Feast, Para Pembawa Pesan

20532

Apa pertimbangan mengutip lirik dari “Taifun”? Apakah memang mengincar lirik itu secara spesifik karena tahu cerita di balik lagu itu?
Sejujurnya gue enggak pernah ngobrol sama Iga, “Taifun” itu tentang apa. Maksudnya, gue ama Iga jarang banget omong lagu Barasuara. Kalau gue ketemu ama dia kayak, ya sudah, mengobrol saja. Omongkan hal-hal yang enggak penting, atau mungkin penting cuma bukan tentang lagu-lagu Bara.

Cuman, pas gue pertama kali dengar “Taifun”, yang gue ingat Raafi waktu itu. Waktu itu langsung ada keinginan, gue mau pakai lirik bagian itu: “Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati.” Dan itu jadi kalimat terakhir dari album ini, di lagu terakhir kan. Yang menurut gue sempurna, pas banget.

Iga Massardi dari Barasuara / Foto: dok. istimewa

Gue rekam dulu, baru minggu depannya gue kontak Iga: “Ga, gue mau sample ‘Taifun’ ya.” “Oke, kirim ke gue lagunya.” Gue kirim, terus dia dengar juga di studionya Tama, di Soundpole. Dia tanya, “Mana sample gue?” “Itu lirik lu, gila!” “Oh iya, benar juga.” Cuman ya, seyakin itu sih waktu gue pakai penggalan interpolasi “Taifun” di bagian situ. Lebih ke apa yang gue rasakan waktu pertama kali gue dengar “Taifun” saja.

“Taifun” sama “Hagia”, buat gue, kayak feel-nya sama. Dan sebenarnya mungkin secara tidak langsung – kalau “Hagia” kan dari Doa Bapa Kami – bagian itu mirip sebenarnya sama chorus-nya “Berita Kehilangan”. Sama juga.

Tahu “Taifun” itu tentang apa?
Enggak tahu gue.

Itu lagu untuk anaknya Iga.
[Tertegun]

Sangat kebetulan, seperti sudah diatur untuk dimasukkan ke lagu tentang orang kehilangan anak.
Jadi makin ada bebannya gue dengar kayak gini, kayak, “Anjing!” Aduh. Gue halo-halo (menelepon) dulu ama Iga entar!

Baca juga:  Menonton Konser Seharusnya Aman Untuk Semua