Feast, Para Pembawa Pesan

Oct 15, 2018

Kesimpulannya adalah peradaban akan selalu lebih dari manusianya.
Iya.

Kalau “Minggir!” sepertinya ada rasa Arctic Monkeys.
[Tertawa] Gue lupa, ini bahkan gue tulis sebelum Tranquility Base Hotel & Casino sudah keluar. Seharusnya sudah gue tulis sebelum itu sih, cuma mungkin waktu merapikan drumnya lagi, Tranquility Base baru keluar. Jadi, sangat terpengaruh album itu. Terus, ya memang anak-anak sudah dengar Arctic Monkeys dari jaman kita belum lepas single pertama kami. Cuma, waktu itu kami belum punya kemampuan untuk menulis lagu kayak begitu. Pas sudah bisa, pamer: “Gue bisa, nih!” Pas saja, menurut gue, apa yang ingin ditulis di lagu itu, dengan suasana melodi yang kayak begitu.

Kalau omong lagu ini, mungkin lebih omong teknis. Produser gue ketakutannya sama, kayak, “Bas, ini Arctic Monkeys banget deh. Liriknya lu hilangkan, gue bisa nyanyi ‘Why’d You Only Call Me When You’re High?’ di sini!” kata dia. Cuma, gue bilang, “Ya sudahlah, kalau misalnya memang ada orang bilang lagunya mirip banget sama apa, jangan lu tutup-tutupi dan bilang enggak.” Kesannya lu jadi kayak plagiat.

Ya, memang gue mengakui ini Arctic Monkeys banget. Gue dengar dia dari dulu, dari jaman gue SMP kok. Humbug itu salah satu album terbaik, menurut gue, yang pernah ditulis sama orang di muka bumi ini. Jadi kalau dibilang ini mirip Arctic Monkeys, ya sori-sori saja, tangga nada cuma tujuh. [Tertawa] Ya, gue dengarnya itu.

kalau dibilang ini mirip Arctic Monkeys, ya sori-sori saja, tangga nada cuma tujuh

Cuma, jadi seru sih lagunya. Gue enggak menyangka jadinya kayak begitu. Tepatnya, gue enggak menyangka anak-anak ternyata bisa menulis dan bikin lagu kayak ini juga. Anak-anak yang saban menulis “Blackwater” bisa bikin lagu kayak ini.

Di Indonesia banyak yang mengaku suka Arctic Monkeys, terutama album AM. Tapi kayaknya baru Feast yang bikin lagu yang seperti AM, dan mungkin itu karena menggemari hip-hop juga, sedangkan band-band lain belum tentu.
Mungkin. Padahal sebenarnya AM sendiri sebagai sebuah album terpengaruh oleh hip-hop banget, kan. Jadi mungkin orang mau bikin lagu yang referensinya AM, enggak sampai gara-gara dia enggak dengar hip-hop.

Sedangkan pemicu liriknya adalah Ask.fm.
Gue kalau dibilang enggak kangen, bohong sih. Kangen sih gue. Bisa dibilang ada kepuasan ego di saat orang bertanya dan merasa lu kredibel buat menjawab sesuatu. Cuma, lo capek juga, pasti: “Anjing, ini pesan benci lagi.” Sehari bisa sepuluh, minimal. Cuma ya itu, gue melihat yang kayak, “Ini orang sok banget ya. Dokter bukan, apa bukan, jawab kayak begini.” Kacau saja, menurut gue. Menyesatkannya itu parah, mentok. Itu sesuatu yang sudah gue rasakan lama, cuma lebih diperdalam lagi.

Gue bikin layanan sendiri (BagiKata) waktu itu sama teman-teman gue (untuk) orang-orang ini yang memang punya masalah kesehatan mental atau masalah apa pun lah, di keluarga atau di pertemanan. Itu berat banget, lo. Karena ada NDA (non-disclosure agreement), jadi gue enggak bisa cerita spesifik apa saja, karena itu juga perihal identitas orang yang masih ada sampai sekarang.

Cuma maksud gue, pengalaman itu bikin gue jadi bisa naruh kaki gue di dalam sepatu orang lain. Gue pernah mengantri ama teman gue di bioskop, terus dia bilang, “Ini mengantri apa sih, panjang banget? Oh, pakai T-Cash-nya Telkomsel. Oh, diskon Rp 20.000 atau Rp 5.000.” Terus dia bilang, “Murah banget segitu. Orang rela nih antri sepanjang ini?” Waktu itu yang gue bilang ke dia cuma, “20 ribu lu sama 20 ribu dia beda.” Dan menurut gue itu diterapkan ke banyak hal lain.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Penulis
Hasief Ardiasyah
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?

Eksplor konten lain Pophariini

Daftar Musisi Indonesia yang Gila Bola

Pophariini mencari dan menemukan musisi Indonesia yang terlihat memang gila bola. Siapa saja? Simak daftar kami kali ini ya. 

Nadin Amizah Tayangkan Ulang Konser Tunggalnya

Selang setahun, Nadin Amizah memutuskan untuk menayangkan ulang konser tunggalnya yang sudah bisa disimak melalui kanal YouTubenya.