10 Album Indonesia Terbaik 2019 Versi Pop Hari Ini

• Jan 1, 2020

Musik tahun 2019 ditutup dengan menarik. Solois pria masih bermunculan, meskipun kebanyakan bukan wajah baru. Begitu pula dengan konsistensi grup musik/band di skena arus samping (independen). Mereka tumbuh dan merilis album dan rekaman-rekaman yang menarik.

Hal ini berbanding terbalik dengan arus utama yang sayangnya minim wajah baru yang menggebrak. Hingga kini, arus utama masih didominasi nama besar seperti Slank, GIGI, Sheila on 7. Namun bicara arus utama, salah satu solois perempuan di arus utama pun melakukan gebrakan ciamik dengan merilis albu ketiganya yang di luar kebiasaan. Dialah Isyana Sarasvati dengan album LEXICON.

Penting dicatat kesehatan mental juga menjadi isu yang kerap muncul di akhir dekade 2010. Dimulai tahun lalu dengan Mantra Mantra-nya Kunto Aji. Lalu bagaikan maraton, tongkat estafet terus bergulir. Beberapa musisi kerap mengusung tema ini. Yang dominan tentu Hindia dengan album perdananya Menari Dengan Bayangan, juga Isyana yang membicarakan hal yang sama melalu salah satu lagunya di album terbarunya.

Yang pasti selama ini, termasuk di tahun 2019, Pop Hari Ini berusaha konsisten menulis resensi album-album Indonesia yang kami anggap menarik dan layak untuk disebarluaskan. Sehingga ketika di akhir tahun kami di redaksi harus membuat daftar album paling menarik di sepanjang tahun 2019 kemarin, sebagian besar dari album yang kami ulas masuk ke dalam daftar ini.

Silahkan disimak ini 10 Album Indonesia Terbaik Pilihan Pop Hari Ini, serta tidak lupa menyertakan 5 album mini pilihan kami juga. Dari pop, rock, rock-opera, folk, delta-blues, jazz, metal dan hip hop. 2019 menutup dekade 2010 dengan sangat menarik!


1. Isyana Sarasvati – LEXICON

Album ketiga yang dirilis di penghujung 2019 ini mengejutkan banyak pihak. Karena meramu genre musik opera/klasik dengan rock/metal, dengan skill dan aransemen yang mumpuni serta mengangkat tema yang sangat personal. LEXICON masih menawarkan denting piano dan liukan vokal Isyan. Namun kali ini minus nuansa pop-urban, R&B dan irama joget-able yang sebelumnya menjadi ciri Isyan. Gantinya kita akan disajikan nada-nada musik klasik era Victoria yang bahkan dibalut sentuhan rock/metal yang mengingatkan pada musik opera ala Queen.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

2. Hindia – Menari Dalam Bayangan

Menari Dengan Bayangan bagaikan versi agresif dari album Mantra Mantra-nya Kunto Aji. Menari punya beberapa hal menarik: diksi penulisan lirik yang acak seperti kolase, pemaknaan lirik ke sana kemari juga manuver vokal yang bisa menggeram sekaligus, santai dan bijak. Musiknya pun ramai. Dari bebunyian masinal hingga instrumen live riuh dengan solo gitar juga musik akustik balada. Semuanya komplit disajikan di album ini dengan bingkai musik pop ala Hindia (atau, bolehkah kita sebut: Hindia-pop?).

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

3. Tuan Tigabelas – Harimau Soematra

Tak dapat dipungkiri, ‘dukungan semesta’ yang ada, yakni para kolaborator yang terlibat menjadikan Harimau Soematra sebuah debut yang utuh dan solid. Setiap jengkal lirik yang ditembakkan tepat sasaran, terkhusus “Last Roar” yang memang punya daya magisnya sebagai satu dari komposisi kritik favorit kami di tahun ini.

 

4. The Adams – Agterplaas

Agterplaas adalah album yang bisa memuaskan semua pihak. Antara menyeimbangkan ambisi pribadi musisinya, menjawab ‘tantangan’ kritikus, di satu sisi memanjakan fans. Untuk fans, album ini jelas bisa menyumbangkan lagu-lagu baru, lagu-lagu eargasm ke dalam setlist panggung mereka selanjutnya. Dan untuk kritikus yang biasanya ingin sesuatu yang ‘berbeda dari album terdahlu’ pasti akan dibuat tersenyum bagaimana lewat Agteplaas, The Adams bisa menjadi sedemikan kompleks dan lenturnya.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

5. Elephant Kind – The Greatest Ever

Secara keseluruhan, band dengan vokalis pria yang bisa bernyanyi apalagi dengan cengkok R&B adalah harta karun yang sangat langka dalam musik independen Indonesia. Ditambah drummer Bayu Adisapoetra yang selalu bermain pukulan-pukulan primitif yang meriah dan selalu memancing badan bergoyang. Kombinasi tersebut jadi 2 aset utama Elephant Kind saat ini. Dan semua itu disempurnakan oleh kehadiran bassist baru Kevin Septanto yang merespon groove yang diciptakan Bayu dengan baik membuat chemistry dan musik Elephant Kind di album ini terasa solid dan sulit dicari tandingannya.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

6. Kurosuke – The Tales Of Roses & Wine

Sulit menolak kehadiran sosok Kurosuke dengan vokal baritonnya yang bernyanyi hangat. Selain vokal yang keren, The Tales juga menghadirkan musik up beat maupun bertempo lambat dan gloomy yang menarik untuk disimak. Dan semua hal itu tetap disajikan dengan sangat nikmat dan menawan melalui aransemen yang sangat berjodoh untuk menemani perjalanan dengan kendaraan di bawah lampu-lampu kota ini.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

7. Kimokal – Aries

Aries membawa warna baru bagi KimoKal, sebuah album yang menyajikan menu berupa letupan-letupan suara dan beragam dentuman di atas meja yang berbeda dari debut O yang cenderung mencari-cari kematangan karakter. Lewat keberanian dan kematangan songwriting serta produksi rekaman di Aries, Kimokal sudah memperlihatkan keutuhan jatidiri musiknya.

 

8. Ssslothhh – Celestial Verses 

Harus diakui, Celestial Verses adalah sebuah comeback yang sukses, sebuah album yang membuat bulu kuduk kami berdiri akibat segenap gagasan soal sound, aransemen yang ditawarkan band sludge metal asal Bandung ini. Menyimak setiap inci suasana musik mereka yang lebih emosional, tak terkecuali tarikan vokal yang berkarat ibarat naik pesawat terbang di atas bumi yang sedang kiamat. Terlalu sulit untuk dilukiskan, terlalu gila untuk dibayangkan.

 

9. Texpack – Spin Your Wheels

Lebih dari sebuah ‘guitar album‘ terbaik, Spin Your Wheels juga adalah album terbaik, album ini punya semuanya. Terlepas dari membicarakan pengaruh-pengaruh yang diraup kemudian dimuntahkan dalam songwriting dan notasi-notasi yang keren, Spin Your Wheels punya karakter matang yang membuat saya langsung menaruh lampu sorot.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

10. Made Mawut – Merdeka 100 % 

Koreksi jika saya salah, namun lirik blues Indonesia belum pernah terdengar sebegitu menarik ini. Bagaikan mendengar sang legenda Benyamin S. bernyanyi blues tentang keseharian dengan gitar dobro dan besi slide di tangan. Bisa puitis dan jenaka tapi namun tetap kritis. Dan yang terpenting, sangat soulful!

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

Honorable Mention: Album Mini Yang Tidak Boleh Dilewatkan Di 2019
Tahun 2019 juga dihiasi dengan munculnya banyak album mini. Selalu ada alasan khusus mengapa para musisi ini lebih memilih mengeluarkan 4-6 lagu ketimbang album penuh. Apakah alasan unjuk perkenalan, kepentingan konseptual atau hanyalah jembatan kepada sesuatu yang menarik berikutnya. Berikut ini 5 album mini yang tidak boleh dilewatkan di tahun 2019.

 

1. Duara – Flights of Imagination

Apa yang membuat kami sebegitu kesengsemnya kepada Duara bukan karena ada sesuatu di musik mereka yang bagus yang menyegarkan. Terlebih dari itu, vokal menggoda perempuan di ujung mikrofon itu ditengarai menjadi biang keladinya. Belum dengan gagasan komposisi-komposisi yang celakanya, membuat kami setuju dan tersapu oleh keindahan melodi dan ragam emosi yang ditawarkan. Duara akan selalu bisa menjadi cinta pertama bagi siapa saja.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

2. Sir Dandy -Intermediate 

Menawarkan realita kehidupan sehari-hari yang apa adanya dan dibungkus dengan lirik humoris dan musik dengan liukan ke sana kemari. Uniknya, semua kombinasi itu justru membuat Sir Dandy mempunyai bahasa sendiri untuk menyampaikan isi kepalanya, menjadi sosok pengamat kehidupan perkotaan masa kini yang sudah berbalut internet dan teknologi. Plus, lewat Intermediate, vokalis Teenage Death Star ini telah sukses mengembalikan musik pada esensinya kalau bermain musik itu memang seharusnya fun.

Simak resensi penuhnya di sini

 

3. Pijar – Antologi Rasa

Trio paling produktif di 2019. Merilis 2 album mini OST film berjudul sama, Antologi Rasa dan Perpetual yang merupakan OST film Single Part 2. Keduanya dirilis di tahun 2019. Meskipun Perpetual juga menarik, tapi kami harus memberikan lampu sorot untuk Antologi Rasa. TItik di mana Pijar betul bersinar dengan lirik bahasa Indonesia yang puitis dan tidak murahan, serta kehadiran produser Randy Danishta (Nidji/Random Brothers) dan Nara Anindyaguna yang tepat di tiga album sebelumnya.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

4. Danilla – Fingers 

Album ini Fingers yang lebih minimalis dan menenangkan ini menandai babak baru Danilla selain sebagai penyanyi, gitaris dan produser. Karena semua layer instrumen gitar di album ini dimainkan dan diaransemen sendiri olehnya. Soal aransemen ini juga patut digaris bawahi. Karena langkah besar lainnya adalah ia mengaransemen dan menjadi produser tunggal album mininya ini sendiri.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

5. Eva Celia – Lifeline Introduction

Ketika Eva memutuskan untuk memberi lebih banyak ramuan groove yang joget-able pada lagu-lagu jazzy di mini album terbarunya. Dan hasilnya memuaskan. Dengan produksi dan mixing yang terdengar sophisticated, satu-satunya kekurangan album mini ini adalah lagu-lagunya kurang banyak! Jadi, bolehkah kami berharap ada album penuh di 2020?

 

_____

Eksplor konten lain Pophariini

Rub of Rub – Fluktuasi

Untuk mengisi malam-malam hening, memutar Fluktuasi dari Rub of Rub amat sangat direkomendasikan untuk siapapun yang ingin ‘rileks’.

Celotehan-Celotehan Bahaya BAP Lewat “PAINTING WITH SUWAGE”

BAP alias Kareem Soenharjo resmi melepas materi teranyarnya, “PAINTING WITH SUWAGE” yang juga akan menjadi pembuka dari album terbarunya kelak.