11066

Feast, Para Pembawa Pesan

“Padi Milik Rakyat” itu kilas balik ke masa SMA?
Dulu di SMA gue memang ada program, dan gue datang ke sana. Lupa gue berapa lama, dua minggu atau satu setengah minggu? Cuma, lu ngobrol tiap malam, tiap pagi, tiap sore dengan orang sama, dengan keluarga yang sama, dan enggak ada aktivitas lain di sana. Listrik agak sulit, HP benar-benar enggak nyala. Dibilang mendalam, ya mendalam banget buat gue saat itu. Gue merasakan anaknya si bapak angkat gue benar-benar harus jalan delapan kilometer ke sekolah. Naik turun gunung. Gue cuma pernah coba ikut sekali di hari kesekian, terus gue bilang besoknya, “Enggak, deh! Enggak lagi! Gue enggak kuat!” [Tertawa] Terus besok-besok gue kalau diantar naik motor. Manja banget.

Cuma, orang-orang sangat ramah di pedesaan sana, di Wonogiri. Di hari keberapa mereka mulai cerita serius, buka-bukaan, dan ternyata suram banget latar belakangnya. Kayak, “Gue cuma dapat segini dari segala banyak yang gue bikin dan gue kirim buat perkotaan dari sini.” Dan bahkan hitungannya keluarga angkat gue itu cukup mampu, karena anaknya punya bengkel kecil kayak bengkel-bengkel motor yang kita suka lihat di pinggir jalan kalau di Jakarta. Dan buat mereka, itu cukup mampu. Untuk keluarga (angkat) gue yang bisa dibilang cukup mampu, mereka masih cukup kesusahan.

Baca juga:  Nasionalisme Seorang Pelaut Handal Bernama Rich Brian

Pas gue tanya kenapa, kok bisa kayak begitu, ya mereka merasa dibohongi secara sistematis saja, sih. Karena kesannya sistem ini mengimbau keluarga-keluarga di sana untuk terlibat ke dalam sebuah model bisnis tanpa warga-warga ini punya pemahaman yang cukup kuat tentang apa itu model bisnis, dan apa itu balik modal, keuntungan bersih, keuntungan apa.

Jadinya gue miris dengarnya: “Ah, serius Pak? Bapak cuma dapat segini banyak?” Kalau gue lihat, kebunnya gede. Kalau dikelola sama orang kota, itu sudah bisa buat menghidupkan anaknya dan sekolah di tempat lumayan. Maksudnya, lu juga pasti sering dengar cerita kayak orang-orang kota yang punya lahan doang di Bogor atau di mana. Itu bisnis bapaknya dan keluarganya hidup dari situ. Dan lahan-lahan di sana segede itu.

Baca juga:  Pangalo! Dan Katalog Funk Indonesia Yang Malu-Malu

Cuma, kenapa ini orang bentuk rumahnya seperti ini, tinggal seperti ini? Lu harus gabungkan bak mandi sama kolam lelenya. Gue enggak habis pikir. Pas dia omong kayak begitu, jadi masuk akal juga. Semuanya dikelola sama orang lain. Pas gue tanya, “Ini tanahnya punya siapa?”, punya mereka. Makanya gue bingung, apa yang lu punya sendiri tapi yang diuntungkan bukan lu.

Kalimat itu keluar di situ: “Lauk, jok mobil, motor, itu semua mungkin punya saya.” Maksudnya enggak secara literal, cuma maksud dia kayak, “Kontribusi gue buat pembangunan kota seperti itu. Cuma, kenapa sampai sekarang anak gue masih harus bolak-balik delapan kilo kalau mau ke sekolahnya? Kenapa jalannya bentuknya masih kayak ini?” Itu ada lubang yang kalau mobil kena situ ban pecah. Gede banget, dan itu makan tiga perempat jalannya. Buat pegunungan kecil yang banyak bikin ternak dan punya kebun di sana, sumber uangnya dari sana, kenapa akses ke sananya enggak pernah dibenarkan? Gue enggak habis pikir, waktu itu.

Baca juga:  Pemilu 2019: Kenapa Seniman Harus Netral?

Itu semua gue catat waktu itu, karena memang tugas buat sekolah gue. Jurnalnya hilang, cuma kalimat itu gue ingat persis, dan di luar dugaan pas gue coba-coba cari kontaknya, masih ada. Gue SMS, gue telepon, terus kayak, “Ya sudah, silakan. Enggak apa-apa.” Lagi-lagi, hal ini gue lakukan karena kalau ada yang bilang, “Lu enggak pantas omong kayak ini. Lu ke kantor naik mobil, keluarga lu mapan.” Ya, gue tahu gue enggak pantas.

Makanya itu bukan kalimat gue. Gue cuma kasih lagu ke kalimat yang dibicarakan sama mereka. Dan lagi-lagi gue bilang, gue bawa ini karena ini penting. Ini kejadian benaran. Lu mau batu-batuan ama gue, kayak, “Lu enggak pantas omong ini,” ayo, gue punya ceritanya. Gue kenalkan ke bapaknya, bisa. Ini masih kejadian. Itu saja sih kalau dari gue.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Comments
Previous articlePetuah Kehidupan Vira Talisa
Next articleIri Hati Ala Monkey To Millionaire
mm
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?