagaimana hubungan mesra Nadin dengan sosok wanita yang melahirkannya.

Baca juga:  Resensi : Lair - Kiser Kenamaan

Keras kepalaku sama denganmu / Caraku marah caraku tersenyum / Aku masih ada sampai di sini / Melihatmu kuat setengah mati // Semoga lama hidupmu di sini / Melihatku berjuang sampai akhir / Seperti detak jantung yang bertaut / Nyawaku nyala karna denganmu

Di album ini, Nadin juga berhasil menghadirkan emosi sangat dalam dalam nyanyiannya. Ditambah dengan vibra berat yang menggantung di tiap ujung bait yang ia nyanyikan. Indah sekali. Bagaikan mendengar penyanyi tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Simak lirih senandung bervibra vokalnya di “Cermin” dari sedari awal bait yang terasa begitu pilu sekaligus indah.