758

Kaleidoskop Musik Indonesia 2019 versi Pop Hari Ini

Kaleidoskop Musik Indonesia 2019 / dok. Pop Hari Ini

Setiap tahun, termasuk tahun 2019 kemarin adalah tahun yang sangat berkesan bagi semua orang di segala bidang kehidupan, termasuk musik Indonesia.

Musik Indonesia 2019 mencatat sebuah dinamika peristiwa yang terjadi. Tak jauh beda dengan tahun berikutnya, selalu ada peristiwa yang kerap terjadi. Dari album baru, konser yang berkesan, musisi yang undur diri sampai cerita kemarahan dan kesedihan semua ada di tahun ini. Sedikit catatan, di tahun ini ada banyak musisi yang dipanggil oleh YME. Untuk itu kami memberikan kolom khusus bagi mereka yang bukan di artikel ini.

Musik Indonesia tahun ini juga kerap bersinggungan dengan ranah lain, terkhusus kebijakan pemerintah, menyusul penolakan beberapa pekerja seni dengan Rancangan Undang-undang Permusikan dan RUU KPK yang berimbas kepada ‘penjemputan’ salah satu musisi Indonesia, semua diceritakan oleh kami di tiap artikelnya.

Lewat Kaleidoskop Musik Indonesia dalam tema besar PHI Kaleidospop 2019, Pop Hari Ini mencoba merangkum semua cerita seru, sedih dan senang ini kepada pembaca setia sekalian. Inilah wajah Musik Indonesia 2019 dalam kenangan.

Baca juga:  Menonton Konser Seharusnya Aman Untuk Semua

Selamat menikmati


 

J A N U A R I

Kembalinya Humania

Duo Humania. EQ Puradiredja dan Heru Singgih. Foto: dok. Humania

Januari 2019 mencatat kembalinya duo Humania, salah satu pelopor nu-jazz di Indonesia di 90-an. Mereka muncul membawakan ulang lagu “Waktu Kian Berarti” milik Chaisero yang menjadi bonus track di album kompilasi penghargaan untuk Candra Darusman bertajuk Detik Waktu: Perjalanan Karya Candra Darusman. Setelah proyek ini, duo yang berawakkan EQ dan Heru ini juga telah merilis beberapa singel terbaru. Plus, tiga album Humania telah tersedia di seluruh layanan streaming digital.

 

Panasnya RUU Permusikan

dok.tolakruupermusikan.com

Draft RUU Permusikan sepertinya menelorkan bukan polemik tapi pertanyaan dan penolakan dari sejumlah musisi terhadap musik, hal dasar yang menjadi kecintaan dan sumber penghidupan mereka. Sejak akun twitter Billboard Indonesia pertama kali mengunggah draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan lalu di retweet oleh khalayak ramai, seperti bola salju timbul keramaian di linimasa yang berisi soal penolakan dari sejumlah musisi terhadap Rancangan RUU Permusikan ini.

Baca juga:  Panduan Lagu Esensial Untuk Menonton Noah Di Synchronize 2019

 

F E B R U A R I 

 

Agterplaas, Penantian 13 tahun 

The Adams dan Agterplaas (dipegang Saleh Husein) / foto: Pohan.

Tahun 2019 menjadi muara dari penantian The Adams yang vakum dalam membuat karya-karya terbarunya selama 13 tahun. Dan Februari ini, The Adams melepas Agterplaas, album terbaru mereka sekaligus obat dahaga dari fans yang menantikan karya-karya terbaru kuartet pop rock asal Jakarta ini.

 

(Lagi) Musisi Indonesia Rekaman di Abbey Road

Berfoto di depan studio Abbey Road bersama sebelum sesi rekaman pada Rabu (13/2) / dok. Maliq & D’Essentials

Satu minggu di bulan Februari ini menjadi hari-hari yang tak akan terlupakan bagi grup band Maliq & D’Essentials. Saat itu mereka tengah di London, Inggris untuk merekam album mereka di salah satu studio legendaris dunia, Abbey Road. Selama seminggu dari tanggal 10 – 18 Februari ini mereka habiskan di Abbey Road untuk merekam secara live lagu-lagu terbaik mereka dalam album yang bertajuk The Essential Hits – Recorded Live in London. Album ini juga sekaligus kado atau persembahan atas 17 tahun perjalanan karier band ini. Maliq & D’Essentials menambah satu lagi musisi tanah air yang berhasil merekam lagunya di Abbey Road, dari J-Rocks, Gigi sampai Indische Party.