Feast, Para Pembawa Pesan

20532

Mungkin ada persamaan dengan Cholil Mahmud di Efek Rumah Kaca. Kalau ingin mengangkat topik, dia juga tidak ingin anggota bandnya ikut terseret konsekuensinya kalau mereka tidak setuju seratus persen.
Kami sih seratus persen setuju semuanya. Cuma, kalau dibilang enggak ada keresahan atau ketakutan sama konsekuensinya, bohong, lah. Suka ada bercanda internal, kayak, “Kalau misalnya kenapa-kenapa, narahubungnya gue, nih!” [Tertawa] Terus Adnan bilang, “Gue sih kalau ditangkap tinggal bilang yang menulis lirik di Bintaro, enggak di sini!” [Tertawa] Terlepas dari bercandaan itu, fakta bahwa anak-anak kasih lampu hijau semua – “Oke, gue yakin sama materi ini, gue mau ini bisa didengar sama ribuan orang” – itu memperlihatkan kalau mereka merasa ini penting dan gue siap dengan apa pun sehabis ini.

Berapa lama bikin lagu-lagu ini dari nol sampai jadi?
Dua malam sih, sebenarnya. Benar-benar dua malam doang. Kami ada proses memoles semua materinya lagi. Satu setengah bulan, cuma itu sudah sama rekaman dan poles semuanya. Cuma, buat gue ketemu kunci pertamanya apa dan ditutup dengan nada seperti apa, outro-nya berapa panjang, jedanya berapa panjang, itu benar-benar cuma dua malam. Ada yang sangat berubah sih, cuma semuanya, lima-limanya, dua malam itu. Gue enggak tahu kesurupan apa saat itu, cuma gue bisa kelarkan ini semua dalam waktu dua malam. Walaupun waktu itu liriknya belum ada, gue sudah tahu ini mengomongkan apa. Itu yang bikin gue yakin kalau, “Oh, ini penting.” Gue menulis sudah kayak air. Berarti memang sudah ada, tinggal dikeluarkan.

Gue percaya misalnya mengada-ada apa pun yang ingin gue omong, pasti enggak bakal secepat itu kelarnya. Maksudnya, dibandingkan dengan Multiverses, itu pun menurut gue penting, cuma mungkin investasi dari hati gue yang gue taruh di situ beda. Di situ gue pikir, “Ini album pertama, harus ada pembuktian banget.” Pikirnya lebih aspek itu, gue enggak bisa bohong. Penulisannya jadi hitungan tahun, agak lama. Beda sama sekarang. Mungkin justru karena waktu itu menggali sendiri apa yang ingin gue omongkan.

“Gue menulis sudah kayak air”

Sekarang ini lima-limanya benar-benar apa yang kejadian, apa yang gue rasakan, apa yang orang pernah omong ke gue terus kena. Kayak pertama kali gue dengar cerita si bapak (di Wonogiri), atau pertama kali gue lagi makan sate dekat rumah gue, terus dia bilang, “Orang kira kita lupa, kali ya.” Gue pikir, “Anjing, pintar ternyata si tukang sate.” Gue enggak menyangka. Memori-memori kayak itu keluar lagi semuanya. Terus gue mau menulis ini. Beberapa yang bisa gue kontak lagi, gue ajak mengobrol lagi dan jadi. Kurang lebih begitu.

Baca juga:  M Bloc's Emerging Showcase : Wadah Bagi Para Debutan

Bisa dibilang Multiverses adalah hasil proses sekian tahun, dan karena itu album pertama kalian ingin memasukkan semuanya ke dalam. Mungkin karena di bawah alam sadar merasa takkan ada kesempatan lagi. Sedangkan mini-album ini adalah apa yang ada sekarang langsung dikeluarkan, sehingga menjadi lebih fokus.
Mungkin, karena reaktif banget. Ada yang sadar momen di YouTube, di video vertikalnya “Peradaban”, ada cuplikan Indonesia kalah sama Malaysia. Itu kejadian kemarin, videonya beredar hari ini. Tapi memang prosesnya benar-benar seperti itu.

Kalau ada yang bilang lu sebagai seniman, ya enggak salah reaktif. Cuma, jadi kesannya enggak tulus karena lu merespons aja. Tapi menurut gue, konsep dari mini-album ini, dorong utamanya memang respons motorik, reaktif. Kayak baca berita, terus gue dalam hati cuma omong, “Anjing, lu!”, terus gue ingin menulis itu, dan akhirnya keluar. Makanya cepat, sih.