Feast, Para Pembawa Pesan

Oct 15, 2018

Akhirnya dari situ keluar, gue jadi ingat semua yang ingin gue tulis selama ini. Tapi kekhawatirannya sama: gue enggak mau banget ini jadi apropriasi. Akhirnya gue bilang ke anak-anak, “Kasih gue waktu satu malam lagi, gue minta izin dulu ke semuanya. Gue atur obrolannya, sembari musiknya juga gue matangkan pre-production. Bagaimana kalau kita bikin proyek khusus buat ini?” Responsnya positif semua. Ya, akhirnya gue jalan, lah. Gue mengobrol dengan mereka.

Gue enggak pernah mengira tahun ini mengeluarkan album. Mungkin kayak single lepasan doang. Tiba-tiba jadi sesuatu yang lumayan gede. Mungkin secara jumlah lagu enggak sebanyak album pertama, cuma gue lihat muatan yang ada di sini…kayak gue bawa muatan orang. Makanya gue sangat takut pas menulis ini, kayak, “Ini apropriasi apa nggak? Gue orang yang pantas buat omong ini apa enggak?” Walaupun akhirnya PR (pekerjaan rumah)-nya banyak, gue kebut semua, kena semua. Jadinya lima lagu ini.

Ada rasa urgensi apa untuk mengeluarkan semua ini secepatnya? Kalau “Peradaban” mungkin mumpung insidennya masih segar di ingatan. Yang lainnya? Apa yang mendorong untuk mengeluarkan kumpulan karya ini?
Gue melihatnya begini sama anak-anak. Dengan konsep seperti ini, dan kebetulan penciptaan dan produksinya tahun 2018, gue berpikir kalau ini gue tahan, gue bikin album penuh dan keluar 2019…gue enggak tahu, ya. Mungkin ini ketakutan yang enggak berdasar saja, cuma gue jadi takut materi-materi gue ditunggangi orang, karena tahun depan tahun politik. Dan kalau gue tunggu sampai itu semua mereda, kelamaan buat gue. Umur segitu, menurut gue, seharusnya gue sudah bikin album penuh kedua.

Jadinya gue bilang, “Now or never.” Anak-anak sempat agak ragu, yang kayak, “Enggak deh, kayaknya kita 1-2 single saja. Multiverses kemarin umurnya masih terlalu muda, lu masih harus kasih waktu buat orang mencerna itu.” Secara internal, gue menyarankan teman-teman gue untuk mengeluarkan ini bukan karena pertimbangan marketing, bukan karena pertimbangan brand. Gue mau membawakan ini setahun ke depan karena menurut gue ini penting buat sekarang. Agak alot awalnya; satu malam itu satu malam yang sangat alot secara internal, sampai akhirnya, “Ya sudah, kalau memang lu yakin sama itu, kerjakanlah. Yakinkan kami.” Dan akhirnya jadi.

Feast di Synchronize Fest 2018 / dok.Pohan

Semua lirik dan tema-temanya benar-benar berbagai keresahan yang dirasakan secara pribadi, tapi bagaimana pun juga ini mewakili band. Apakah ada kekhawatiran bahwa apa yang ingin disampaikan tidak dirasakan juga oleh anggota yang lain? Apakah harus meyakinkan mereka untuk bisa sevisi, baru berani untuk jalan atas nama Feast?
Pas pertama kali baru jadi 1-2 lagu, dan memang karena awalnya berencana 1-2 lagu kan, itu seragam lah, semua yang kami rasakan secara internal. Kami ingin menulis ini dan semuanya mufakat untuk itu. Enggak ada yang benar-benar berseberangan, kayak, “Kayaknya enggak menulis tentang ini, deh. Menurut gue ini enggak ada urgensinya.” Cuma, tetap ada proses di mana gue menceritakan ke mereka.

Misalnya di “Padi Milik Rakyat”, itu pengalaman pribadi gue. Sesuatu yang pas “Peradaban” lahir, gue langsung ingat momen itu lagi dan kayak, “Oh, gue ingin menulis tentang ini. Gue mau kontak dia lagi, gue ingin menulis tentang ini lagi.” Cuma, lagi-lagi karena mereka enggak pernah merasakan itu, mereka enggak kenal si bapak ini siapa, gue harus mengobrol ke mereka kayak, “Ini lo, maksud gue. Gue pernah dapat ide karena dulu gue kayak begini.” Gue menceritakan itu. Akhirnya, setelah semuanya dijelaskan dengan apa yang ingin gue sampaikan, semuanya kayak, “Oh, iya.” Kami setuju kalau itu penting. Cuma, tetap harus ada proses itu, awalnya.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Penulis
Hasief Ardiasyah
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?

Eksplor konten lain Pophariini

Daftar Musisi Indonesia yang Gila Bola

Pophariini mencari dan menemukan musisi Indonesia yang terlihat memang gila bola. Siapa saja? Simak daftar kami kali ini ya. 

Nadin Amizah Tayangkan Ulang Konser Tunggalnya

Selang setahun, Nadin Amizah memutuskan untuk menayangkan ulang konser tunggalnya yang sudah bisa disimak melalui kanal YouTubenya.