20 Album Indonesia Terbaik 2021

Dec 14, 2021

Di penghujung tahun menjelang warsa kedua hidup berdampingan dengan pandemi, siapa sangka kita mampu beradaptasi dengan baik, terlebih industri musik yang kita hidupi ini. Terbatasnya pergerakan ternyata tidak menghalangi musisi kita mengeluarkan karya terbaiknya. Banyak album, mini album (EP) dan single menarik yang terus dirilis sepanjang setahun ini. Dan tentunya membuat semangat menyusun daftar 20 Album Indonesia Terbaik 2021 ini.

Kudos untuk para musisi yang tetap berkarya, mengeluarkan modal tidak sedikit untuk biaya rekaman album. Maka itu kami lebih semangat membuat daftar ini menghadirkan bukan 10, tapi 20 album terbaik. Selain itu juga karena harus menyediakan ruang ekstra untuk rilisan album mini yang lebih banyak tahun ini. 

Sedikit info, album terbaik di sini merupakan hasil pantauan redaksi dari awal 2021 dan sempat kami bedah dalam artikel resensi Rekomendasi Pophariini. Terhitung sejak White Shoes & The Couples Company merilis 2020 di awal Januari 2021 hingga pertengahan bulan November  lalu, BAP. merilis album MOMO’S MYSTERIOUS SKIN.

Silakan disimak, inilah 20 Album Terbaik Indonesia 2021 pilihan kami. Sekali lagi kami angkat topi setingginya untuk para musisi Indonesia, dan kami ucapkan, selamat membaca. 


– Anto Arief.


Album Penuh (LP)

1. Mental Breakdance – Mad Madmen

Album Indonesia Terbaik 2021

Album perdana power-trio asal Jakarta ini adalah angin segar dalam katalog funk Indonesia yang masih malu-malu. Hadir dengan skill mumpuni, aransemen di atas rata-rata, dimainkan dengan liar, mentah, menggelora, dan gila-gilaan. Kesemua berhasil dirangkum dalam Mental Breakdance. Sembilan lagu jauh dari kata monoton. Bahkan terlalu sering dalam satu lagu menghajar BPM dan struktur bagan lagu yang berbeda-beda sehingga akan kurang nyaman buat telinga yang tidak terbiasa dengan musik funk/progresif. Apalagi bila hanya pendengar funk ala cafe semodel “Uptown Funk”. Bicara musik funk, terlalu sempit bila membatasi album ini ke dalam ranah musik funk semata. Kalam dan Marvin meleburkan funk, rock, jazz, psychedelic, prog-rock menjadi satu lelehan lava magma. Rock lava gunung berapi mungkin lebih tepat. Apapun yang masuk akan mudah melebur dan oleh Mad Madmen dijadikan sesuatu yang panas, menggelora dan mengalir cair seperti lava panas yang tidak bisa ditebak arahnya. Seperti itulah album perdana Mental Breakdance ini. (Anto Arief)

Selengkapnya baca di sini.

 

2. MOMO’S MYSTERIOUS SKIN – BAP.

Album Indonesia Terbaik 2021

MOMO’S MYSTERIOUS SKIN lahir dari tangan cerdik BAP., moniker dari Kareem Soenharjo. 12 trek di album ini menggambarkan bagaimana Kareem sebagai seorang musisi yang punya sudut pandang berbeda dengan kebanyakan musisi hip hop. Album ini menghadirkan kepiawaiannya untuk mengumpulkan, mengolah pusparagam lagu Indonesia lalu diterjemahkannya sebagai karya yang spektakuler. Album kedua ini adalah hasil proses digging Kareem yang luar biasa telitinya akan lagu-lagu Indonesia. Ia mungkin bukan yang pertama memproses pola ini. Namun yang membedakannya, Kareem sadar bahwa hip hop bukan soalan mengambil beat belaka, namun bagaimana mengambil ‘rasa’ dari lagu, diambil saripatinya untuk kemudian dihidangkan dengan plating yang menarik. Saya sendiri bukan penggemar hip hop, namun saya justru bisa merasakan unsur lain dari sekadar hip hop di album ini. (Wahyu Acum)

Selengkapnya baca di sini.

 

3. Katarsis – Hursa

Album Indonesia Terbaik 2021

Ada banyak hal yang ditawarkan album kedua Hursa, kuartet asal Jakarta yang personilnya ini sebagian besar adalah session player musisi besar. Dan menjadi tiang penopang rock Indonesia yang mulai semaput bukanlah satu-satunya. Yang Katarsis tawarkan bukanlah rock mentah pelampiasan ledakan emosi dan perlawanan. Melainkan rock kontemplatif, titik cerah atas kekalutan yang telah terlampaui. Lirik-lirik puitis Indonesianya pun terdengar efisien dan langsung menghujam. Kita harus sepakat kalau Barasuara meninggikan standar estetika musik rock Indonesia baik musik maupun liriknya. Dan menariknya, Hursa berhasil hadir di titik yang berbeda. Meski masih satu area, namun berhasil hadir dengan kebaruan. Suara gitar distorsi, kadang meraung dan tenang, bonus solo gitar melodius, musik menghentak, dengan drum dan cymbal berisik, ketukan ganjil, bagan lagu yang seenaknya serta ogah patuh pada musik baku. “Pop turbo” jelas bukan istilah tepat. Saya lebih suka menyebutnya sebagai: “rock berhitung”. Tapi tidak usah dipusingkan istilah itu karena balutan vokal Gala dengan lirik dan notasinya masih begitu mudah dinikmati. (Anto Arief)

Selengkapnya baca di sini.

 

4. #1 – IQIF

Ini merupakan album penuh perdana bagi karier solo IQIF sebagai musisi setelah ia membentuk band bernama Stereocase. Hal terbaik dari album, IQIF menyusun urutan lagu-lagunya dengan sangat baik untuk menjadi satu album musik alternatif yang utuh. Rasanya menjadi musisi bukan cuma soal musik bagus, dan IQIF berhasil menunjukkan karakter dirinya lewat penampilan. ​Materi #1 layak menjadi album terbaik, karena sudah seharusnya ia memiliki lebih banyak kesempatan manggung. (Pohan)

Selengkapnya baca di sini.

 

5. Tutur Batin – Yura

Jeda tiga tahun dari album kedua, Tutur Batin tentunya menjadi penantian Yura sendiri maupun penggemar. Yura Yunita menuliskan cerita hidupnya di album ini dari berbagai fase yang sudah dilewati. Memang tak cukup hanya didengarkan sekali, karena album jauh dari membosankan. Meskipun ada beberapa bagian lirik yang tak cukup dimengerti maksudnya. Album ketiga dalam perjalanan karier bermusik adalah pembuktian, dan Yura berhasil mewujudkan nilainya sebagai penyanyi wanita terbaik selamanya. (Pohan)

Selengkapnya baca di sini.

 

6. Eulogi – Semiotika

Semiotika resmi melepas Eulogi, album keduanya di penghujung bulan Juli lalu, juga sebagai jawaban bahwa mereka masih ada, tidak bubar dan (tampaknya) masih akan terus melanjutkan perjalanannya dalam beberapa waktu ke depan. Ada ragam nuansa Melayu yang kental di deretan repertoar dari album ini yang jika memang dimaksudkan sebagai sebuah penanda indentitas daerah, maka Semiotika berhasil menjahitnya dengan indah. Sangat terasa sekali bahwa permainan instrumen dari Riri Ferdiansyah (bas), Yudhistira Adi Nugraha (drum) dan Billy ‘Bibing’ Maulana (gitar) memasuki level terbarunya di album ini. Ada kematangan di sana, tidak hanya padu padan antar instrumen yang repetitif penuh energi, tapi ada cerita tersendiri di baliknya. Semiotika kembali membuktikan bahwa tiga kepala cukup untuk menyajikan deretan materi yang berpadu harmonis antara gitar, bas serta drum, sebagaimana yang mereka lakukan di Ruang (album pertama) dan Gelombang Darat (mini album). (Raka Dewangkara)

Selengkapnya baca di sini.

 

7. Canvas – Galdive

Album perdana Canvas milik duo Galdive ini menghadirkan musik pop elektronik (electropop) dengan nuansa dance, R&B dan jazz yang tebal dengan sentuhan musik klasik. Berpadu dengan loops dan sampling, piano akustik indah, dan cabikan bass slap funky. Pengaruh musik klasik terasa di lagu “Shoulder” dan, “Gravity” dan “Pocket”. Lalu “Crazy Driving”, dan “Sweet Sugar Gateway” yang sangat dance dan terdengar agresif mengajak badan bergoyang. Juga “Poetry” yang ditingkahi musik Jamaika tipis dengan solo piano elektrik yang seksi, jadi perpaduan menarik yang membuat lagu ini menjadi favorit saya juga. Album ini meredup dengan penutup, “Berceuse” yang berarti lagu nina-bobo dalam bahasa Prancis. Vokal berlapis, denting piano menari-nari, imbuhan instrumen gesek, sedikit kejutan nuansa dreamy di 30 detik terakhir sebelum denting piano menutup album Canvas ini dengan syahdu. Sebuah pengalaman audio 47 menit yang sangat menarik. (Anto Arief)

Selengkapnya baca di sini.

 

8. 2020 – White Shoes and The Couples Company

Sulit untuk tidak membandingkan 2020, album ketiga sextet Jakarta ini dengan album sebelumnya, Vakansi yang lebih supel di telinga pada perkenalan pertama. Namun bila berbicara soal pencapaian estetika dan konsep, album 2020 ini ada di tingkatan berbeda. Tentunya untuk bisa mencerna estetika 2020 ini diperlukan pengetahuan dan kesabaran yang cukup. Tapi terlepas dari semua itu dengan tanpa bergeser jauh dari pengaruh musik Indonesia lawas mereka, White Shoes & The Couples Company terlihat bersenang-senang di album ini. Dan untuk apa mengulangi formula yang sama dengan Vakansi yang sudah berstatus klasik itu? Yang jelas beban itu tidak mengelayuti pundak mereka. Dan untuk pendengar yang berharap akan adanya Vakansi bagian kedua, silahkan buang jauh-jauh harapan itu. (Anto Arief)

Selengkapnya baca di sini.

 

9. FASTFOOD – White Chorus

White Chorus bersama album debutnya ini, Fastfood menjadi satu dari beberapa nama yang stand-out di Bandung dalam rentang waktu setahun ini. Duo electronic pop yang dihuni oleh Emir Mahendra dan Clara Friska menghadirkan sepuluh nomor yang juga membawa ragam cerita serta warna dan nuansa berbeda di dalamnya. Dengan manis, keduanya membalut cerita-cerita yang terasa personal di kehidupan remaja hingga menjelang dewasa dengan musik elektronik yang (untungnya) tidak terdengar membosankan hingga akhir durasi album. Terima kasih kepada eksplorasi pakem yang mereka lakukan di tiap nomornya. (Raka Dewangkara)

 

10. Ritus Hancur – Ametis

Proses awal unit hardcore dari Bandung yang sejak awal perjalanannya kerap terlibat di banyak kompilasi dari Grimloc menjadi modal mereka untuk pada akhirnya menemukan sound mereka sendiri di Ritus Hancur, debut albumnya. Sound-sound hardcore yang nyebrang dari patron, yang gelap, eksperimental hasil ramuan kuali dari beragam warna dan pengaruh. Sejak “Berdarah”, nomor hulu yang menjadi pembuka album ini sampai “Memukul Batin” track hilir, kita bisa mendengar hiasan-hiasan riff sludge, death metal old school sampai post metal. Tekstur-teksturnya menarik, liukan-liukan tempo disajikan dengan sangat manis namun agresif. Ritus Hancur adalah bukti bahwa apapun musisi-musisi yang ada di dalam proses pembuatannya sadar benar bahwa hardcore tak hanya agresivitas semata, namun mereka berhasil menemukan ‘keindahan’ dari musik, sekeras apapun itu. (Wahyu Acum)

 


 

Album Mini (EP)

1. Q1 – Gamaliel

Album Indonesia Terbaik 2021

Secara keseluruhan album solo dari salah satu penyanyi GAC ini menyajikan paket akustik pop megah sarat bebunyian orkestra musik klasik diramu dengan nuansa elektronik dan menghasilkan musik yang mungkin belum terlalu banyak dijamah oleh solois Indonesia saat ini. Pertimbangan estetika ini membuat Q1 bukanlah album yang tepat untuk didengarkan setiap saat seperti sambil bekerja ataupun di coffee shop. Ini adalah karya utuh yang benar-benar harus dinikmati dengan memusatkan seluruh indera yang kita punya. Album ini juga jelas pencapaian tertinggi untuk musik pop Indonesia di awal 2021. Satu-satunya kekurangan album ini adalah terlalu singkat. Sayang sekali kolaborasi dengan produser Aldi Nada Permana ini tidak berlanjut ke Q2, Q3 dan Q4. Mengingat Q1 ini dirilis di bulan ketiga, Maret. Dan terbaca seperti kuartal satu 2021. (Anto Arief)

Selengkapnya baca di sini.

 

2. Karet – Swellow

Karet adalah bukti bahwa Bogor, tanpa melebih-lebihkan, memang sejatinya adalah kota indie rock. Debut ini album Karet adalah situasi terkini bagaimana Bogor perlu mendapat lampu sorot. Karakter dari Swellow berbeda dengan aksi-aksi yang ada di kota hujan ini, meskipun ada elemen tertentu yang menjadi benang merah semuanya yaitu progresivitas yang luar biasa di semua lini. Swellow dan Karetnya mengingatkan saya akan Teenage Fanclub juga Pure Saturday yang melebur jadi satu. Isu-isu renungan di tiap lirik lagu mereka menjadi peluru yang menarik untuk disimak. Produksi soundnya juga ditata sangat baik, tak ada satu pun cela dalam hal frekuensi tumpang tindih, semua tersaji sesuai porsinya masing-masing yang mana membuatnya menjadi nikmat untuk didengar. (Wahyu Acum)

Selengkapnya baca di sini.

 

 3. RAYA – MALIQ & D’Essentials

Angga, Widi, Indah, Jawa, Lale, dan Ilman memposisikan diri, seakan-akan mereka kembali berada di masa remaja. Masa yang orang bilang tak dapat terulang, masa yang hanya sekali berjalan. Momen terbaik merasakan cinta yang tidak membutuhkan banyak perdebatan, apalagi merasa terbebani. Album RAYA ini, layaknya kami sebagai pendengar sedang merayakan perasaan. Apakah MALIQ bisa menempuh sekali lagi perjalanan untuk tetap konsisten menjadi band pop yang telah diperhitungkan hari ini? (Pohan)

Selengkapnya baca di sini.

 

4. Suvenir – Sundancer

Apa yang menarik dari Suvenir? Banyak sekali. Salah satunya adalah aksen musik dan produksi musik yang cocok dengan identitas dengan Sundancer. Suvenir sukses mengangkat kelas Sundancer dari Musim Bercinta yang ugal-ugalan jadi sosok musisi matang yang sopan dan amat memperhatikan setiap jengkal musik dan liriknya. Mungkin banyak fans yang mendengar rekaman terbaru ini sama sekali tidak merasakan nuansa ugal-ugalan fuzz ala Musim Bercinta yang saya rindukan, di mini album Suvenir yang teramat sopan ini. Namun semua anggapan miring saya ini ditepis ketika melihat fakta bahwa kumpulan rekaman ini ternyata bukan murni milik Decky dan Om Robo yang saya kenal binal di atas panggung. Ini justu adalah rekaman pre-Sundancer yang ditulis oleh mendiang Bagus ‘Jalang’ Wiratomo. Bagus Jalang dikenal sebagai vokalis band power violence Mortal Combat, pemerhati musik garage sekaligus pendiri Yes No Wave, label yang sangat dihormati di skena musik bawah tanah kota Jogja. Sebuah rekaman tribute yang menjadikannya mini album dengan konsep yang layak diberikan lampu sorot. (Wahyu Acum)

Selengkapnya baca di sini.

 

5. 5 Stages of Doomed Romance – Milledenials

Satu yang bisa disimak dengan singkat dalam putaran pertama, walau koridor utamanya adalah shoegaze (bahkan, Milledenials proclaimed bahwa mereka adalah sebuah unit emogaz), namun cakupannya dibuat melebar oleh mereka. Pakem-pakem yang diperlebar hingga menyerempet post rock, math rcok hingga hardcore punk di dalamnya. Secara keseluruhan, saya menikmati apa yang diceritakan Milledenials dan perjalanan para personelnya melalui EP 5 Stages of Doomed Romance. Ada harapan dan juga rasa penasaran untuk apa yang akan kelimanya bawa di album perdananya kelak. (Raka Dewangkara)

Selengkapnya baca di sini.

 

6. Gaung Romantis – Romantic Echoes

Gaung Romantis mungkin bisa terdengar seperti versi b-side dari Persembahan Dari Masa Lalu, namun di sisi lain tidak juga. Karena tampaknya ada elemen-elemen kejutan lain yang tidak ada di debut albumnya. Seperti nuansa balada 80-an yang disajikan di “Celaka”, “Malam Itu Adalah Malam Dimana Saya Dibunuh Oleh Keindahan” yang lebih mengarah ke soundtrack dan dibayangan secara visual ketimbang didengarkan lepasan seperti “I’m Down”, track kuncian yang berhasil membobol satu juta stream. Terlepas dari EP yang memang lebih baik dari rekaman sebelumnya, Gaung Romantis sepertinya hanyalah pintu kepada sesuatu yang lebih besar di tahun depan nanti. (Wahyu Acum)

Selengkapnya baca di sini.

 

7. Angkat dan Rayakan – Ananda Badudu

Album mini solo dari salah satu duo Bandaneira yang memutuskan membubarkan diri 2016 lalu. Menggandeng produser Indra Perkasa, Ananda menghadirkan album mini yang begitu kompleks dan rumit, tapi meneduhkan. Menarik bagaimana kolaborasi antara Ananda dan Indra sebagai produser/musisi terasa maksimal. Sebelumnya Indra memproduseri Monita Tahalea dan memberikan sedikit nafas elektronik di album Dari Balik Jendela. Dan Ananda juga menulis lagu. Tapi album mini ini adalah kontribusi Indra yang sebenar-benarnya sehingga nuansa folk-ish yang lekat dan menjadi ciri Ananda menjadi sesuatu yang baru, berbeda, menggugah dan mengusik. Dan bila bicara soal karya seni ini adalah hal yang baik. Karena karya seni harus mampu membuat kita merasakan sesuatu, bukan hanya sekedar keindahan. Dan album ini  adalah contoh baik akan hal itu. (Anto Arief)

Selengkapnya baca di sini.

 

8. Fluktuasi – Rub of Rub

Tidak banyak musisi dub/reggae seperti Rub of Rub. Ini mengapa tidak semua mini album bakal terdengar seperti Fluktuasi. Sebuah album yang merepresentasikan seperti apa arahan musikal dan ekspresi dari band ini. Sebagai sebuah rekaman dub/reggae, Fluktuasi memang keluar jalur. Mereka justru terdengar lebih psikedelik dalam baju dub. Dengar saja eksperimen-eksperimen sound mengawang yang mereka buat. Rasa-rasanya saya melihat langit terbuka dan saya diajak terbang ke lubang hitam di atas sana. Putar ini di pesta reggae dan pesta ini akan lebih bertekstur, lebih dari sekadar pesta mabuk yang mungkin akan terlupakan esok harinya karena banyaknya asap yang dikomsumsi. Fluktuasi membuat tiap menit telinga yang mengonsumsi musik dan muatan lainnya ini lebih berharga. (Wahyu Acum)

Selengkapnya baca di sini.

 

9. Alius Malicious – The Bunbury

Selalu menyenangkan jika berbicara mengenai warna-warni indie pop di Indonesia. Akan selalu ada nama-nama baru yang bersenang-senang dengan pakem tersebut dan tentu membawa eksplorasi di dalamnya. Dan The Bunbury dengan EP debutnya ini, masuk dalam warna-warni tersebut. Empat nomor yang intens, empat nomor yang bisa menjadi sebuah perkenalan yang menyenangkan dari The Bunbury untuk telinga pendengar yang lebih luas lagi. (Raka Dewangkara)

Selengkapnya baca di sini.

 

10. Tellabye – Sugarstar

Album Indonesia Terbaik 2021

Turun gunung adalah istilah nostalgia yang basi, namun tidak untuk Sugarstar. Band yang hampir saja jadi band mitos ini akhirnya bisa muncul lagi dalam bentuk rekaman-rekaman baru yang belum pernah diperdengarkan ke pendengar (baca: penyuka shoegaze). Lewat Tellabye, kita sekali lagi diingatkan akan keindahan distorsi, sapuan wall of sound. Bagaimana suara-suara bisa memutar dengan indah dan cantik di telinga kita. Bagaimana kita menerka-nerka lirik apa yang dinyanyikan karena saking tenggelamnya dalam gelombang sonic yang mengalir sepanjang lagu dimainkan dari hulu ke hilir. Mini album ini adalah ‘harta karun kecil’ dari album penuh yang entah apakah akan dipersiapkan mereka di tahun depan. (Wahyu Acum)

 

 


 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

25 Tahun Pandawa Lima: Puncak Abadi Para Dewa

Pandawa Lima, album studio keempat Dewa 19 ini bahkan mengalahkan album Bintang Lima yang jauh lebih mengkilap angka penjualannya

Pergumulan Tanayu di Materi Terbaru

Sebenarnya, Tanayu sudah mulai menggarap lagu ini sejak tahun 2019 lalu. Namun, lagi-lagi situasi pandemi menjadi penghalang untuk melanjutkan prosesnya.