Feast, Para Pembawa Pesan

20532

Sampai akhirnya Ketua OSIS gue bikin pidato pas sudah mau dibawa ke (Taman Pemakaman Umum) Jeruk Purut, yang kayak, “Maafkan ya kalau Raafi ada salah.” Gue baru sadar di titik itu, “Teman gue umur 17 tahun meninggal. Ditusuk sama orang.” Wah, hancur sih. Campur aduk banget rasanya. Yang namanya menangis, menangis banget semuanya. Gue juga waktu itu. Terus dikubur.

Gue ingat-ingatnya masih sedih sampai sekarang. Kayak apa yang harus dilewati sama ibunya saat itu, apa yang harus dilewati sama pacarnya waktu itu. Apa yang harus dilewati sama…enggak usah anak-anak PL yang lain, enggak usah gue, teman-teman gue yang dekat juga sama dia. Itu sekali-sekalinya gue merasa Senin besoknya gue sekolah, dan dari masuk pagi sampai pulang enggak ada yang ketawa. Hening saja sekolahnya. Merasa kayak salah satu bagian dari anggota keluarga lu direnggut saja. Senin-nya upacara bendera, terus ada misanya. Waktu itu memasang foto dia gede banget.

Itu yang pertama gue ingat pas mau tulis lagu ini. Gara-gara kasus itu, gue jadi baca berita tentang kasus-kasus serupa. Ternyata banyak yang kejadian, yang enggak pernah terselesaikan. Penusuknya ketahuan siapa, cuman enggak dipenjara atau apa. Patah hati banget buat gue waktu ibunya bilang ke teman-teman gue, “Kita stop berjuang untuk kasus ini, ya. Tante enggak mau mengorbankan masa depan kalian.”

Karena itu kasusnya jadi panjang banget, dan kami waktu itu kelas 3 mau masuk kuliah. Lu enggak tahu waktu itu implikasinya kalau lu paksa kasusnya jalan. Kayak nama lu ada di media, di mana-mana, kampus enggak ada yang mau terima lu atau apa. Ibunya berkorban buat teman-teman yang lain. Ya sudahlah. Padahal kami tahu jelas. Maksudnya, siapa, dari kelompok mana dan lain-lain. Dilepas begitu saja. Dan yang gue tahu sih, buat anak-anak untuk melepas beban itu, kayak, “Ya sudah, gue rela kasus ini,” itu lama banget. Dan mungkin sampai sekarang dendamnya masih ada, gue yakin. Enggak mungkin hilang total.

“Teman gue umur 17 tahun meninggal. Ditusuk sama orang.”

Itu yang gue tulis, dan ada saja, waktu itu, yang lain. Kayak bait duanya, (yang dinyanyikan) si Rayssa Dynta ini, kan korban lain, dari ibu lain juga. Dia enggak mau disebut siapa, nama anaknya juga enggak mau disebut siapa. Cuma, gue tahu, gue minta izin dan mengobrol ama dia. Wah, itu lebih sedih lagi ceritanya. Banyak yang tanya, cuma gue enggak pernah menceritakan langsung karena menghormati dia juga. Cuman, gue minta izin ama dia, dan dia bilang, “Ya sudah, enggak apa-apa. Ini penting kok untuk diomongkan. Tante senang kalau punya semacam ‘sekutu’.” Lu enggak perlu merasakan, tapi lu mengobrol sama orang yang merasakan itu, dan dia memang kasih izin. Itu penting buat diomongkan.

Baca juga:  Spotify dan Betapa Narsisnya Kita

Enggak tahu sih, gue kalau dengar lagu ini lagi, nyanyi lagu ini secara live belum pernah. Latihan saja bawaannya sedih, berat dada gue bawakan ini. Makanya kembali lagi ke pertanyaan sekian menit yang lalu: lu merasa berat enggak bawa materi ini? Kalau dibilang enggak berat, bohong sih sebenarnya. Gue omong ini saja kayak terbata-bata. Cuman, rasanya kayak, “Ya, penting. Dan lu ‘diamanahkan’ untuk omongkan itu. Ya sudah.”

Rayssa Dynta di We The Fest 2018  / Foto: Pohan.

Apakah memilih Rayssa karena kebetulan dia artisnya Double Deer?
Biasanya yang mengisi vokal gue Rubina (Winnie) kan. Heidi (Nasution alias The Girl With the Hair) lagi sibuk, Rubina lagi enggak bisa. Terus gue di Double Deer: “’Sa, lu mau enggak? Gue sesimpel perlu suara cewek doang kok, gue enggak mau ini dinyanyikan sama cowok.” Ya sudah, dan secara artistik juga gue suka ama karyanya dia, dan menurut gue sanggup juga. Kenapa enggak? Dianya mau. Dan lucu saja buat gue, gue bukan bawa orang yang emang sudah ada di lingkungan musik ini untuk nyanyi itu. Rayssa kan R&B, electronic pop banget. Tapi dianya mau dan dianya suka, ya sudah. Jadinya bagus, gue senang juga.

Lirik itu surat dari ibu itu?
Satu dua kata ada yang gue rapikan, cuman 90 persen kayak itu isinya. Gue sedih banget: “Gue merelakan sekarang, besok, lain kali.” Kayak, apa rasanya jadi orang tua, anak lu duluan (meninggal)?