10 Album Indonesia Terbaik 2019 Versi Pop Hari Ini

2395

Musik tahun 2019 ditutup dengan menarik. Solois pria masih bermunculan, meskipun kebanyakan bukan wajah baru. Begitu pula dengan konsistensi grup musik/band di skena arus samping (independen). Mereka tumbuh dan merilis album dan rekaman-rekaman yang menarik.

Hal ini berbanding terbalik dengan arus utama yang sayangnya minim wajah baru yang menggebrak. Hingga kini, arus utama masih didominasi nama besar seperti Slank, GIGI, Sheila on 7. Namun bicara arus utama, salah satu solois perempuan di arus utama pun melakukan gebrakan ciamik dengan merilis albu ketiganya yang di luar kebiasaan. Dialah Isyana Sarasvati dengan album LEXICON.

Penting dicatat kesehatan mental juga menjadi isu yang kerap muncul di akhir dekade 2010. Dimulai tahun lalu dengan Mantra Mantra-nya Kunto Aji. Lalu bagaikan maraton, tongkat estafet terus bergulir. Beberapa musisi kerap mengusung tema ini. Yang dominan tentu Hindia dengan album perdananya Menari Dengan Bayangan, juga Isyana yang membicarakan hal yang sama melalu salah satu lagunya di album terbarunya.

Yang pasti selama ini, termasuk di tahun 2019, Pop Hari Ini berusaha konsisten menulis resensi album-album Indonesia yang kami anggap menarik dan layak untuk disebarluaskan. Sehingga ketika di akhir tahun kami di redaksi harus membuat daftar album paling menarik di sepanjang tahun 2019 kemarin, sebagian besar dari album yang kami ulas masuk ke dalam daftar ini.

Silahkan disimak ini 10 Album Indonesia Terbaik Pilihan Pop Hari Ini, serta tidak lupa menyertakan 5 album mini pilihan kami juga. Dari pop, rock, rock-opera, folk, delta-blues, jazz, metal dan hip hop. 2019 menutup dekade 2010 dengan sangat menarik!


1. Isyana Sarasvati – LEXICON

Album ketiga yang dirilis di penghujung 2019 ini mengejutkan banyak pihak. Karena meramu genre musik opera/klasik dengan rock/metal, dengan skill dan aransemen yang mumpuni serta mengangkat tema yang sangat personal. LEXICON masih menawarkan denting piano dan liukan vokal Isyan. Namun kali ini minus nuansa pop-urban, R&B dan irama joget-able yang sebelumnya menjadi ciri Isyan. Gantinya kita akan disajikan nada-nada musik klasik era Victoria yang bahkan dibalut sentuhan rock/metal yang mengingatkan pada musik opera ala Queen.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

2. Hindia – Menari Dalam Bayangan

Menari Dengan Bayangan bagaikan versi agresif dari album Mantra Mantra-nya Kunto Aji. Menari punya beberapa hal menarik: diksi penulisan lirik yang acak seperti kolase, pemaknaan lirik ke sana kemari juga manuver vokal yang bisa menggeram sekaligus, santai dan bijak. Musiknya pun ramai. Dari bebunyian masinal hingga instrumen live riuh dengan solo gitar juga musik akustik balada. Semuanya komplit disajikan di album ini dengan bingkai musik pop ala Hindia (atau, bolehkah kita sebut: Hindia-pop?).

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

3. Tuan Tigabelas – Harimau Soematra

Tak dapat dipungkiri, ‘dukungan semesta’ yang ada, yakni para kolaborator yang terlibat menjadikan Harimau Soematra sebuah debut yang utuh dan solid. Setiap jengkal lirik yang ditembakkan tepat sasaran, terkhusus “Last Roar” yang memang punya daya magisnya sebagai satu dari komposisi kritik favorit kami di tahun ini.

 

4. The Adams – Agterplaas

Agterplaas adalah album yang bisa memuaskan semua pihak. Antara menyeimbangkan ambisi pribadi musisinya, menjawab ‘tantangan’ kritikus, di satu sisi memanjakan fans. Untuk fans, album ini jelas bisa menyumbangkan lagu-lagu baru, lagu-lagu eargasm ke dalam setlist panggung mereka selanjutnya. Dan untuk kritikus yang biasanya ingin sesuatu yang ‘berbeda dari album terdahlu’ pasti akan dibuat tersenyum bagaimana lewat Agteplaas, The Adams bisa menjadi sedemikan kompleks dan lenturnya.